Mengapa Disebut Tanah Jawara

Oleh: 
Ocit Abdurrosyid Siddiq

Sunda merupakan salah satu etnis yang ada di Indonesia. Populasinya tersebar di berbagai daerah. Jumlahnya banyak. Bahkan masuk dalam kategori terbanyak, dibanding etnis lainnya yang ada di tanah air.

Etnis Sunda mayoritas berdomisili di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Sunda di Jawa Barat dikenal dengan Sunda Priangan. Sunda di Banten biasa disebut Sunda Banten.

Sunda Banten tersebar di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Banten. Mayoritas berada di Lebak, Pandeglang, Serang, dan Tangerang. Selebihnya, ada di Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kota Serang, dan Kota Cilegon.

Jumlah penduduk Banten lebih dari 13 juta orang. Lebih dari setengahnya beretnis Sunda. Artinya, ada sekitar 7 juta lebih orang Sunda Banten. Jumlah yang tidak sedikit. Apalagi ditambah Sunda Priangan di Jawa Barat yang hampir mencapai 50 juta orang.

Bila Sunda Priangan diidentikkan dengan anak-cucu dan turunan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, maka Sunda Banten dikonotasikan sebagai teureuh dari Prabu Pucuk Umun, penguasa lokal di tatar Banten, sebelum datangnya Islam yang dibawa Sunan Gunung Djati lewat anaknya, Pangeran Sabakingking.

Walau sama-sama Sunda, ada beda karakteristik antara Sunda Priangan dan Sunda Banten. Kerajaan Pajajaran dengan Sunda-Priangannya yang Hindu-Budha dalam perjalanannya pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Banten yang Islam.

Sementara Sunda Banten merupakan penduduk asli di tatar Banten yang hidup semasa dengan Kerajaan Pajajaran, dibawah pimpinan pemimpin lokal, Prabu Pucuk Umun.

Ketika “invasi” Islam dilakukan oleh Kerajaan atau Kesultanan Cirebon lewat Kesultanan Banten terhadap Kerajaan Pajajaran, pusat pemerintahan Pajajaran dikuasi Islam. Sementara sempalannya, yaitu Prabu Pucuk Umun dan kelompoknya menyingkir ke Lebak.

Prabu Pucuk Umun dan anak buahnya ini pantang menyerah. Walau kekuatan induknya, dalam hal ini Pajajaran tunduk pada Kesultanan Banten, dia tetap “ngeyel” dengan lebih memilih untuk berada diluar perintah Kesultanan Banten.

Dia dan anak buahnya inilah yang kemudian menjadi leluhur dan cikal bakal terbentuknya Sunda Banten. Karakter menjadi “oposisi” atas Kesultanan Banten, membentuk typical Sunda Banten yang lugas, tegas, keukeuh, wangkeuh, wanian, tunggalan.

Salah satu perbedaan yang paling kentara antara Sunda Banten dan Sunda Priangan adalah, karena Sunda Priangan pernah mencapai puncak kemakmuran pada zaman Prabu Siliwangi, maka perkara atau urusan perut bagi mereka sudah selesai.

Karena perkara kebutuhan mendasar sudah terpenuhi, maka mereka punya banyak waktu luang untuk berkreasi. Satu diantaranya adalah bermunculannya para seniman dan pujangga, yang melahirkan karya-karya seni. Sastera, rupa, tari, beberapa diantaranya.

Pengaruh Mataram yang membawa “norma-adab” semakin memengaruhi karakteristik masyarakat Sunda Priangan saat itu. Undak-usuk basa salah satunya. Maka, tidak heran bila dalam Sunda Priangan, ada tingkatan berbahasa.

Tingkatan berbahasa baik lisan maupun tulisan dalam Sunda Priangan yang dikenal dengan istilah undak-usuk basa, membedakan kelas berbahasa. Dikenallah bahasa halus, bahasa sedang, dan bahasa kasar. Ada perbedaan pilihan diksi bila diucapkan pada orang tua, teman sebaya, dan yang lebih muda.

Sementara Prabu Pucuk Umun dan anak-buahnya hidup di pengasingan, di hutan. Mereka merupakan orang-orang sempalan. Bertahan hidup mengandalkan hasil alam. Siapa yang kuat, dia yang bisa bertahan. Hidup homogen, tanpa banyak pengaruh akibat interaksi dengan orang luar.

Orang-orang yang hidup dalam lingkungan demikian, tidak ada waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan sekunder, apalagi tertier. Sastera, musik, rupa, tari, jauh dari kebiasaan mereka. Mereka lebih fokus untuk bertahan hidup. Mereka cukup dengan perkara perut.

Adalah tak aneh bila kemudian karena kondisi diatas, pada masyarakat Sunda Banten jarang melahirkan tokoh-tokoh seniman, budayawan, dan pujangga. Hutan dan urusan perut membentuk mereka menjadi sosok yang lugas dan tegas. Bicara tanpa kasta, tanpa sindir, tanpa meliuk, tanpa tedeng aling-aling.

Tak ada kelas dalam berbahasa. Mau pada orang tua, sebaya, atau pada yang lebih muda, sama saja. “Nyatu” berlaku bagi semua. “Aing-Dia” menjadi biasa, mulai dari jawara hingga ulama. Ketika merasa gembira tak terlalu menampakkan ceria. Kala murka, keluar sumpah serapah rupa satoa dan pengisi hutan semesta.

Itulah mengapa ada perbedaan karakteristik antara Sunda Priangan dengan Sunda Banten. Jadi, bila hari ini ada yang menyentil tentang Sunda, wajar bila Sunda Priangan bereaksi keras. Uwatu komo Sunda Banten!

_Urang Sunda Banten mah, Dibageuran, Leuwih Bageur. Digamahan, Ulah Sambat Kaniaya!_
***

Sahid Hotel & Convention Yogya
Rabu, 19 Januari 2022

_Penulis adalah Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten_

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top