Absurditas Isra Miraj

Ocit Abdurrosyid Siddiq

“Apakah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu tahu, berapa lama Rosulullah SAW melaksanakan Isra dan Miraj? Dari Masjid Haram ke Masjid Aqso. Lalu diteruskan dari Masjid Aqso ke Sidratil Muntaha di langit ketujuh. Lalu turun lagi ke Aqso. Kemudian lanjut ke Harom. Dan pulang ke rumahnya?”.

Demikian pertanyaan sang penceramah asal Sukabumi ini, yang menjadi selingan dalam acara peringatan Isra Miraj yang digelar di sebuah mesjid depan rumah ibu di kampung saya di Lebak Selatan, beberapa hari lalu. Sang penceramah melanjutkan pertanyaannya, “Berapa lama Bapak dan Ibu? Apakah satu malam? Bukan!”.

Lalu dia menjawabnya sendiri dengan mengatakan, “Yang jelas, ketika Rosulullah SAW pergi ke Harom lalu ke Aqsa kemudian naik ke langit ketujuh, dan ketika kembali ke rumahnya, kasurnya masih dalam keadaan hangat persis seperti ketika beliau pergi. Itu artinya, beliau melakukan perjalanan itu bukan dalam waktu satu malam. Tapi hanya sebentar saja”.
*

Isra dan Miraj merupakan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam, dari Masjid Haram di Mekah ke Masjid Aqsa di Yerusalem Palestina. Perjalanan dilanjutkan dari Masjid Aqsa ke Sidratil Muntaha, sebuah tempat di luar bumi.

Di tempat itu, Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan Allah SWT. Saat pergi dan pulang, beliau bersua dengan beberapa nabi sebelumnya. Ada banyak cerita yang disampaikan oleh mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Termasuk mendapatkan gambaran tentang suasana surga dan neraka.

Perjalanan pergi pulang dalam satu malam ini berbuah mandat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya berupa perintah mendirikan solat lima waktu. Jumlah waktu solat hasil negosiasi Nabi Muhammad SAW lewat arahan para nabi seniornya.

Setidaknya, demikianlah keyakinan umat Islam terhadap Isra dan Miraj. Perkara apakah peristiwa itu benar-benar dialami dan dilakukan secara fisik, bahwa jasad tubuh beliau yang bergeser dan berpindah, ataukah hanya berupa perjalanan secara ruhani, itu tidak menjadi persoalan.

Mengapa mesti ada pertanyaan seperti itu? Ya karena secara logika tidak mungkin ada perjalanan yang begitu jauh dari Mekah ke Palestina, lalu menuju angkasa menembus atmosfir, dan kembali lagi ke bumi, hanya dalam waktu satu malam. Bahkan menurut sang penceramah itu, hanya sebentar saja. Tidak sampai satu malam penuh.

Sebagian orang berkeyakinan bahwa peristiwa itu hanyalah perjalanan ruhani. Sebagian lagi berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar melakukan perjalanan itu secara fisik. Artinya, yang berangkat ke Palestina lalu mengangkasa adalah benar-benar raga beliau.

Peristiwa Isra Miraj bila ditinjau dari perspektif dan pendekatan ilmu pengetahuan ilmiah yang logis dan empiris, memang tidak akan mendapatkan rasionalisasi dan bukti. Akan ada banyak hukum alam yang secara saintis bertentangan dengannya. Isra Miraj merupakan peristiwa absurd dalam perspektif ilmu pengetahuan.

Tetapi dalam keyakinan beragama, tidak setiap yang benar ukurannya adalah logika, bukti, dan atau ilmu. Dalam agama ada keyakinan. Keyakinan ini bukan ilmu. Keyakinan yang dikenal dengan iman inilah alat takarnya. Iman itu tidak rasional, juga tidak empiris. Lalu, apakah yang tidak rasional dan tidak empiris itu salah? Tidak demikian.

Untuk diketahui, pengetahuan manusia itu ada 4 macam, yaitu indera, ilmu, filsafat, dan agama. Pada keempat macam pengetahuan manusia itu ada unsur rasionalitasnya. Termasuk pengetahuan agama. Dalam agama ada banyak ajaran yang rasional.

Tetapi dalam agama juga ada yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia. Apalagi bukti kasat mata. Contohnya seperti peristiwa Isra Miraj ini. Maka, agar doktrin ini bisa diterima dengan benar, caranya adalah dengan menggunakan pendekatan keyakinan atau iman.

Oleh karena itu, untuk pembuktian apakah peritiwa Isra Miraj ini benar-benar terjadi, penceramah agama sebaiknya tidak perlu repot menjelaskan kepada umat dengan mencari pembenaran secara logis. Karena logika apapun yang digunakan untuk menjelaskan Isra Miraj, alih-alih menjadi logis malah bisa menjadi absurd.

Menurut kamus ilmiah, absurd itu adalah situasi atau peristiwa yang terlihat tidak masuk akal, tetapi secara unik atau menyenangkan. Selain itu, penggunaan kata absurd dapat digunakan untuk menyatakan bahwa sesuatu tidak masuk akal atau menggelikan.

Isra Miraj bila didekati dengan cara logika, maka ia akan terasa tidak logis namun menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan? Cerita sang penceramah tentang perjalanan menembus atmosfir dengan buraq yang kecepatannya melebihi Whoosh berikut keseruan perjumpaan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi sebelumnya yang sudah wafat, bak cerita hayalan laksana novel Harry Potter.

Kalau sudah demikian, bukan hanya tidak masuk akal. Bukan hanya menjadi cerita yang menyenangkan. Tetapi juga menggelikan. Menjadi demikian karena pendekatannya adalah logika. Menjadi absurd. Karenanya, memahami Isra Miraj dengan logika merupakan cara yang tidak tepat.

Isra Miraj merupakan perjalanan sakral Nabi Muhammad SAW untuk berjumpa langsung dengan Allah SWT, yang ketika kembali, membawa “oleh-oleh” berupa perintah solat. Kesimpulan ini bisa menjadi benar bila kita menggunakan pendekatan keyakinan atau iman. Dan iman itu tidak harus logis atau masuk akal. Apalagi menuntut pembuktian yang kasat mata.

Peristiwa Isra Miraj walau tidak masuk akal, sebaiknya “iyahin” aja. Mengapa? Karena kalau keukeuh menelitinya dengan pendekatan logika, “sampe botak sariwan moal panggih”. Selain itu, mengiyakan ajaran agama yang tidak rasional dan itu jumlahnya sangat banyak, merupakan manifestasi dari keimanan. Dan iman merupakan ciri utama orang beragama. Wallahualam.
*

Tangerang, Senin, 27 Januari 2025
Penulis adalah alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung, Pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua III Pengurus Besar Mathlaul Anwar, dan Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top