Budaya Literasi, Cinta Dan Peradaban Manusia

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

Secara etimologis (bahasa), bahwa literasi yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “literacy”, yang memiliki makna keberaksaraan atau kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write). Sementara dalam bahasa Latin disebut, “literatus”, yang berarti “a learned person” (orang yang belajar). Sedangkan dalam bahasa Yunani, juga dikenal dengan istilah “literra” (huruf), sehingga literasi melibatkan kemampuan membaca dan menulis. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah literasi ini mengalami perluasan makna, sehingga muncul ragam literasi, seperti literasi dasar, literasi nomerik, literasi perpustakaan, literasi media, dan lain sebagainya. Namun semua itu tidak terlepas dari kemampuan menggali dan mengelola informasi yang sebagian besar melibatkan kemampuan membaca dan menulis. Bahkan, kemajuan dan peradaban suatu bangsa sangat terkait dengan kemampuan literasi. Kita mengenal bangsa-bangsa yang memiliki peradaban besar dalam sejarah, seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani, China dan India. Mereka adalah bangsa-bangsa yang telah memiliki tradisi literasi yang kuat pada zamannya. Budaya literasi yang tinggi pada saat itu membentuk masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Sedangkan pengetahuan adalah kekuatan yang menentukan eksistensi dan kemampuan suatu bangsa dalam persaingan global. Islam sebagai agama yang lahir di tengah-tengah masyarakat yang tidak memiliki budaya baca tulis yang kuat pasa saat itu (abad pertengahan Islam), namun dengan spirit literasi yang digaungkannya, akhirnya telah mampu merubah wajah peradaban Jazirah Arab menjadi peradaban besar, mercusuar dan menggelobal.

Lebih dari itu, bangsa Arab muslim dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi selama berabad-abad akhirnya menguasai dunia dan menjadi poros peradaban pada saat itu. Bahkan, kemajuan dunia yang kita rasakan saat ini, memang tidak lepas dari jasa kemajuan peradaban Islam, yakni ketika di abad pertengahan Islam itu. Meskipun banyak upaya untuk menutupi, jasa Islam dan para penganutnya terhadap kemajuan dunia saat ini, khususnya bagi dunia Barat, tetaplah nyata, bahwa embriotik ilmu pengetahuan itu berasal dari dunia Islam, dan tidak sedikit tokoh Barat yang secara jujur mengakui hal itu. Salah seorang presiden Amerika, Barack Obama mengatakan : “Peradaban berhutang besar pada Islam.” Montgomery Watt juga berkata: “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan oleh peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa.”

Sejak awal kehadirannya, Islam adalah agama yang membangun kesadaran tentang pentingnya kemampuan dan budaya literasi. Bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw berisi perintah membaca (iqra’) dan isyarat pentingnya transfer ilmu pengetahuan melalui budaya menulis (alladzi a’llama bi al-qalam) yang mengajarkan manusia dengan perantaraan pena (QS. Al-Alaq: 4). Perhatian Rasulullah saw terhadap literasi juga sangat jelas dalam rekaman sejarah. Di tengah-tengah masyarakat yang secara umum ummi (buta aksara/illetered), namun Nabi Muhammad saw telah melakukan langkah yang sangat strategis dan futuristik, yaitu ketika melakukan perjanjian dengan 70 tawanan Perang Badar agar mereka mengajarkan baca tulis (literasi dasar) orang Islam sebagai tebusan bagi pembebasan mereka. Satu orang tawanan menjadi guru bagi 10 orang penduduk Madinah, dan dari kebijakan itu telah membebaskan 700 penduduk Madinah dewasa dari buta huruf. Mereka pun kemudian menjadi guru bagi penduduk yang lain. Spirit perintah iqra’ juga telah mendorong orang-orang muslim awal dan pada abad-abad keemasan Islam menjadi dinamo penggerak kemajuan peradaban dunia. Masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam) pada periode Abbasiyah, saat itu ditopang juga oleh tingginya budaya literasi baik dalam bentuk membaca, meneliti, berdiskusi dan menulis. Perpustakaan sebagai jantung pembudayaan literasi mendapat perhatian besar dari para pemimpin muslim pada saat itu.

Bait al-Hikmah dikenal sebagai perpustakaan umum pertama dalam Islam yang didirikan di Baghdad oleh penguasa Abbasiyah, menjadi tempat membaca, berdiskusi dan melakukan aktivitas penerjemahan. Setelah itu muncul berbagai macam perpustakaan yang memiliki koleksi buku dari berbagai jenis ilmu pengetahuan dan dilengkapi dengan fasilitas ruang baca, ruang seminar atau diskusi dan ruang pembelajaran. Di Mesir, pada masa Fathimiyah berdiri perpustakaan “Dar al Hikmah” yang mengoleksi sekitar dua juta judul buku. Di Andalusia (Sepanyol), kaum muslim telah memiliki dua pulu (20) perpustakaan umum. Perpustakaan Cordova misalnya, memiliki koleksi 400.000 judul buku. Sungguh suatu jumlah koleksi buku yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Perpustakaan gereja Canterbury saja yang terbilang paling lengkap pada abad 14 M, hanya memiliki 1800 judul buku menurut catatan Chatolique Encyclopedia. Maka tidak heran dengan budaya literasi yang tinggi, akhirnya bermunculan ilmuan-ilmuan kelas dunia yang karya-karyanya tetap menjadi rujukan hingga zaman sekarang ini seperti Ibnu Sina, al-Kindi, al-Khawarizmi dan lain sebagainya.

II. Semangat Literasi : Upaya Menggapai Kembali Peradaban Islam

Literasi merupakan satu daya untuk memahami isi teks tertulis, baik tersurat maupun tersirat, dan menggunakannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial. Melalui literasi (kemampuan membaca dan menulis), akan mengantarkan pada terbangunnya suatu peradaban yang besar. Sejarah dunia di masa lalu telah menayangkan bukti kongkret atas keberhasilan membangun peradaban berkat intensitasnya di dunia literasi. Sebagai salah satu bukti bahwa literasi merupakan bagian dari pendongkrak yang cukup kuat bagi majunya suatu peradaban adalah hiasan panggung sejarah peradaban Islam di masa lalu, terutama pada abad pertengahan dinasti Abbasiyah. Hal itu bertepatan pada masa pemerintahan Khalifah Abdullah al-Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833 M) sebagai khalifah ketujuh Bani Abbasiyah. Saat itu upaya penulisan dan transliterasi menjadi salah satu perhatian utama oleh pemerintah, bahkan dibentuklah suatu badan yang secara khusus untuk mewadahi proses literasi demi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan sainc saat itu. Badan yang merupakan wadah literasi tersebut dikenal dengan Baitul Hikmah (Darul Hikmah) sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Sehingga, pada masa itulah banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan di beragam bidang; sains, tekhnologi, kedokteran, filsafat, dan lain sebagainya, maka dikenallah saat itu dengan “The Golden Age of Islam” (masa keemasan Islam).

Seiring dengan romantisme sejarah masa lalu, hal itu sebagaimana ditulis oleh Dr. Adian Husaini di dalam bukunya berjudul “10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi Cendikiawan Mulia dan Bahagia”. Bahkan, di abad pertengahan Islam, dunia Barat saat itu berada dalam kondisi yang sangat kontras dengan kehidupan dunia Islam yang oleh orang Barat sendiri dideskripsikan sebagai masa kegelapan, akhirnya tokoh-tokoh agama dan ilmuwan mereka (Barat) banyak mempelajari karya-karya kaum Muslim dan Yahudi yang hidup nyaman dan damai dalam perlindungan masyarakat Muslim. Mereka juga menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Oleh karena itu, Barat kemudian menguasai ilmu pengetahuan modern, karena mereka telah berhasil mentrasfer dan mengembangkan sains dari para ilmuwan Muslim. Sedangksn kebangkitan Barat itu dikenal dengan masa “Renaissance”, masa kelahiran kembali masyarakat Barat. Kebangkitan mereka dapat kita saksikan hingga saat ini dengan segala kemajuannya dalam ilmu pengetahuan. Islam yang sudah sekian lama menjadi adidaya, sejak saat itu secara perlahan tapi pasti, akhirnya diambil alih oleh Barat. Hingga saat ini pun masih dapat kita saksikan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Hal itu terjadi, tidak lepas dari sebab pengabaian terhadap ilmu pengetahuan yang tidak luput dari proses literasi.

Sementara eksistensi pendidikan beserta soliditasnya, sesungguhnya menjadi penentu maju-mundurnya suatu peradaban. Karena ia merupakan pilar kuat di bawah bangunan peradaban tersebut. Sebagian dari indikasi adanya keberlangsungan pendidikan adalah santernya tradisi dan budaya literasi (baca-tulis). Adalah hal yang wajib dalam keberlangsungan proses pendidikan menyediakan waktu khusus untuk membaca, kemudian melestarikannya agar terus menjadi kultur dan tradisi. Karena, dengan tradisi membaca dan menulis (tradisi intelektual) kalau hal itu sudah menjangkiti kembali di relung batin umat Islam, maka setiap individu umat muslim akhirnya dapat menyerap pengetahuan. Melalui pengetahuan tersebut, ia akan menata dan merancang kembali sebuah agenda besar, yaitu sesuai bidang yang ia tekuni, dan yang lain pun akan mempraktekkan pengetahuannya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sehingga, dengan perlahan tapi pasti, maka kondisi dalam beragam aspek akan membaik dan semakin baik. Sekalipun membaca tidak melazimkan menulis, namun menuliskan suatu yang diketahui dari hasil yang ia baca juga merupakan suatu yang sangat esensial untuk kemudian dapat disalurkan pada generasi selanjutnya.

Menulis tidak saja merupakan kemampuan dari seorang penulis, melainkan tersimpan pula dibaliknya “grand desaign” (rancangan besar) serta proyeksi masa depan yang demikian panjang demi terus terbangunnya peradaban di internal umat Islam. Betapa sebuah karya berupa tulisan akhirnya dapat memberikan pengaruh besar terhadap para pembacanya. Imam al-Ghazali misalkan. Karya beliau yang bertajuk “Ihya’ Ulum al-Diin”, akhirnya mendapatkan respon dan memberikan pengaruh yang luar biasa kepada khalayak (umat). Karya tersebut akhirnya mampu mengubah pola pikir dan fakta sosial masyarakat dalam “amaliyah yaumiyah” (aktifitas sehari-hari). Karena, degradasi masyarakat dalam konteks spritualitas dan religiusitas di masanya, menjadikan Imam al-Ghazali terus gelisah dan kemudian menulis sebuah karya yang sangat monumental dan spektakuler itu. Dengan fakta tersebut, dapat kita lihat bahwa menulis adalah satu hal yang cukup urgen dalam upaya untuk mengubah kondisi masyarakat kepada yang lebih baik.

Namun lagi-lagi, bahwa kreatifitas menulis juga tidak bisa dilepaskan dari membaca. Karena, sebagaimana dikatakan oleh Stephen Edwin King, penulis kontemporer asal Amerika, bahwa membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis. Tanpa membaca, maka bahan tulisan kita akan terbatas dan tidak cukup kredibel. Dengan rajin membaca (menjadi kutu buku), hal itu bisa menambah kemampuan intelektual kita atau kita akan terintelektualisasi, yang kemudian akan dapat membantu kita untuk lebih tajam dalam menilai dan menganalisa satu problem yang hendak kita tuangkan solusinya dalam sebuah tulisan. Karena, pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power) untuk menilai segala sesuatu. Semakin bertambah pengetahuan kita, maka akan semakin bertambah pula kemampuan kita dalam menilai dan menyikapi segala sesuatu.
Dengan demikian, membaca dan menulis atau yang juga dikenal dengan sebutan literasi adalah dua budaya yang sangat penting dan perlu dilestarikan oleh umat Islam sampai yaumil akhir. Sementara kontinuitas budaya literasi dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hal itu harus terus dipompa, agar upaya pembangunan peradaban terus berlanjut. Sebuah upaya perbaikan tanpa didasari sistem dan strategi yang baik, maka akan sulit untuk bisa menggapai perbaikan tersebut. Sementara sistem dan strategi yang baik hanya akan didapatkan dengan belajar. Sesuatu yang sudah baik (haq) pun, sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Al-haqqu Bila Nidhom, Qod Yaglibul Batila Binnidhom”. Artinya ; yang tidak dimenej atau diatur dengan baik (memakai sistem), maka akan sirna karena dikalahkan oleh kebatilan yang tersistem. Apalagi hanya masih selevel upaya memperbaiki. Begitulah, betapa pentingnya literasi. Bahkan, peradaban Islam akan bangkit kembali manakala semangat literasi di internal umat Islam kembali membara dan mengimplementasikannya dalam ranah sosial. Partisipasi para pelajar muslim (para santri) sebagai manusia yang dianggap lebih mumpuni dalam ilmu keagamaan, diharapkan lebih dominan, agar dapat menjalankannya dengan baik dan ikhlas tanpa culas; hanya demi kemajuan Islam dan umat Islam, dan bukan ditujukan untuk kepentingan kelompok tertentu apalagi pribadi.

IV. Budaya Literasi, Cinta, Dan Peradaban Manusia

Sebagaimana telah diuraikan begitu panjang lebar, yakni begitu pentingnya soal literasi sebagaimana telah tersistimatisir di bagian atas. Namun pada sub judul bagian ini, penulis secara efisthema (dasar idenya) memang berangkat dari sebuah analisa sosial tentang miskinnya budaya literasi yang semakin membuat siapapun miskin terhadap kebenaran informasi. Saat ini nampaknya tidak sedikit organisasi yang telah meninggalkan budaya literasi baik di kampus-kampus maupun di lingkungan sosial yang lebih luas. Bukti dari minimnya literasi tersebut tampak dari tindakan sebagian (oknum pelajar/mahasiswa kita) yang masuk organisasi hanya sekedar ingin mencari nama saja tanpa ada orientasi yang jelas. Tanpa mengerti konsep perjuangan organisasi dan ideologi yang dibawanya. Fakta membuktikan bahwa banyak oknum organisasi (kemahasiswaan maupun organisasi kepemudaan) yang realitasnya pasa fakum dan tidak lagi hidup karena miskin budaya literasi, baik dalam skema aktivitas individu maupun skema aktivitas kelompok. Oleh karena itu, aktivitas membaca, berdiskusi, dan menulis harus selalu dihidupkan dan ditingkatkan. Temasuk dialog-dialog, seminar-seminar, bedah buku dan lain sebagainya, demi pertumbuhan peradaban yang baik bagi bangsa ini.

Jika aktivitas literasi terus dihidupkan dan dikembangkan, maka dapat dipastikan bahwa kemajuan suatu bangsa akan semakin baik. Mengapa? Karena sumber daya manusianya memang berkualitas. Itulah pentingnya aktivitas-aktivitas ilmiah atau budaya literasi yang harus selalu dihidupkan. Untuk apa? Ya, untuk merangkai dan mewarisi peradaban, seperti di zaman keemasan Islam (“The Golden Age of Islam”) di abad pertengahan. Apakah kita tidak memperhatikan bagaimana hebatnya budaya literasi pada zaman dulu? Jika belum, penulis mencoba mempisualisasikannya. Sebagai contoh bahwa Rasulullah SAW, Abubakar As Sidik, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Sayyidina Ali. Mereka adalah contoh dan tauladan terbaik, terlebih Rasulullah SAW, senantiasa menghidupkan budaya literasi. Sampai sekarang nama mereka masih dituliskan oleh umat manusia sebagai tokoh teladan yang telah mewariskan peradaban melalui literasi. Kemudian ada juga generasi-generasi hebat setelahnya yang terus meningkatkan budaya literasi dan dikenal oleh dunia. Di antaranya adalah Ibn. Sina yang menulis buku tentang ‘’The Canon of Medicine’’, Al-Khawarizmi dikenal sebagai ‘’The Father of Mathematic and Astronomy” bapak matematika dan astronomi dunia dan buku tentang “Zij Al Sindhind”. Kemudian ada Jabir Ibn-Hayyan dan sering disebut sebagai “The Father of Modern Chemistry” atau bapaknya Ilmuan Kimia, Fisika, Farmasi dan lain sebagainya. Selanjutnya ada Imam Al Ghazali, Ibn Rushd, Ibn Khaldun dan masih banyak lagi lainnya dengan kitab-kitab mereka yang sangat mendunia.

Pertanyaannya, sudah dimanakah budaya literasi kita? Apakah hanya sekedar membaca buku dan kemudian menikmati keindahan-keindahan kata-kata atau kalimat di dalamnya? Sesungguhnya tidak hanya sampai disitu, seyogysnya kita harus terus meneladani motivasi, semangat, dan daya juang mereka sehingga mereka sampai pada titik tersebut. Jika pun kita tidak mampu sampai pada titik itu, ia minimal kita sudah berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menjadikan diri kita sebagai pewaris budaya literasi terbaik dari mereka. Bukankah Allah SWT Berfirman bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya (Qs. Ar-Ra’d 11). Pepatah arab juga pernah berkata ‘’Man Jadda Wajada’’ yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkan hasilnya.

A. Cinta Literasi

Segala sesuatu bergantung dari cinta. Cinta yang akan membuat kita berubah. Bahkan, orang yang jatuh cinta pasti ia tidak ingin jauh dari sang kekasihnya. Yakni, ingin selalu dekat bahkan sedekat-dekatnya. Sebagai contoh orang-orang telah jatuh cinta kepada Tuhannya pasti tidak ingin jauh darinya. Oleh karena itu, maka mereka selalu ingin dekat dan bersama dengan tuhannya dalam kondisi apapun. Maka, mereka berdzikir (Mengingat Allah) tanpa mengenal waktu. Sehingga tengah malam mereka bangun, hal itu demi untuk “taqorrub” kepada sang Kholik-Nya.

Begitu juga para ilmuan yang selalu menghidupkan aktivitas literasi (membaca, berdiskusi, dan menulis) sehingga menjadi hebat dan luar biasa. Di dalam hati dan pikiran mereka ada cinta yang tertumbuhkan oleh aktivitas literasi sehingga mereka cinta dengan buku-buku, dan tidak hanya sekedar membaca, tetapi ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari membaca itu, kemudian mereka diskusikan bahkan menuliskannya. Nah, Itulah cinta, sekaligus dengan buktinya. Tidak hanya menjadikan buku-buku sebagai pajangan indah di perpustakaan tanpa makna tetapi mereka jadikan diri mereka sebagai pusat ilmu pengetahuan dengan menghafalkannya.

Sebagai contoh Imam As-Syafi’I dalulu, ketika belajar ia selalu menuliskan setiap pelajarannya, bahkan menghafalkannya. Dalam riwayat dijelaskan Imam syafii menulis hampir penuh rumahnya dengan hasil tulisannya kemudian karena dia ingin mengikatnya (Cinta) maka dia menghafalkannya. Karena itu merupakan adab insan pembelajar terhadap ilmu dan bukti kecintaannya ‘The Real of Love’’. Bahkan ada beberapa keterangan yang menguatkannya. Seperti Hadist Rasulullah SAW yang bersabda “Kaiyidul Ilma Bil Kitab”, yang artinya ikatlah ilmu dengan menulisnya. Bahkan lebih kuat lagi sabda beliau kepada para sahabatnya. Salah satu adalah Abdullah Bin Amr. Beliau bersabda ‘’Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran’’. Demikian juga Imam Syafi’I berkata ‘’Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan dan terlepas begitu saja. Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa dengan kekuatan cinta, maka seseorang akan semakin dekat dengan yang di cintainya bahkan tidak ingin berpisah dengannya. Bahkan mereka akan berusaha bahwa sesuatu yang dicintainya akan selalu menyatu dan bersemayam dengannya sehingga tidak saja ketenangan yang mereka rasakan atau kedamaian dalam pikirannya tetapi juga kebahagiaan selalu bersinar dan terpancar dari dirinya. Karena penyatuan cinta antara jiwa yang suci dengan kemulian ilmu yang tak ternilai. Dari keikhlasan tuhan dan kekuatan cinta seorang hamba. Jangankan diri dan lingkungannya bahkan hingga dunia takluk kepadanya. Maka, kejarlah ilmu dengan cinta. Jika engkau telah jatuh cinta kepadanya maka sedetikpun engkau tidak akan pernah melepaskannya.

B. Peradaban Manusia

Untuk memahami budaya literasi, cinta dan peradaban manusia, maka setiap kita harus mengerti bahwa peradaban manusia akan selalu berganti dan pasti akan ada generasi terbaik yang mewarisi setiap perkembangannya. Oleh karenanya, berangkat dari pandangan itu bahwa kita harus tersadar dan menyiapkan diri dalam rangka untuk mewarisi peradaban terbaik bagi generasi kita yang akan datang. Bahkan menurut (alm) Dr. Dawam Rahardjo (Cendikiawan Muslim), ketika ia merasakan kegelisahan moralitasnya dan lalu ia mencoba membaca tafsir sosial “Semesta ini selalu diisi oleh orang-orang yang memiliki pemikiran yang berbeda atau disebut dengan ‘’Innovation of Mind’’ sehingga pandangan yang berbeda itulah yang menjadikan ia berbeda dengan yang lain”. Sebagai contoh bahwa ketika banyak orang sedang memikirkan hanya tentang kebutuhan perut alias menjadi “abdul butun” dan kebutuhan hidup (mencari, mengejar kekayaan) dan sejenisnya sehingga lupa terhadap hakikat hidupnya, maka mereka itu termasuk orang-orang yang memiliki cara berfikir yang jangka pendek (kerdil). Mengapa? Karena mereka berfikir hanya untuk kepentingan sendiri. Sementara kehidupan manusia tidak sendiri melainkan secara sosial dan peradaban manusia akan selalu berkembang. Artinya bahwa konstruksi berfikir yang harus kita bangun adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada konstruksi berfikir manusia pada umumnya sehingga karakter berfikir dari pewaris terbaik peradaban adalah tidak hanya berfikir untuk dirinya sendiri melainkan berfikir dan berkontribusi terhadap orang banyak atau kemaslahatan umat dari berbagai bidang keilmuan dan segala usaha lain tentunya.

Hal itu selaras dengan apa yang disampaikan oleh baginda Nabi Rasullullah Muhammad SAW bahwa ‘’Khairunnas Anfauhum Linnas” yang artinya manusia terbaik adalah manusia yang banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Berangkat dari pandangan tersebut bahwa peradaban manusia harus dibina dengan baik. Baik dengan budaya literasi, dengan cinta yang tak terbatasi atau dengan segala usaha yang harus kita inisiasi. Karena itu, budaya literasi dan cinta harus selalu tercipta. Baik dalam lingkungan akademik maupun di lingkungan sosial, agar peradaban di masa kini maupun di maaa yang akan datang semakin baik. Kemudian yang berhubungan dengan perbedaan pandangan dan atau tafsiran dalam konteks mengisi peradaban, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah terjadi bahkan dari masa ke masa.
Prinsipnya adalah petik saja hikmah dari khazanah setiap pandangan yang berbeda dari para ilmuan itu. Jangan fanatik buta, pelajari dengan baik, gagasan dan konsepnya. Setelah itu disaring dengan pikiran dan hati nurani. Hal itu sebagaimana dijelaskan di dalam buku yang berjudul, “The Literacy Wars”, bahwa “tidak ada satupun pandangan yang mutlak benar tentang keaksaraan yang akan diterima secara universal’’. Bahkan ada sejumlah definisi yang bersaing dan definisi itu terus berubah dan berkembang. Maka dalam perspektif literasi tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, karena kebenaran dalam literasi adalah kebenaran yang bersifat ilmiah (kebenaran yang bersifat relatifistik dan bersifat dhoni). Hal itu bisa berubah karena perkembangan waktu, tempat, maupun berubah karena perbedaan tafsiran. Oleh karena itu, mengertilah dengan cinta dan pahamilah dengan bahasa ketuhanan. Jika kita telah menemukannya maka kita akan meraih kebahagiaan dari-Nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top