Literasi Dan Makna Simbolik Dari Sebuah Isi Botol Aqua

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Sebuah botol air mineral (botol aqua), kalau botol tersebut diisi dengan air mineral, maka harganya sekitar lima ribu-an, kalau diisi es jus buah misalnya, maka harganya sekitar sepuluh ribuan, kalau diisi madu, maka harganya ratusan ribu, kalau diisi minyak wangi, maka harganya bisa jutaan rupiah, dan seterusnya. Tapi sebaliknya, kalau botol air mineral itu (botol aqua) malah diisi “maaf” air comberan misalnya, sudah barang tentu hanya akan dibuang ke dalam tong sampah, karena sudah tidak ada harganya. Dengan kata lain, sama-sama dikemas dalam botol tetapi berbeda nilainya, karena “isi” yang ada di dalamnya itu memang berbeda-befa. Begitu juga dengan otak kita, tergantung otak kita itu mau diisi apa?

Yang membedakannya adalah soal ilmu pengetahuan, dimensi keilmuan dan karakter yang harus ada di dalam diri kita (di isi kepala kita). Bahkan, manakala diisi ilmu dan pemahaman yang benar, maka akan terbangun karakter yang benar pula. Lebih dari itu, sukses tidaknya kita menjadi seorang yang berpengetahuan dan sekaligus menjadi seorang ilmuan misalnya, hal itu juga tidak terlepas dari hasil jerih payah apa yang harus kita lakukan, dan kita terus membangun diri dengan cara berliterasi (rajin membaca). Bahkan, setiap orang yang berhasil (menjadi seorang yang literat) sudah pasti pada awalnya juga berangkat dari kesulitan-kesulitan hidup, namun kesulitan-kesulitan itu akhirnya ia taklukan dan ia terus berusaha untuk meraih kesuksesan.

Bahkan, bila kita mengisi hati kita dengan terus penyesalan dimasa lalu dan kekhawatiran dimasa yang akan datang, maka hampir dapat dipastikan bahwa kita tidak akan memiliki hari-hari untuk pandai bersyukuri. Bahkan, tafsir alam telah menunjukan juga, bahwa hujan dan badai akan selalu kita temui dalam perjalanan hidup. Namun, hujan dan badai itu, kita ibaratkan sebuah tantangan hidup. Bahkan, kita tidak perlu berdoa untuk memohon hujan untuk berhenti, tetapi cukup berdoa agar payung yang kita pegang bisa bertambah kuat dan terus bisa memayungi kita.

Ingat….umur kita itu seperti es batu, dipakai atau tidak dipakai, maka es batu itu akan tetap saja akan mencair. Alias digunakan atau tidak digunakan, bahwa umur kita akan tetap berkurang dari “jatah” yang telah diberikan oleh sang pecipta. Oleh karena itu, selagi kita masih tersisa jatah umur kita, maka lakukanlah bernagai hal kebaikan dan perbaikan (rajin baca dan terus belajar) sebanyak mungkin dan semampu mungkin, yakni apa yang bisa kita lakukan untuk kemaslahatan hidup kita.

Namun mirisnya saat ini, terutama di dunia literasi kita, antara koleksi buku usang dan minat baca terus semakin berkurang. Karena, budaya membaca (di negara ini) memang masih minim dan cukup menghawatirkan. Sementara untuk “menggebrak” budaya baca itu sendiri memang liding sektornya harus lahir dari arah kebijakan pemerintah. Bahkan saat ini, konon katanya di hampir sekolah di negeri ini, perpustakaan masuk kategori ruang yang paling jarang dikunjungi. Karena mungkin ruang baca yang sempit dan koleksi buku usang memberi gambaran utuh akan arah pendidikan bangsa. Bahkan, sekelas perpustakaan publik-pun masih berjuang untuk menambah koleksi buku. Menariknya, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Namun, jumlah pustaka yang tercatat saat ini mencapai 178.723.

Oleh karena itu, mari kita bandingkan dengan beberapa negara. Antara lain :
Jepang tercatat 42,884 pustaka
India memiliki 1.5 juta pustaka dan 160 ribu adalah pustaka publik. Cina mempunyai 3.217 pustaka publik. Sekilas jumlah pustaka di Indonesia memang terlihat banyak. Meskipun demikian, koleksi buku yang ada di dalamnya masih sangat sedikit dibanding koleksi buku di pustaka negara-negara maju.

Sebuah pustaka publik di India misalnya, mengoleksi sampai 5,700 buku. Amerika memiliki total 124 ribu pustaka di seluruh negara bagian. Koleksi buku antar pustaka bisa bervariasi. Harvard masuk kategori pustaka dengan koleksi buku terlengkap. Pustaka terbesar di Cina mengoleksi 20 juta buku. Pustaka nasional Indonesia hanya mengoleksi 4 juta buku. Bandingkan dengan pustaka di Inggris (British Library) yang mempunyai koleksi 13.5 juta buku. Universitas Oxford mengoleksi 13 juta buku di pustaka Bodleian. Pustaka ini tergolong pustaka tertua di Eropa. Bahkan, di dalamnya juga terdapat 1.7 juta buku versi digital. Selain itu, pustaka ini menyimpan 1 juta buku langka, manskrip, peta dan musik.

Mungkin perbandingan pustaka Indonesia dan Inggris sangat tidak “apple to apple”. Oleh karena itu, mari kita lihat koleksi pustaka Malaysia dengan jumlah buku 4.7 juta ditambah koleksi manuskrip melayu dan beberapa artefak lainnya. Jumlah penduduk malaysia hanya 34 juta jiwa, tapi jumlah koleksi buku mereka sedikit lebih banyak. Singapura adalah negara kecil dengan jumlah 26 pustaka tersedia untuk publik. Jumlah koleksi buku digital mencapai 1.7 juta. Berapa penduduk singapura? hanya 6 juta. Bayangkan berapa buku yang dapat dibaca dan dibawa pulang oleh setiap penduduk dari sebuah pustaka di Singapura.

II. Membaca Dan Menulis Bukan Sekedar Ingin Kelihatan Cerdas

Pada tahun 2023, saat itu penulis sedang berada di sudut pinggiran Ibukota Jakarta. Ketika itu penulis melihat seorang anak laki-laki duduk di bangku kayu sebuah warung kopi di pinggir Kota. Sementara tangan mungilnya terus menggenggam ponsel, matanya terpaku pada layar ponsel. Sementara tak jauh darinya, seorang pria usia paruh baya, ia sambil meminum kopi terus menatap koran yang terbuka lebar di mejanya. Mereka berdua berbagi ruang yang sama, tapi dunia mereka begitu berbeda.

Anak remaja itu (generadi milenial) membaca, tetapi ia tidak benar-benar memahami. Teks-teks yang berseliweran di layar ponselnya itu datang dan pergi begitu cepat, nyaris tanpa kesempatan untuk dicerna. Sementara sang pria paruh baya, ia membaca (koran), tetapi matanya hanya meluncur di atas huruf-huruf tanpa sungguh-sungguh menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Dua generasi yang berbeda, tetapi keduanya mewakili realitas yang sama, yakni tentang krisis literasi yang semakin nyata saat ini.

Literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Ia adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menyintesis informasi. Namun, di era yang serba cepat saat ini, kita lebih banyak membaca sekadar untuk lewat, bukan untuk mengerti. Kita menulis sekadar untuk memenuhi tuntutan, bukan untuk menyampaikan gagasan. Kita tenggelam dalam lautan informasi, tetapi ironisnya, justru kita semakin dangkal dalam pemahaman.

Bayangkan seorang siswa yang harus membaca sebuah buku klasik sebagai tugas sekolah misalnya. Ia mungkin tidak benar-benar membaca, melainkan mencari ringkasan di internet. Lalu ia menuliskan tugasnya dengan bahasa yang terdengar meyakinkan, meski sejatinya ia tidak pernah menyelami isi buku itu. Begitulah pola yang semakin umum terjadi saat ini. Pendidikan yang seharusnya melatih kedalaman berpikir, namun kini lebih banyak berorientasi pada hasil instan.

Sementara di dunia kerja, fenomena serupa berulang. Laporan-laporan dibuat dengan mengandalkan template, proposal disusun dengan bahasa yang terdengar canggih tetapi kering substansi, dan komunikasi profesional lebih sering berkutat dalam jargon kosong yang mengaburkan makna ketimbang menjelaskan. Bahkan, kita telah kehilangan kemampuan untuk menulis dengan jernih, menyampaikan gagasan dengan lugas, dan berpikir dengan kritis.

Mengapa ini terjadi? Sebagian orang pasti akan ada yang menyalahkan teknologi, dan mereka mengatakan bahwa gawai dan media sosial telah membunuh kebiasaan membaca yang hilang. Tetapi sejatinya, bahwa teknologi hanyalah suatu alat. Tapi yang lebih mendasar adalah bagaimana kita untuk menggunakan teknologi itu, dan lalu bagaimana sistem pendidikan serta budaya kita mengajarkan literasi yang seharusnya dan sepatutnya

Di internal sekolah-sekolah kita misalnya, saat ini masih menilai kemampuan membaca sekadar dari berapa banyak halaman yang telah dibaca, bukan dari seberapa dalam pemahaman yang diperoleh. Anak-anak diajarkan mengejar nilai, bukan mengejar makna. Mereka lebih sering diminta menghafal ketimbang memahami. Akibatnya, membaca menjadi beban, bukan kebiasaan yang menyenangkan. Sementara di luar sekolah, budaya literasi juga tidak berkembang dengan baik. Kita lebih senang menyebarkan kutipan-kutipan singkat tanpa mengetahui konteksnya. Kita lebih suka membaca berita dari judulnya saja, lalu segera berkomentar tanpa benar-benar memahami isinya. Media pun terjebak dalam perlombaan klik, lebih memilih judul sensasional ketimbang konten yang mendalam.

Namun, penulis masih punya harapan dan keyakinan, bahwa literasi bisa diperbaiki, tetapi itu butuh perubahan mendasar. Pendidikan harus bertransformasi, tidak hanya mengajarkan anak-anak kita untuk membaca dan menulis, tetapi juga untuk berpikir. Orang tua harus mulai mengenalkan buku sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar tugas sekolah. Media harus lebih bertanggung jawab dalam menyajikan informasi yang lebih bernilai. Demikian juga setiap individu masyarakat, harus mulai melawan arus “leletisme” budaya baca. Bahkan. Kita bisa kembali membaca buku bukan sekadar untuk menyelesaikan, tetapi untuk memahami. Kita (termasuk penulis) sedikit bisa menulis bukan sekadar untuk terlihat cerdas, tetapi untuk menyampaikan pemikiran yang berharga. Kita bisa mulai dari langkah kecil, membaca dengan lebih lambat, tapi tertangkap afinitas nilai keilmuannya, kemudiab menulis dengan lebih sadar, dan berpikir dengan lebih dalam. Bahkan pada dasarnya, literasi bukan sekadar soal membaca dan menulis. Namun, literasi adalah soal bagaimana kita memahami dunia dan bagaimana kita untuk sama-sama berkontribusi di dalamnya. Dan jika kita kehilangan itu, lalu apa lagi yang tersisa dari peradaban kita?

III. Literasi Sebagai Pondasi Dasar Dalam Mewujudkan Peradaban Bangsa

Pendidikan merupakan manifestasi penting dalam kemajuan peradaban. Sementara pendidikan berperan penting dalam pengentasan kebobrokan berpikir putra-putra bangsa. Sementara salah satu upaya untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan adalah melalui budaya literasi. Budaya literasi menjadi topik yang harus hangat untuk terus diangkat disetiap saat dan di setiap kurun zaman oleh kita semua dan termasuk oleh pihak pemangku kepentingan (Kemdikbudristek) dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Literasi berperan penting dalam kemajuan peradaban. Sementara pendidikan merupakan pilar penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu tercapainya kecerdasan bangsa. Hal itu harus terus dilakukan agar tujuan Indonesia untuk menjelma menjadi bangsa dengan peradaban yang maju dapat tercapai. Sedangkan instrumen yang dapat dioptimalkan secara holistik dalam mencapai itu adalah melalui peningkatan dalam dunia pendidikan. Karena, pendidikan memainkan peranan penting dan sekaligus menentukan bagaimana kualitas sumber daya manusia yang ada. Pendidikan juga menjadi kunci dalam kaitannya dengan pemutakhiran terhadap kapabilitas pada poros bangsa kita sendiri. Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan manakala semua bangsa di dunia ini (termasuk bangsa kita) akan terus berpacu dan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat bangsanya demi mencapai kemajuan peradabannya.

Pendidikan yang merupakan manifestasi dari kemajuan peradaban, sejatinya tidak boleh diabaikan. Karena pendidikan sebagai parameter untuk mengukur tingkat kekuatan pada segala sektor yang ada. Sebagai contoh, majunya sistem perpolitikan yang dianut oleh suatu bangsa, hal itu tidak lepas dari kualitas pendidikan itu sendiri. Majunya perekonomian sebagai pilar kesejahteraan masyarakat, hal itu jugga sebagi bagian dari buah manis dari berkualitasnya pendidikan. Karena, pendidikan tidak hanya berbicara soal tujuan yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, bahwa pendidikan memiliki esensi dan substansi yang kuat. Pemberdayaan sumber daya manusia melalui pendidikan, bukan lagi bernilai kewajiban secara formil, melainkan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap insan.

Maka secara teoritik-formil, pendidikan memiliki peran vital dalam pengentasan sumber daya manusia dari kebobrokan berpikir, bertindak, dan membuat keputusan. Selain itu, pendidikan juga dapat diintepretasikan dengan pedagogi, hal itu dikarenkan pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang terkait dengan proses pemeradaban, pemberbadayaan, dan pendewasaan manusia. Bahkan secara definitif, pendidikan sendiri dapat diterjemahkan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya, memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat.

Berangkat dari hal itulah, maka upaya peningkatan pada ranah pendidikan ini merupakan suatu hal yang bersifat wajib dan mutlak. Dimana agar tercapai kualitas pendidikan yang mumpuni, maka diperlukan juga adanya penekanan terhadap dunia literasi. Sedangkan pemahaman yang paling umum dari literasi itu sendiri adalah seperangkat keterampilan nyata. khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya. Bahkan Unesco menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, maka kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian.

A. Buku Sebagai Sumber Literasi

Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi atau bisa disebut sebagai seorang yang literat, apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar dari literasi, yaitu sebagai kemampuan baca tulis dan itu merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara yang lebih luas.

Sementara cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui pendidikan. Budaya literasi tentunya sangat penting ditingkatkan di sekolah. Kemampuan dasar literasi yang berupa kemampuan membaca dan menulis harus menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Banyak manfaat yang didapatkan dari hasil membaca. Dengan membaca, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih luas dan terarah, sehingga kemampuan dalam menjelajahi dan mencerna informasi akan semakin tajam.

Namun permasalahan yang terjadi di internal bangsa kita saat ini adalah rendahnya minat dalam dunia literasi, terutama dalam membaca. Sementara kalau kita merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Melihat rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia, ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia yang akan menghadapi tantangan yang begitu kompetitif, sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain. Bahkan mengutip dari hasil Asesmen Nasional tahun 2021, menunjukkan bahwa skor literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah dan belum mengalami perubahan secara signifikan di bawah rata-rata peserta didik di negara OECD.

Oleh karena itu, dalam rangka menjawab problem tersebut. Nampaknya pihak dari Kemendikbudristek pada saat itu meluncurkan inovasi program terbaru yang dinamakan dengan “Merdeka Belajar Episode ke-23” pada tahun 2022. Dimana dalam program tersebut, Kemendikbudristek menyediakan lebih dari 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu disertai dengan pelatihan dan pendampingan yang ditujukan kepada lebih dari 20 ribu PAUD dan SD yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan minat baca pelajar Indonesia yang dirancang sejak masih duduk di bangku sekolah dini dan dasar. Implementasi program tersebut melalui tiga pilar, diantara adalah ; pemilihan dan perjenjangan, cetak dan distribusi, serta pelatihan dan pendampingan. Pada pilar pertama, yakni pemilihan dan perjenjangan, difokuskan pada pemilihan buku bacaan berdasarkan kriteria buku bacaan bermutu, yaitu buku yang sesuai dengan minat dan kemampuan baca peserta didik. Pilar kedua, cetak dan didistribusi adalah program dari kemendikbudristek yang menyediakan 15.356.486 eksemplar (716 judul) buku bacaan yang bermutu, dengan rincian pendistribusian kepada 5.963 PAUD di daerah 3T dan 14.595 SD di daerah 3T dan daerah dengan nilai kompetensi literasi/numerasi merah. Sementara itu, pilar pelatihan dan pendampingan dimaksudkan dalam tujuan keberhasilan penggunaan buku bacaan pada kemampuan kepala sekolah, guru, dan pustakawan dalam mengelola buku bacaan serta memanfaatkan buku bacaan untuk peningkatan minat baca dan kemampuan literasi siswa. Kemendikbudristek saat itu merancang dan melaksanakan program tersebut dengan harapan, agar masyarakat Indonesia secara luas memiliki ketertarikan dalam dunia membaca (literasi) yang barang tentu akan berdampak positif.

Namun program tersebut tidak akan dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya kontribusi dari masyarakat. Masyarakat perlu untuk menjadi ujung tombak dalam konteks mensukseskan program tersebut. Strategi yang dapat dilaksanakan oleh Kemendikbusristek terhadap masyarakat agar terciptanya efek berkelanjutan kepada masyarakat adalah dengan memaksimalkan tiga pilar yang telah penulis paparkan di atas, yaitu dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada, khususnya pada orang tua, kalangan pendidik dan para penggiat literasi dan para relawan TBM. Melalui pemilihan dan perjenjangan, cetak dan distribusi, serta pelatihan dan pendampingan yang juga ditujukan kepada masyarakat sebagai pemain utamanya. Tujuan dari strategi tersebut adalah untuk dapat mewujudkan program yang telah dirancang secara terstruktur dengan baik ketika dilaksanakan di lapangan.

Lebih dari itu, pendidikan yang memang memegang peran sentral bagi kemajuan suatu bangsa, lagi-lagi harus mendapatkan predikat utama untuk meningkatkannya. Dan apabila minat baca masyarakat kita dapat dipupuk sejak usia dini, maka kemajuan bangsa bukan lagi hal yang sulit dilakukan. Bahkan, kualitas sumber daya manusia (SDM) terletak dari baiknya pendidikan yang ada di negeri yang sama-sama kita cintai ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top