Oleh : Adung Abdul Haris
I. Pendahuluan
Pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk mengangkat sebuah judul “Otentisitas Manusia di Media Sosial Dalam Perspektif Filsuf Martin Heidegger”. Bahkan, tulisan kali ini juga dilatar-belakangi oleh analisis penulis, yakni ketika terus mencermati keseharian manusia di media sosial yang memberi makna tersendiri bagi dirinya (para netizen dan para pengguna medsos). Sementara konsep otentisitas filsuf Martin Heidegger, memang dapat membaca fenomena keseharian manusia di media sosial agar menemukan dirinya sendiri. Sehingga, tujuan dari tulisan kali ini adalah mencoba untuk menunjukkan, tentang makna keberadaan manusia di media sosial dan mencoba memaparkannya dalam perspektif sang filusuf Martin Heidegger itu, yakni dalam konteks untuk melihat otentisitas manusia di media sosial. Lebih dari itu, tulisan kali ini juga merupakan bagian dari tela’ah kritis penulis, mengenai berbagai persoalan yang aktual, yakni untuk menyikapi zaman digitalisasi dan canggihnya sebuah alat komunikasi (HP) yang efektasinya terus merambah pada soal medsos dan rutinitas manusia yang terus berselancar di dunia maya. Sedangkan bahan kajian tulisan kali ini diperkuat juga dengan teknik pengumpulan data kepustakaan yang menggunakan bahan penelitian bersumber dari buku, jurnal dan berbagai artikel terkait.
Tulisan kali ini mencoba menggunakan (metode hermeneutik-filosofis) dengan unsur-unsur metodis deskripsi, interpretasi, dan refleksi kritis penulis. Sementara hasil dari tela’ah kritis penulis, akhirnya mendapatkan beberapa kesimpulan diantaranya ; Pertama, makna keberadaan manusia di media sosial berarti menduniakan media sosial sebagai tempatnya bermukim dan terus kerasan, alis betah di dalamnya bersama orang-orang lain (masyarakat dunia/maya dan para pengguna medsos). Kedua, otentisitas manusia di media sosial dilihat melalui hubungan konsep otentisitas dengan teknologi tercanggihkan, yang memperoleh hasil pencapaian otentisitas melalui dua cara, yaitu “entschlossenheit” atau “ketersingkapan”, dimana esensi dari teknologi itu sendiri adalah soal ketersingkapan. Oleh karena itu, seyogyanya kita harus kembali pada esensi dan jati diri kita sendiri, yakni ketika kita ingin mendapatkan kebebasan diri sendiri. Sementara kehidupan manusia di media sosial terkesan fana atau memfanakan diri (terus berada di dunia abstrak dan maya). Sementara kebersamaannya, yakni bersama orang-orang serta kemenjadian dirinya memang tidak memiliki arti apa pun, karena kemungkinan rangkaian manusia di depannya (di dunia maya) memang realitasnya adalah ketiadaannya secara fisik, alias berada di dunia maya dan bukan berada di dunia nyata.
II. Tampilkan Otentisitas Untuk Mem-Branding Diri di Media Sosial
Di era digital saat ini, semua orang punya kebebasan untuk menampilkan citra diri maupun menyampaikan berbagai pendapatnya. Karena, media sosial merupakan ruang berekspresi diri. Namun, hal itu tentunya harus hati-hati dalam menggunakannya. Karena, kualitas diri kita bisa dilihat dari sana (di medsos dan bisa dilihat oleh orang dari berbagai belahan dunia). Maka muncul sebuah pertanyaan, bagaimana untuk membangun “personal branding” yang baik lewat medsos itu, dan terhindar dari pencitraan semu? Karena medsos merupakan dunia tanpa batas, dan semua orang di dunia memang terkoneksi. Bahkan medsos juga bisa menjadi tools terbaik untuk promosi diri. Sayangnya hingga saat ini, banyak orang yang tidak menggunakan medsos tersebut secara mindful (baik dan parameteristik). Bahkan, tidak memiliki kesadaran terkait norma dan etika sesuai kultur budaya kita. Akhirnya semua orang hanya terus berlomba-lomba untuk mejeng, sel-fian, menampilkan citra diri, dan bahkan terkesan terus menjauhkan diri dari authenticity.
A. Personal Branding VS Pencitraan
Esensi personal branding dan pencitraan itu secara substantif sama. Nsmun, kata pencitraan itu kemudian menjadi negatif karena digunakan oleh politikus untuk menjauhkan realitas mereka. Sebenarnya kata pencitraan itu melambangkan bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mau kelihatan jelek tentang dirinya. Dan itu tentunya sangat manusiawi. Bahkan, setiap kita-pun sangat tidak perlu dan bahkan sangat tidak mungkin untuk menampilkan kejelekan diri kita ke semua orang. Namun, dengan proses pencitraan yang terus berlebihan itu, pada akhirnya bisa menjauhkan diri kita dari sebuah realitas, dan ujung ujungnya, ia biasa, yakni agar medsosnya maupun postingannya bisa banya di like orang, pada akhirnya tidak sedikit juga orang untuk ”menghalalkan” berbagai cara, yang penting bisa “personal branding” di medsos.
Sementara itu, personal branding terkait cara seseorang untuk menampilkan citra dirinya secara sadar maupun tidak sadar di depan publik (media sosial). Sedangkan di dalam kata personal branding sendiri memang ada integrity, keahlian, perilaku, cara berpenampilan, dan otentisitas setiap orang yang perlu ditampilkan. Sementara media sosial, jika digunakan dengan baik dan benar, maka akan meningkatkan “brand positioning” dan “value proposition kita sendiri” serta bisa “sharing knowledge” kepada orang lain.
B. Fenomena Virtual Fog
Sekali lagi, media sosial adalah ruang bebas (ruang publik). Namun, sebebas-bebasnya kita, perlu ada “awareness”. Sementara branding yang mau kita bawa di media sosial itu sejatinya harus lebih banyak mengandung unsur authenticity. Bukannya apa yang mau kita citrakan begitu saja. Dan otentiknya jangan sampai hilang. Jangan ikut-ikutan orang saja, bahkan berkebalikan dengan diri kita sendiri di dunia nyata. Misalnya, otentiknya 80 persen, kemudian 20 persennya apa yang mau dibuat itu, ia tidak apa-apa, alias sangat rasional untuk eksistensi diri.
Bahkan, ketika kita tidak memiliki kemampuan berpikir menggunakan logika, maka kita akan mudah sekali untuk ikut-ikutan, dan akhirnya semakin jauh dari orisinalitas diri kita sendiri. Jadi, semua yang ditampilkan seolah-olah palsu, dan akhirnya muncullah fenomena “virtual fog” atau “pencitraan semu”. Bahkan, kalau saya coba melihat medsos saat ini, memang begitu ngejibunnya informasi (di medsos) yang demikian terkesan bebas-bebas saja, namun saya tetap punya banyak kehawatiran, karena tidak sedikit juga muncul informasi yang terkesan anonim (kurang pati bener). Toh, itu akan menunjukkan kualitas isi kepala orang yang mengirimkan informasi tersebut. Dan oleh karena itu, bagaimana menampilkan diri di medsos, hal itu lagi-lagi kembali kepada diri kita masing-masing. Namun nampaknya, yang mengirim informasi atau mengunggah berbagai hal ke medsos itu, memang ada yang penuh kesadaran dan tidak sedikit juga yang penuh ketidaksadaran, alias asal banyak dapat jempol dan apresiatif dari para netizen dan lain sebagainya. Sementara ketidaksadaran dilakukan oleh mereka yang tidak punya kemampuan untuk mengurasi kontennya. Mereka kemudian tanpa sadar menjadi iri melihat postingan orang lain sehingga ikut-ikutan saja akhirnya, alias asal posting di medsos.
C. Membangun Personal Branding yang Baik di Medsos
Pertama, gali dulu apa yang jadi tujuan kita punya media sosial. Kita tidak perlu mencari sosial validasi dari orang lain. Jadilah otentik dan trust yourself. Cari dan kembangkan kualitas diri kita. Kedua, berpikir dari sudut pandang content benefit yang mau kita bagi ke orang lain. Berikan contoh konkret yang relevan. Hindari copy paste orang lain. Alih-alih melakukan pembenahan personal development, malah setiap hari sibuk memikirkan konten karena melihat orang lain. Lakukan observasi, belajar lagi, dan asah kemampuan berpikir kritis kita masing-masing.
Bahkan, belum lama ini kita tahu banyak influencer atau key opinion leader yang kemudian dihujat karena ternyata mereka hanya jualan produk, tapi tidak menggunakan produk itu. Saat ini semua orang sudah pintar.
Sudah tahu bahwa itu hanya rekayasa untuk kepentingan promosi dan lain sebagainya. Saya pribadi memilih tidak di jalur itu. Tapi, tentunya, mari balik lagi ke diri kita masing-masing. Karena itu, penting untuk punya kesadaran dan paham etikanya seperti apa dan seterusnya.
III. Mencari Otentisitas Hidup di Era Industri Dan Hiruk-Pikuknya Media Sosial
Perkembangan industri saat ini telah membawa perubahan yang sangat signifikan pada gaya hidup masyarakat kita. Karena segala sesuatu, yakni mulai dari menyiapkan makanan (memakai alat masak nasi yang canggih), meminjam uang (lewat ATM), hingga akomodasi umum, antara lain, dapat dilakukan secara instan. Meskipun kenyamanan dan kemudahan telah diberikan oleh kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi, namun banyak orang saat ini yang merasa kehilangan makna dan keaslian dalam hidupnya. Fenomena itu ditandai dengan peningkatan kasus depresi di banyak negara maju. Selain depresi, angka bunuh diri juga terus meningkat, dengan jumlah kasus bunuh diri yang terus bertambah secara akut. Bukti tersebut telah menunjukkan bahwa masyarakat modern saat ini memang sedang mengalami fenomena sosial dimana masyarakat tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang asli dan bermakna. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk mengkritisi gagasan dari sang filsuf eksistensialis abad ke-19 M, yaitu Soren Kierkegaard, yang menyoroti konsep kehidupan “otentik” di era industri modern saat ini.
A. Pendalaman Konsep Otentisitas Bersama Kierkegaard
Soren Kierkegaard, seorang filsuf Denmark yang hidup pada abad ke-19 M, ia coba menyoroti ketidakotentikan hidup manusia dalam masyarakat yang semakin terindustrialisasi saat ini. Ia mengeksplorasi konsep kehidupan yang otentik melalui konsep ketertarikan dan tanggung jawab individu terhadap diri mereka sendiri. Baginya, otentisitas hidup itu terletak pada kesadaran akan kebebasan dan pilihan yang dibuat oleh setiap individu itu sendiri. Bahkan Kierkegaard menawarkan dua bentuk hidup yang bertentangan, yaitu hidup “estetis” dan hidup “etis”. Hidup estetis menurut Kierkegaard, yaitu ditandai oleh pencarian kenikmatan instan dan penghindaran dari proses tanggung jawab. Sedangkan hidup “etis”, yaitu melibatkan kesadaran akan tanggung jawab dan kewajiban moral terhadap diri sendiri dan orang lain. Pemikiran Kierkegaard, sesungguhnya telah menggugah kita untuk terus mempertanyakan tentang nilai-nilai yang mendasari keputusan hidup kita di era industri yang sangat dinamis dan permisif ini.
B. Tantangan Kontemporer Terhadap Otentisitas
Dalam konteks dunia modern, tantangan terhadap otentisitas hidup manusia semakin kompleks. Karena globalisasi, teknologi, dan tekanan sosial, akhirnya terus menambah lapisan kesulitan dalam konteks menjalani hidup yang autentik. Sebagai contoh, era media sosial saat ini, yang acapkali membawa kita pada dampak besar terhadap cara kita memandang diri kita sendiri dan orang lain. Ketidakpuasan diri, perbandingan sosial, dan tekanan untuk mencapai standar yang tidak realistis, halbitu seringkali merusak kesehatan mental kita dan menyebabkan kehilangan jati diri kita sendiri. Lebih dari itu, berbagai krisis lingkungan hidup juga menjadi tantangan serius yang menuntut refleksi mendalam tentang cara hidup manusia saat ini. Bahkan, proses penyalahgunaan sumber daya alam, polusi, dan perubahan iklim menjadi dampak nyata dari kehidupan modern yang kurang otentik. Oleh karena itu, upaya mencari solusi yang sesuai dengan nilai-nilai otentisitas dalam konteks ini menjadi imperatif untuk kelangsungan hidup di planet ini (alam dunia yang saling menghegemoni ini).
Bahkan, soal kesehatan mental misalnya, saat ini lonjakan kasus gangguan kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda, telah menunjukkan bahwa banyak orang mencari arti dan proses keseimbangan dalam kehidupan modern yang penuh tekanan. Oleh karena itu, meningkatnya kesadaran terhadap betapa pentingnya kesehatan mental, hal itu menegaskan, bahwa betapa pentingnya untuk menjalani hidup yang orsinil alias otentik, hal itu juga tentunya membutuhkan keseimbangan emosional dan psikologis bagi setiap individu yang hidup di era milenialistik saat ini. Bahkan, proses pencarian otentisitas hidup di era industri saat ini, bersama filsuf Kierkegaard, hal itu sebagai panduan filosofis, dan sekaligus mengajak kita untuk merenung tentang nilai-nilai yang mendasari keputusan hidup kita masing-masing.
Konsep otentisitas tidak hanya relevan pada zamannya, tetapi juga menjadi relevan juga dalam konteks kontemporer yang penuh dengan tantangan dan dinamika. Melalui pemahaman terhadap konsep ini (otentik hidup), diharapkan kita dapat menjalani hidup dengan lebih sadar, bertanggung jawab, dan bermakna dalam konteks menghadapi kompleksitas dunia modern yang terus berapologetik alias meluncur dengan begitu deras.
IV. Berani Menjadi Diri Sendiri
Bisakah dalam konteks hidup yang penuh komfleksitas saat ini kita berani untuk menjadi diri sendiri? Dan beranikah kita untuk bisa merubah realitas sosial? Hal itu, agar kita tidak terus kehilangan kesyahduan hidup saat ini, maka kita harus berani untul mengubah realitas sosial. Mengingat struktur politik dan ekonomi saat ini yang kerapkali membuat manusia terus terasing dari dirinya sendiri. Lebih dari itu menurut pandangan penulis, bahwa kita saat ini bukan saja soal mampu merubah realitas sosial yang ada, melainkan juga sudut pandang individu kita yang harus berubah, atau cara kita untuk melihat diri kita sendiri dan dunia kita. Dengan kata lain, kita jangan terlalu berambisi dan terburu-buru ingin mengubah realitas sosial, melainkan carilah dulu jati diri dan identitas diri kita sendiri terlebih dahulu. Mungkin, kita adalah bagian dari permasalahan yang tengah menjangkiti realitas sosial yang kita hidupi. Atau jangan-jangan, justru malah kitalah sendiri bagian dari realitas sosial yang harus diubah. Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk melakukan “refleksi diri” dan bahkan proses pencarian untuk menjadi diri sendiri akhirnya menjadi sangat penting sebelum kita berintensi dan bertindak untuk mengubah realitas yang lebih luas.
Dalam perspektif para filusuf, saat ini kita sudah berada di alam keterasingan diri dan kekeringan kesyahduan hidup, dan kita harus terus menemukan sumber inspirasi sekaligus analisanya dari realitas politik dan ekonomi masyarakat yang serba praktis pragmatis saat ini. Kita juga harus melihat berbagai dimensi pergulatan eksistensial dan subyektivitas manusia. Yang terakhir ini menjadi fokus perhatian dari seorang filsuf yang bernama Kierkegaard, yakni sebagaimana telah dikemukakakan dibagian atas. Saat ini kita “bagaikan naik ke puncak gunung dan memandang ke bawah”. Karena, dari atas gunung, setiap orang pasti bisa melihat keseluruhan pengaturan suatu wilayah. Karena dari jauh, semuanya kelihatan indah, rapi, dan teratur. Namun, yang tidak tampak dimata kita adalah apa yang sebenarnya terjadi di bawah atap rumah, atau lebih dalam lagi, apa yang sedang berkecamuk di dalam hati sang penghuni rumah itu? Jangan-jangan yang berada di suatu rumah itu, malah suami istri yang sedang bertengkar meributkan masalah ekonomi keluarga misalnya, seorang pemuda yang sedang putus cinta akibat ditinggalkan (diputuskan) oleh sang pacarnya, seorang pemudi yang kebingungan untuk menentukan masa depannya, seorang bapak yang baru saja kehilangan pekerjaannya, dan terus mengalami festival kebingungan dan terus mengalami keresahan, karena harus bagaimana untuk bisa menghidupi ekonomi keluarganya dan lain sebagainya.
Bahkan, dalam sistem masyarakat yang secara global bersifat rasional, yakni segala sesuatunya sudah mendapatkan tempatnya yang pas, akhirnya setiap ndividu dengan segala keunikan dan berbagai kompleksitasnya-pun, kemudian terhisap di dalam “gambar besar” dunia manusia saat ini, sehingga manusia saat ini kerapkali kehilangan hakekatnya sebagai mahluk personal, yang memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya sendiri. Bahkan, upaya untuk memahami kehidupan manusia tidak bisa hanya dilakukan secara global saja, melainkan personal dan eksistensial. Pengalaman manusia terlalu kaya dan fluktuatif untuk bisa dipahami secara rasional semata. Bahkan, eksistensinya sangat terfragmentasi, sehingga ia merindukan suatu kesyahduan hidup yang menyeluruh, yang dapat menjadi makna bagi hidupnya. Sementara pertanyaan mengenai makna hidup yang hakiki, memang hanya bisa dijawab dengan menengok ke dalam subyektivitas, dan dengan memperhatikan kehidupan spiritual batiniah seseorang. Sedangkan soal subyektivitas menurut seorang filsuf Perancis yang bernama Descartes, ia terletak di dalam kemampuan manusia untuk berpikir secara logis, rasional, dan terpilah-pilah. Lalu Descartes kemudian merumuskannya dalam sebuah kalimat padat, “Aku berpikir maka aku ada”. Akan tetapi, subyektivitas manusia-pun terlalu kaya dan kompleks untuk termuat begitu saja di dalam rumusan itu.
Karena, subyetivitas manusia juga menempati dimensi yang berlawanan dengan optimisme Descartes itu, yakni dalam keberaniannya untuk bergulat dengan pilihan-pilihan hidup-pun ketika pilihan tersebut harus dibuat dalam keadaan kurangnya informasi dan penguasaan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya menimbulkan penderitaan. Rumusan yang berlawan dengan optimisme kerasionalan manusia itu seharusnya untuk dipadatkan dalam kalimat berikut, “Aku Memilih Maka Aku Ada”. Tugas kita selaku manusia adalah untuk membuat berbagai pilihan hidup atau “hidup untuk memilih”, dan hal itu ada pada setiap individu manusia, dan itu juga sangat penting dan berlangsung dalam proses pergulatan batin untuk menentukan sebuah keputusan atau pilihan hidup. Bahkan, otentisitas manusia hanya dapat diraih dalam keberaniannya untuk membuat keputusan dan pilihan-pilihan hidup yang terpenting dalam hidupnya.
Problem tentang otentisitas yang berkaitan dengan makna hidup manusia sudah menjadi problem sepanjang sejarah filsafat. Akan tetapi, pendekatan yang dilakukan selalu saja dari sudut pandang global, abstrak, metafisik, sehingga terkesan semakin kehilangan dimensi personalitasnya. Yang saya maksud disini adalah bukan makna yang dijawab secara abstrak dengan rumusan konseptual yang rasional, melainkan apa artinya saya, anda, dia, mereka adalah manusia-manusia juga, yang memang masing-masing mempunyai jawaban untuk dirinya sendiri secara personal, atau dengan kata lain, sebuah panggilan hidupnya masing-masing.
A. Dunia Sosial
Dalam dunia sosial serta menjamurnya medsos (media sodial saat ini), setiap orang dapat begitu saja terlarut di dalam ranah publik (di dunia maya) di kerumunan, dan di dalam sistem sosial, sehingga lupa pada proses pencarian identitas dan otentisitas hidupnya masing-masing. Bahkan, negara yang menghomogenisasi rakyatnya dari sudut agama maupun etnik misalnta, atau lingkungan kerja yang sangat otoriter misalnya, hal itu kerapkali menuntut kesetiaan total dari seorang individu, dan itu merupakan musuh bebuyutan bagi identitas serta otentisitas hidup seseorang. Karena resiko yang akan muncul jika orang hidup di lingkungan seperti itu, yaitu akan tetus kehilangan jati diri. Jika sudah seperti itu, maka orang tidak lagi memiliki keberanian untuk menyatakan siapa dirinya, dan apa yang dipikirkannya. Bahkan, individu-individu yang sudah hidup terlarut di dalam ayunan sistem masif dan mekanustik seperti itu, setidaknya dapat dengan mudah mengidentifikasikan dirinya dengan sistem tersebut, yang akhirnya munculah istilah tipologi “lingkaran setan” seperti pertanyaan ; “Untuk apa bekerja? Ia untuk bisa makan. Dan untuk apa makan?, ia untuk bisa bekerja”. Akhirnya, pertanyaan dan jawabannya-pun akan terus berputar-putar seperti itu terus.
Mungkin, manusia memang lebih senang hidup terlarut dalam sistem, daripada menyatakan siapa dirinya. Bahkan di dalam sistem, setiap individu tidak pernah kesepian, ia selalu berada bersama rekan yang lain, sehingga ia tak perlu berjuang sendiri melawan arus. Ia akan selamat hanya dengan mengikuti saja arus yang mengalir itu. Tentu saja, ia tidak akan peduli jika hidup yang dihayatinya itu hanya begitu-begitu saja, tanpa gairah untuk menghidupinya. Sementara dinamika hidup begitu saja memang mudah. Akan tetapi, hidup dalam kesadaran yang otentik akan eksistensinya yang khas sebagai manusia itulah yang paling sulit dilakukan saat ini. Menurut Kierkegaard, salah seorang filsuf eksistensialis, bahwa manusia adalah pengada yang memiliki kesadaran, bukan saja terhadap apa yang ada di sekitarnya, melainkan juga kesadaran atas diri dan eksistensinya sendiri. Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan untuk melampaui segala bentuk hasrat-hasrat spontan, yang seringkali mendikte dirinya. Kesadaran spontan dan refleksi diri akan memberi kesempatan kepada manusia untuk mengatur, dan memproyeksikan hidupnya ke masa depan yang lebih baik. Kesadaran akan menjadi basis bagi kebebasan manusia untuk menentukan hidupnya dan menjadi dirinya sendiri.
B. Menjadi Diri Sendiri
Lalu, mengapa manusia perlu menjadi diri sendiri? Jawabannya, karena manusia memiliki roh, demikian tulis sang filusuf Kierkegaard. Roh, di dalam diri manusia, menyadari dirinya sendiri sebagai sebuah sintesa antara yang mewaktu dan yang abadi. Bahkan, relasi antara yang mewaktu dan yang abadi di dalam diri manusia itulah yang terus menerus dihadirkan oleh roh, dan itulah diri manusia yang seutuhnya, yakni yang terdiri dari roh dan jasad, antara yang bersifat dhohiriyah maupun batiniyah.
Sedangkan syarat untuk menjadi diri sendiri adalah adanya keheningan jiwa dan sublimasi diri. Dan hal itu dalam perspektif ajaran Islam disebut dengan ajaran sufistik (ajaran tasawuf) dan bersifat esoteris. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan yang bersifat fisik disebut eksoteris. Bahkan, di dalam sublimasi diri dan keheningan jiwa, setiap orang dapat menggunakan kesadarannya untuk berefleksi dan berempati, dan pada akhirnya akan melahirkan kecerdasan spiritual. Sementara untuk menjadi hening dan sublimasi diri, bagi sang filsuf Kierkegaard, hal itu merupakan elemen yang sangat penting bagi perjalanan untuk berani menjadi diri sendiri. Hanya orang yang hening dan eling, alias ingat kepada sang kholik-Nya, yaitu orang yang dapat berbicara secara benar dan mendalam, karena ia sepenuhnya sadar akan apa yang ia bicarakan dan apa yang ia lakukan baik di dunia maipun kelak di akhirat nanti.