Oleh : Adung Abdul Haris
I. Pendahuluan
Dalam konteks saat ini, trend perkembangan psikologi telah menunjukan adanya kepedulian terhadap nilai-nilai religiusitas yang di bahasakan dengan istilah Kecerdasan Spiritual ( SQ ), dimana sebelumnya lebih didominasi oleh pengakuan tentang kecerdasan intelektual atau kecerdasan otak ( IQ ) dan kecerdasan emosionl ( EQ ), yaitu seolah-olah sebagai penentu kesuksesan seseorang. Dalam pandangan para pendukung teori spiritual gnostik, bahwa IQ dan EQ dianggap tidak mampu lagi menghantarkan manusia pada kebermaknaan hidup, termasuk penemuannya tentang “god-spot” adalah pendekatan yang lebih berorientasi pada nasional natural dan sekuler. Padahal, baik IQ, EQ, dan SQ seyogyanya harus tunduk pada aturan-aturan sang pencipta (Allah). Sementara Islam memandang bahwa kecerdasan spiritual (SQ) yang melekat pada “god-spot” itu harus diberi muatan nilai-nilai keimanan dan spiritualutah kepada sang “Ilahi”, sehingga pada kesaksian dan pengakuan keilahian serta terjadinya pemberdayaan suara hati (inner power ) yang akan menimbulkan perasaan hidup yang komplit (Wholeness ), kerena kedekatannya dengan sang pencipta. Sedankan kajian kecerdasan Ruhaniah dan Emitional Spiritual Quotient (ESQ) adalah jawaban atas harapan kita saat ini agar generasi kita saat ini punya kecerdasan moral-spiritual yang tinggi.
Bahkan, kecerdasan spiritual adalah salah satu bentuk kecerdasan yang telah menarik perhatian banyak orang dalam beberapa dekade terakhir ini. Karena, SQ, IQ, dan EQ, adalah tiga bentuk kecerdasan yang meskipun berbeda namun saling melengkapi dalam konteks memahami dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pada awalnya, kita hanya mengenal kecerdasan intelektual atau IQ sebagai ukuran tunggal kecerdasan manusia. Namun, pada tahun 1990-an konsep kecerdasan emosional atau EQ, saat itu sudah mulai diperkenalkan. Sementara EQ menekankan pentingnya mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahun 2000, pemahaman tentang kecerdasan semakin luas, yaitu dengan munculnya gagasan tentang kecerdasan spiritual atau SQ.
Kecerdasan spiritual menurut para ahli memiliki berbagai definisi yang menarik untuk diulas. Karena, kecerdasan tersebut dianggap penting dan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami dan mengelola emosi serta nilai-nilai Kehidupan. Menurut Danah Zohar Dan Lan Marshall, mereka mendefinisikan bahwa kecerdasan spiritual sebagai kemampuan seseorang untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan bijak, yakni mulai dari memilih nilai-nilai yang tepat, hingga menempatkan perilaku kehidupan sesuai dengan prinsip hidup yang benar rasional. Kecerdasan spiritual merupakan fondasi untuk mengaktifkan kecerdasan intelektual dan emosional. Kecerdasan spiritual adalah tingkat kecerdasan tertinggi yang membantu seseorang untuk menemukan makna dan tujuan hidup. Sehingga dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna dan bermartabat, baik di dunia maupun di akhirat.
Sementara menurut Michael Levin dalam bukunya berjudul “The Spirituality of Age : A Seeker’s Guide to Growing Older”, Michael Levin berpendapat bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mengarahkan seseorang untuk berpikir maju tentang hakikat paling esensial dari kehidupan. Dengan kata lain, kecerdasan spiritual membantu setiap orang untuk memahami dan mengejar tujuan hidup yang lebih bermakna. Lebih dari Michael Levin menekankan, bahwa kecerdasan spritual mendorong seseorang untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang eksistensi, tujuan, dan nilai-nilai hidup. Dan pada akhirnya, hal itu membentuk pandangan hidup yang komprehensif dan terarah. Sementara menurut Iskandar, kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk mengelola norma, nilai, dan kualitas hidup melalui pemanfaatan kekuatan pikiran bawah sadar yang berasal dari “god spot” atau suara hati. Hal itu berarti seseorang dengan kecerdasan spiritual yang tinggi akan mampu menggunakan intuisi dan keyakinannya untuk membuat keputusan yang bijaksana dan beretika.
Bahkan saat ini, terutama dalam kontek untuk menjalani hidup dan kehidupan yang penuh dengan tantangan, seringkali kita terjebak dalam rutinitas dan kemudian lupa akan nilai-nilai spiritual. Padahal kecerdasan spiritual merupakan landasan utama dalam berinteraksi dengan nilai-nilai yang bersifat ilahiah-sakralustik maupun hal-hal yang bersifat duniawiyah yang bersifat profan. Sementara kecerdasan spiritual adalah salah satu kunci untuk menjalani hidup dengan lebih selaras dengan nilai-nilai luhur dan etika beragama.
Lebih dari itu, ketika kita mendengarkan dan belajar dari pengalaman spiritual orang lain, bisa juga untuk bisa meningkatkan kecerdasan spiritual kita. Hal itu bisa dengan cara berpartisipasi dalam diskusi kelompok atau mengikuti ceramah keagamaan adalah cara yang positif untuk mendapatkan wawasan baru dan memperdalam pemahaman kita tentang kehidupan spiritual. Bahkan, Kita juga bisa mengikuti kajian rutin dan berdiskusi sosial keagamaan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang ajaran agama dan bagaimana menerapkannya dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Setelah memahami pengertian kecerdasan spiritual serta cara untuk meningkatkan nilai-nilai spitualitas tersebut, maka kita bisa mulai mengejewantahkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar aetiap usaha yang kita lakukan memang penuh berkah serta dapat membawa perubahan positif baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain (lingkungan yang lebih luas).
II. Kecerdasan Spiritual
Sebagaimana telah dikemukakan dibagian diatas, bahwa kecerdasan spiritual tidak serta-nerta dimiliki oleh banyak orang. Bahkan, orang yang cerdas dan orang pintar, ternyata dua hal yang berbeda. Mengingat, orang pintar belum tentu cerdas. Itu sebabnya, banyak orang yang pintar secara akademik, namun dalam konteks menyikapi kehidupan, belum tentu ia bisa memaknai dengan pikiran yang lebih jernih, positif dan legowo. Lalu, apa yang dimaksud kecerdasan spiritual itu?
A. Kecerdasan Spiritual Ditinjau Dari Perspektif Etimologis
Kecerdasan spiritual bisa juga disebut dengan kecerdasan ruhaniah. Dimana kecerdasan tersebut menekankan pada sarat akan moral, kasih sayang, cinta dan memberikan kemaslahatann untuk umat (manfaat). Secara etimologis, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan seseorang dalam mengembangkan akal budi, sehingga mampu mengolah pikiran, memahami segala hal dengan baik, hal itu berkat ketajaman pikiran dan spiritualitasnya. Sedangkan menurut istilah, kecerdasan spiritual adalah energi batin non jasmani yang meliputi emosi dan karakter. Dimana spirit tersebut merupakan zat yang tidak immaterial. Meskipun demikian, ia tetap memiliki sifat yang secara sederhana kita cirikan menjadi bentuk kekuatan, semangat, karakteristik manusia, tenaga, vitalitas energi disposisi dan lain sebagainya.
B. Kecerdasan Spiritual Menurut Para Ahli
Menurut para ahli, bahwa kecerdasan spiritual memiliki banyak perspektif dan pandangan yang berbeda-beda, diataranya : Pertama, menurut Toto Tasmara, bahwa kecerdasan spiritual menurutnya adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dengan cara mendengarkan hati nuraninya. Dimana orang tersebut, ia mampu memilah dan memilih hati nurani yang baik dan buruk. Sehingga dalam pergaulan-pun ia mampu menempatkan diri sesuai dengan tempatnya.
Kedua, menurut Danah Zohar dan Ian Marshall. Bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah dalam banyak aspek, yakni mulai dari masalah untuk memilih nilai, memposisikan perilaku dengan benar hingga kemampuan untuk membaca tindakan dan tujuan hidup agar jauh lebih bermakna. Lebih dari itu, kecerdasan spiritual juga sebagai dasar untuk mengaktifkan kecerdasaan intelektual. Danah Zohar dan lan Narsall menyebutkan, bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi dari manusia. Ketiga, menurut Michael Levin. Ia berpendapat, bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mengarahkan seseorang untuk berfikir maju pada hakikat yang paling esensial dalam hidup manusia. Keempat, menurut Iskandar. Ia berpendapat, bahwa Kecerdasan spiritual, yaitu kemampuan seseorang dalam mengelola norma, nilai dan kualitas hidup dengan cara mengolah kekuatan pikiran bawah sadar yang bersumber dari “god spot” atau suara hati.
C. Ciri-Ciri Orang Yang Memiliki Kecerdasan Spiritual
Lalu, apakah kita salah satu diantara orang yang memiliki kecerdasan spiritual? Berikut beberapa ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual. Pertama, Fleksibilitas. Kecerdasan spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam menyikapi segala sesuatu lebih fleksibel atau lebih luwes. Karena keluwesan itulah yang mendorong mereka lebih mudah beradaptasi dengan hal-hal baru, bisa menerima pandangan dan berbaur dengan hal-hal yang baru. Kedua, Kesadaran Diri Sendiri. Ciri seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual dapat dilihat dari kesadaran diri terhadap lingkungan. Salah satu bentuk kemampuan terhadap diri sendiri adalah bisa mengontrol emosi. Ia tahu diri dimana emosi itu untuk diekspresikan dengan benar dan kapan harus menahan emosi itu. Termasuk kemampuan seseorang menyadari akan lingkungan disekitarnya. Ketiga, Berpikir Holistik. Berpikir holistik adalah kemampuan seseorang untuk memikirkan segala sesuati secara tersistematis, menyeluruh dan tidak terkotak-kotakan oleh apapun. Pemikiran holistik itulah yang mendasari orang tersebut menjadi pribadi yang “open mind” terhadap berbagai perbedaan.
D. Pentingnya Kecerdasan Spiritual di Era Disrupsi Saat Ini
Dalam konteks saat ini, realitas dunia telah mengalami perkembangan demikian dahsyatnya, baik dari segi kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, dinamika budaya, hingga perilaku manusia. Kemajuan informasi juga telah membuat komunikasi antar individu menjadi semakin mudah dilakukan kapan pun dan dimana pun kita berada. Bahkan, demikian dahsyatnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini memiliki dampak yang signifikan terhadap penyelesaian masalah dalam konteks kehidupan umat manusia. Tidak hanya memberikan dampak yang positif, namun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menyisakan dampak yang negatif. Diantara akibat negatif itu, berupa erupsi moral yang menginfiltrasi (oknum anak muda) penerus bangsa, yang hampir dirasakan di setiap strata kehidupan termasuk di internal (oknum) pelajar kita. Sementara pendidikan pada hakikatnya merupakan media untuk mentransfer pengetahuan dan perilaku pada kenyataan yang sesuai nilai-nilai moral dan sosial yang berkembang di masyarakat. Sedangkan perguruan tinggi yang menyelenggarakan berbagai disiplin ilmu saat ini dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai kemampuan dibidang akademik semata, tetapi juga mempunyai kemampuan yang bersifat teknis analisis dibidang “keterampilan humanistik”.
Sedangkan Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ merupakan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi sebuah fakta. Sementara Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan menerima makna pada apa yang dihadapi dalam kehidupan, sehingga seseorang akan memiliki pemikiran maupun solusi untuk menghadapi permasalahan di masyarakat. Sementara kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri.
Islam mengajarkan tiga aspek pada diri manusia, yaitu soal kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional. Hal itu agar dikembangkan secara seimbang. Kecerdasan spiritual agar dilakukan sepanjang waktu, melalui berzikir atau mengingat Allah. Bahkan telah disebutkan di dalam Al-Quran pada surat Ali Imran ayat 190, bahwa ingatlah Allah SWT hendaknya dilakukan ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring. Sementara kegiatan spiritual lainnya adalah berupa shalat, setidaknya dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Islam juga mengajarkan agar manusia mengembangkan dimensi intelektual seluas-luasnya.
Karena keberadaan akal (kecerdasan intelektual) begitu penting dalam berbagai aktivitas. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang betapa pentingnya seseorang untuk menggunakan akalnya. Bahkan, orang yang tidak menggunakan akalnya, ia bisa dikatakan tidak cerdas (bodoh). Dan itulah sebabnya, ajaran Islam mendorong umatnya, yakni untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara tidak terbatas, atau seluas-luasnya, dan usaha untuk mencarai ilmu pengetahuan itu, harus dilakukan sejak dari ayunan hingga masuk ke liang lahat (utlubul ilma, minal mahdi ilal lahdi).
Dengan kata lain, Islam memandang betapa pentingnya ilmu pengetahuan yang seharusnya dikuasai dan dikembangkan oleh siapa pun. Islam melalui Al-Qur’an telah menganjurkan agar manusia memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan oleh “Neuropsikolog Michael Pessinger” di awal tahun 1990-an, dan “Neurolog VS Ramachandran” bersama timnya di Universitas California (AS) telah menemukan soal keberadaan “Titik/spirit Ke-Tuhanan”. (God spot) dalam lokus temporal pada otak manusia. Sedangkan “Titik Ke-Tuhanan” itu merupakan pusat spiritual setiap insan. Keberadaan “Titik Ke-Tuhanan” telah menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan hal yang dasar dan pokok, agar kita menggunakan kecerdasan intelektual kita terhadap makna dan nilai yang lebih luas. Keberadsan sifat dan substansi “Ke-Tuhanan” di otak manusia merupakan sesuatu hal yang sangat menarik. Hal itu bukan saja karena otak adalah CPU (Central Processing Unit-nya) manusia, melainkan karena isi dan fungsi otak manusia itu merupakan pembentuk sejarah hidup pemiliknya maupun sejarah kehidupan itu sendiri.
Bahkan, ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak manusia dan membuatnya berbeda dengan makhluk lain : (1). Gungsi emosi. (2). Fungsi rasional. (3). Fungsi spiritual. Terkait dengan fungsi spiritual, hal itu bersifat supranatural dan religiusitas. Fungsi itu hendak menegaskan bahwa keberadaan dan otoritatif Tuhan adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu diperdebatkan dan Tuhan Maha Segalanya. Sifat dan kebesaran Tuhan memang ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan dan jaringan syaraf (otak) manusia. Sedangkan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ), yang secara biologi dibuktikan dengan keberadaan “Titik Ke-Tuhanan” itu, yakni dalam struktur otak manusia, dan itu bagian dari kecerdasan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ilahiyah dan transendental, yaitu hal-hal yang melintasi waktu dan ruang. Ia melampaui kekinian dan pengalaman manusia. Ia adalah bagian terdalam dan terpenting dari manusia. Ia menjadikan manusia cerdas secara spiritual dalam beragama, ia juga membawa kita ke jantung segala sesuatu, ke kesatuan di balik perbedaan, ke potensi di balik ekspresi nyata. Kecerdasan Spiritual (SQ) akan mampu menghubungkan kita dengan makna dan ruh esensial dalam agama. Bahkan, seseorang yang memiliki SQ tinggi, ia akan mampu menjalankan agamanya secara optimal. Bahkan dalam konteks menjalankan ritualitas agamanya, ruang lingkup alam pikirannya tidak picik, tidak eksklusif, tidak fanatik buta, dan bahkan tidak selalu berprasangka buruk serta tidak mengklaim kebenaran yang bersifat sepihak.
Sementara optimalisasi otak spiritual, dapat menjadikan seseorang cerdas secara utuh. Karena, terdapat tiga komponen hidup yang lahir dari optimalisasi itu diantaranya : (1). Kejernihan berpikir secara rasional. (2). Kecakapan emosi. (3). Ketenangan hidup, baik secara lahir maupun batin. Sedangkan ketenangan hidup (lahir dan batin), merupakan hasil akhir yang paling tinggi dari nilai otak spiritual (SQ). Karena, kecerdasan rasional dan kecakapan emosional tidak akan berarti apa-apa apabila seseorang tidak memiliki ketenangan dalam hidupnya, baik secara lahir maupun batin. Sementara melatih otak terus menerus dan membiasakannya untuk berpikir secara jernih, akan membuat hati kita menjadi tenang. Sementara kecemasan dan ketidak tenangan hidup, alias terus merasa galau, hal itu dapat dihilangkan dengan membiarkan otak kita untuk menemukan dimensi spiritualnya.
Sedangkan berberapa hal untuk mengoptimalkan otak spiritual kita diantaranya : Pertama, melihat secara utuh, yakni mana yang disebut mata batin? Jika mata lahir kita memiliki jalur syaraf dan pusat penglihatan di otak, apakah demikian juga dengan mata batin? Jawabannya ya, karena mata batin juga memiliki pusat di otak spiritual. Karena, otak spiritual memadukan semua informasi yang diserap. Jika pohon yang dilihat, yang tampak adalah kepaduan dan kesatuan seluruh bagiannya. Maka, melihat dengan mata batin berarti kita juga melihat secara utuh. Bahkan, pengaktifan mata batin dan otak spiritual akan menghilangkan pikiran-pikiran fragmentaris (pikiran kotor). Lebih dari itu, banyak aspek yang dapat diabadikan dengan melalui mata batin. Kedua, melihat tampilan balik tujuan. Melihat dengan mata batin juga berarti melihat sesuatu dibalik penampakan fisik obyektif yang merupakan fakta yang tidak bisa ditolak oleh mata batin. Jika seseorang melihat pohon, yang tampak adalah pohon dan segala kehidupan yang ada “di balik” pohon tersebut. Ketiga, luangkan waktu jeda 10 menit setiap hari, karena tubuh fisik manusia sebenarnya tidak bisa beristirahat. Tidur tidak berarti organ tubuh maupun sel tubuh kita beristirahat. Otak bahkan bekerja lebih aktif dalam mengonsolidasikan informasi, yaitu ketika pemiliknya sedang tidur. Lebih dari itu, sediakan waktu jeda dari berbagai kepenatan hidup sehari-hari, hal itu untuk mengisi otak spiritual kita agar lebih rileks.
III. Kecerdasan Intelektual (IQ)
Sedangkan Kecerdasan Intelektual menurut Zohar and Lan Marshall. Bahwa kecerdasan intelektual (IQ), dapat diukur menggunakan skor dari suatu tes kecerdasan intelektual (intelligence quotient atau IQ). Sementara indikator yang dipakai untuk mengukur kecerdasan intelektual itu terdiri dari tiga domain kognitif yaitu : (1). Kemampuan spasial (suatu kemampuan untuk penalaran) dan pemahaman terhadap bentuk. (2). Kemampuan verbal, hal itu merupakan kemampuan penalaran dan pemahaman terhadap bahasa. (3). Kemampuan numerik, yaitu kemampuan penalaran dan pemahaman terhadap angka.
Sementara kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan di atas, bahwa manusia harus bisa mengimbangi antara spiritual dan intelektual yang dimiliki dengan segala ikhtiar yang ada, agar nantinya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia bisa bermanfaat bagi seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Jika sudah dirasa mampu untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, niscaya seseorang bisa menjadi manusia yang mendekati nilai kesempurnaan dalam segi bersyukur atas semua yang telah Allah SWT berikan.
Menurut beberapa ahli dan para peneliti IQ, bahwa rata-rata IQ (generasi muda Indonesia) memang menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kecerdasan intelektual bangsa. Sedangkan (ata-rata) tingkat kecerdasan intelektual (IQ) di Indonesia berada pada urutan 130 menurut World Population Review 2022 dari sekitar 199 negara, dengan skor IQ 78. Sementara menurut BKKBN, rendahnya nilai rata-rata IQ Indonesia sebagian besar disebabkan oleh “stunting” yang memperlambat pertumbuhan otak pada anak. Sehingga berdampak negatif pada kecerdasan otak. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia tidak perlu berkecil hati dan apalagi mempercayai sepenuhnya menurut hasil riset diatas, justru masyarakat bangsa kita perlu fokus pada solusi untuk mengatasi masalah kecerdasan intelektual tersebut (IQ) agar masyarakat bangsa kita terua mengalami peningkatan intelektualitasnya. Nah, kalau kita lihat dari data International IQ Test misalnya, negara Korea Selatan, mereka menduduki peringkat pertama dengan skor kecerdasan intelektual atau IQ rata-rata tertinggi di dunia, yakni 107,54 per 1 Januari 2024. Sedangkan China ada di urutan kedua dengan skor rata-rata 106,99.
Namun, angka-angka itu diambil dari hasil tes yang diikuti oleh 1,69 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2023. Tapi, kita juga harus ingat kalau data itu belum tentu sepenuhnya mencerminkan keadaan setiap negara. Kenapa? Karena sampel yang diambil pada faktanya cukup kecil dan tidak ada informasi yang jelas tentang demografi responden. Misalnya, hanya 0,05% penduduk Korea Selatan dan Indonesia yang ikut serta dalam tes itu. Selain itu, kita juga tidak tahu usia atau latar belakang para responden. Jadi, tentu saja kita tidak boleh minder dengan rata-rata IQ Indonesia yang konon menurut riset tersebut terbilang rendah, yakni sebagaimana hasil riset diatas.
Berbicara soal klasifikasi IQ, kita juga akan menemukan berbagai tingkat kecerdasan intelektual, yakni mulai dari yang rendah sampai yang sangat tinggi. Contoh kecerdasan intelektual yang sering kita jumpai misalnya kemampuan seseorang dalam memahami dan memecahkan masalah dengan cepat. Sementara itu, contoh kecerdasan IQ yang tinggi bisa kita lihat dari orang-orang yang mampu memberikan solusi kreatif dalam situasi rumit. Sebaliknya, mereka dengan IQ di bawah rata-rata mungkin mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang lebih abstrak.
A. Apa Itu Kecerdasan Intelektual?
Intelligence Quotient (IQ) adalah ukuran standar yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang berdasarkan tes psikologis. Awalnya, IQ dihitung dengan membagi usia mental dengan usia kronologis dan mengalikan hasilnya dengan 100 untuk mendapatkan rasio IQ. Namun, metode tersebut kini telah banyak digantikan oleh deviasi IQ, yang menghitung perbedaan skor individu dari skor rata-rata atau mean. Skor rata-rata IQ ditetapkan pada 100, dengan mayoritas skor berada dalam rentang plus atau minus 15 poin dari rata-rata. Tes IQ tidak hanya memberikan satu skor keseluruhan, tetapi juga dapat menghasilkan skor spesifik seperti IQ verbal dan IQ kinerja. IQ verbal mengukur kemampuan dalam penggunaan bahasa dan pemahaman kata, sementara IQ kinerja mengukur kemampuan dalam pemecahan masalah dan tugas-tugas nonverbal. Perbedaan antara kedua skor itu dapat digunakan untuk mengidentifikasi gangguan belajar atau kekurangan kognitif tertentu. Selain skor utama, tes IQ juga sering memberikan data tambahan seperti kecepatan kinerja, kebebasan dari gangguan, pemahaman verbal, dan indeks organisasi persepsi.
Data tersebut dapat membantu dalam menilai kemampuan spesifik seseorang dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kekuatan dan kelemahan kognitif mereka. Meski demikian, penting untuk diingat bahwa hasil tes IQ harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk faktor-faktor lingkungan dan pendidikan.
B. Klasifikasi IQ (Intelligence Quotient)
Klasifikasi IQ (Intelligence Quotient) umumnya dilakukan menggunakan skala tes Stanford-Binet dan Wechsler. Dua metode penilaian kecerdasan tersebut, yang paling dikenal dan banyak digunakan. Tes Stanford-Binet yang sering dianggap sebagai standar emas dalam pengukuran IQ, menilai berbagai aspek kecerdasan termasuk kemampuan verbal, non-verbal, pemecahan masalah, dan keterampilan numerik. Tes ini dirancang untuk memberikan gambaran komprehensif tentang kecerdasan seseorang. Di sisi lain, tes Wechsler yang mencakup Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) dan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) mengukur faktor-faktor seperti kemampuan verbal, kinerja non-verbal, memori, dan pemecahan masalah. Tes Wechsler juga penting dalam mengklasifikasikan individu ke dalam berbagai rentang IQ yang telah ditentukan.
Dengan mengacu pada kedua tes tersebut, kita dapat memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai klasifikasi IQ dan implikasinya dalam berbagai aspek kehidupan. Berikut klasifikasi IQ yang umum digunakan oleh para ahli untuk mengidentifikasi tingkat kecerdasan intelektual seseorang :
1. Jenius (IQ 140 ke atas).
Individu dengan IQ di atas 140 digolongkan sebagai jenius. Mereka biasanya menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berbagai bidang seperti sains, matematika, dan seni. Kecerdasan intelektual yang tinggi ini memungkinkan mereka untuk memahami konsep-konsep kompleks dengan cepat dan mengembangkan solusi inovatif terhadap masalah. Selain itu, mereka sering memiliki kreativitas yang tinggi dan kemampuan berpikir di luar kebiasaan.
2. Sangat Cerdas (IQ 130-139).
Mereka yang berada dalam rentang IQ ini dikenal sebagai sangat cerdas. Mereka sering kali unggul dalam lingkungan akademik dan profesional. Mereka mampu memahami dan memproses informasi dengan kecepatan dan akurasi yang tinggi. Kemampuan berpikir kritis dan analitis memungkinkan untuk menguasai berbagai disiplin ilmu dan menjadi pemimpin dalam bidang yang digeluti.
3. Cerdas (IQ 120-129).
Orang-orang dengan IQ antara 120 dan 129 dianggap cerdas. Mereka menunjukkan kinerja yang sangat baik dalam tugas-tugas akademik dan profesional. Kelompok ini sering kali berada di atas rata-rata dalam hal pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka memiliki kemampuan untuk memahami dan menerapkan pengetahuan dengan efektif, serta memiliki keterampilan komunikasi yang baik.
4. Di Atas Rata-Rata (IQ 110-119).
Orang dengan IQ dalam rentang ini memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Mereka menunjukkan kinerja akademik yang baik dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan lebih efisien dibandingkan dengan orang dengan IQ rata-rata. Kemampuan mereka untuk belajar dan mengasimilasi informasi baru membuatnya unggul dalam banyak bidang.
5. Rata-Rata (IQ 90-109).
Rentang ini mencakup sebagian besar populasi manusia, sekitar 50 %. Orang-orang dalam kategori ini memiliki kecerdasan intelektual yang memadai untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik. Mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas akademik dan profesional pada tingkat yang memuaskan dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi.
6. Di Bawah Rata-Rata (IQ 80-89).
Orang-orang dalam rentang ini memiliki kemampuan belajar yang sedikit lebih lambat dibandingkan dengan rata-rata. Mereka mungkin menghadapi beberapa tantangan dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami konsep-konsep baru. Dukungan tambahan seringkali diperlukan untuk membantu mencapai potensi penuh.
7. Bodoh (IQ 70-79)
Kelompok ini menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan belajar dan mungkin mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan menengah. Mereka dapat mengurus diri sendiri tetapi membutuhkan dukungan tambahan untuk tugas-tugas yang lebih rumit. Ia juga mungkin menghadapi tantangan dalam situasi sosial dan memerlukan bantuan dalam mengembangkan keterampilan interpersonal.
8. Terbelakang (IQ 50-69).
Orang dalam rentang ini dikenal sebagai terbelakang secara intelektual. Mereka mampu belajar membaca, menulis, dan melakukan perhitungan sederhana, tetapi memerlukan dukungan khusus untuk kegiatan sehari-hari dan tugas-tugas rutin. Mereka mungkin memerlukan program pendidikan khusus dan dukungan terus-menerus untuk membantu dalam kehidupan sehari-hari.
9. Sangat Terbelakang (IQ di bawah 50).
Kelompok ini termasuk orang-orang dengan keterbelakangan intelektual. Mereka memiliki kemampuan kognitif yang sangat terbatas dan seringkali setara dengan anak-anak kecil. Mereka membutuhkan bantuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan mungkin tidak mampu berbicara atau hanya bisa mengucapkan beberapa kata. Dukungan dari keluarga dan profesional sangat penting untuk membantu mereka mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Meskipun rata-rata IQ Indonesia berada di angka 78, penting untuk memahami bahwa klasifikasi IQ hanyalah salah satu aspek dalam menilai kecerdasan intelektual. Sementara Kecerdasan intelektual mencakup berbagai kemampuan seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan pemahaman sosial, yang semuanya tidak sepenuhnya tercermin dalam tes IQ.
Contoh kecerdasan intelektual yang lain dapat dilihat dalam kemampuan berpikir kritis, inovasi, dan adaptabilitas dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, meskipun klasifikasi IQ memberikan gambaran mengenai potensi intelektual seseorang, penting untuk melihat kecerdasan dalam konteks yang lebih luas dan menghargai berbagai bentuk kecerdasan lainnya.
IV. Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami dan mengontrol emosi diri sendiri serta orang lain agar bisa menjalani hubungan sosial dengan baik. Ada lima komponen untuk menentukan kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, keterampilan sosial, empati, dan motivasi diri. Selain adanya kecerdasan intelektuan (IQ), yakni sebagaimana telah dibahas dibagian atas, namun ada juga salah satu jenis kecerdasan yang penting untuk kita dipelajari dan kita kembangkan, dan sekaligus apa yang akan dijelaakan di bagian ini, yaitu kecerdasan emosional. Sementara kecerdasan emosional disebut juga emotional quotient (EQ) atau emotional intelligence (EI). Sedangkan kecerdasan emosional yang baik dapat membantu seseorang untuk bersosialisasi diri, membuat keputusan yang bijak, terutama ketika menghadapi situasi yang sulit. Karena, ada orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik sejak lahir, tapi ada juga yang mungkin perlu diasah dan dilatih soal kecerdasan emosionalnya.
Kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosional sama-sama penting dan saling melengkapi. Selain itu, kecerdasan emosional erat hubungannya dengan kecerdasan interpesonal. Bakan, diantara kita mungkin pernah mengenal orang yang pintar secara akademis, tetapi tidak pandai dalam bersosialisasi diri hingga ia kurang sukses dalam hal pekerjaan atau pun hubungan pribadinya. Sementara untuk mencapai kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidup kita, tentunya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual (IQ) semata. Contoh, tingkat kecerdasan intelektual memang bisa membantu kita untuk masuk ke sekolah atau ke universitas unggulan. Namun nantinya kecerdasan emosional yang akan membantu kita untuk mengelola stres dan emosi saat menghadapi ujian dan tantangan selama menempuh pendidikan. Kecerdasan emosional yang tinggi tidak hanya membuat kita lebih unggul di sekolah atau di tempat kerja, tetapi juga akan mampu memimpin dan memotivasi orang lain, pandai mengelola emosi dan stres, mampu memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, hingga akhirnya bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosional juga akan memiliki kehidupan yang berhasil (bisa menempatkan diri). Karena ia lebih pandai mengelola kesehatan mental, emosi, dan stres, sehingga tidak mudah terkena gangguan kecemasan atau depresi. Jika dipandang dari segi kesehatan fisik, kecerdasan emosional juga bisa menurunkan risiko munculnya keluhan atau penyakit yang terkait dengan stres berkepanjangan, seperti gangguan pencernaan, sakit kepala, otot tegang, susah tidur, masalah berat badan, bahkan penyakit jantung.
A. Komponen Kecerdasan Emosional Dan Cara Meningkatkannya
Menurut seorang psikolog (Daniel Goleman), ia memperkenalkan tentang kecerdasan emosional. Menurutnya, ada lima komponen utama yang diperlukan seseorang agar cerdas secara emosional. Berikut ini adalah penjelasan dari lima komponen tersebut serta cara untuk meningkatkannya:
1. Kesadaran Diri.
Kesadaran diri atau “self awareness” adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami emosi diri sendiri. Orang yang cerdas secara emosional, ia akan memperhatikan setiap emosi yang ia rasakan dengan cermat dan memberi validasi terhadap perasaan tersebut. Contohnya, “hari ini saya merasa bersyukur dan senang” atau mungkin “saya kesal dan frustasi karena atasan saya terlalu banyak menuntut”. Nah, sadar akan emosi diri sendiri, baik positif maupun negatif adalah suatu kemampuan kecerdasan emosional yang paling dasar. Dengan menyadari diri sendiri, maka kita nantinya akan bisa mengenali keunggulan dan keterbatasan diri, lebih terbuka terhadap persepsi orang lain (opin minded), serta percaya dengan kemampuan diri sendiri. Untuk meningkatkan kesadaran diri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu ; cobalah untuk meminta kritik yang membangun tentang diri kita dari orang lain. Buatlah jurnal atau diari pribadi. Luangkan waktu untuk merenung serta fokus ke pikiran dan emosi, dan bila perlu cobalah self-talk yang lebih positif.
2. Pengendalian Diri.
Selain menyadari emosi sendiri, kecerdasan emosional juga melibatkan pengendalian diri yang baik terhadap sesuatu yang memicu reaksi emosional. Ketika kita sudah mampu mengendalikan diri, berarti kita tahu bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi kita dengan cara yang lebih tepat, serta tahu persis kapan dan bagaimana seharusnya untuk memberikan reaksi. Contohnya, ketika ada sesuatu yang memicu amarah, maka respons yang cerdas secara emosional adalah diam sejenak sebelum bereaksi. Dengan cara seperti itu, maka kita pun bisa menjadi lebih tenang dan berpikir lebih jernih tentang dampak yang akan terjadi. Ingat, bahwa mengendalikan reaksi diri sendiri bukan berarti memendam emosi kita yang sebenarnya, tetapi hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Orang dengan EQ yang baik, maka ia akan lebih bijaksana dalam mengatasi konflik dan meredakan situasi yang tenang. Beberapa cara untuk melatih kecerdasan emosional diri diantaranya : Temukan cara untuk mengelola emosi yang sulit. Lihatlah tantangan sebagai peluang. Berlatih keterampilan komunikasi yang lebih baik. Sadarilah bahwa kita punya pilihan untuk merespons dengan baik. Usahakan untuk tidak membuat keputusan atau pernyataan ketika kita sedang dilanda emosi.
3. Keterampilan Sosial.
Kemampuan bersosialisasi dengan orang lain, baik komunikasi verbal maupun non verbal, merupakan komponen kecerdasan emosional yang penting. Dengan keterampilan seperti itu, maka kita pun akan membuat orang lain lebih nyaman berinteraksi dengan kita sehingga bisa membangun relasi yang kuat. Keterampilan sosial nantinya bisa menguntungkan kita di dunia kerja. Untuk melatih dan meningkatkan kecerdasan emosional ini, beberapa cara yang bisa dilakukan adalah: Jadi pendengar yang baik dan lakukan kontak mata saat berbicara. Tunjukkanlah minat kita pada orang lain. Mulailah percakapan sederhana. Rileks dan tenangkan diri, buatlah diri senyaman mungkin agar orang lain juga ikut nyaman untuk berinteraksi dengan kita.
4. Empati.
Kecerdasan emosional juga termasuk memiliki sikap empati terhadap orang lain. Hal itu artinya kita mampu memahami perasaan orang lain dan melihat sesuatu dari sudut pandangnya. Lain halnya dengan simpati, perbedaan simpati dan terletak dalam penerapan dan seberapa jauh perasaan tersebut terlibat. Bahkan, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang kuat, kerapkali ia akan mempertimbangkan berbagai perspektif dan emosi orang lain, lalu menggunakan hal tersebut sebagai informasi untuk memahami dibalik perilaku seseorang.
Sementara untuk membangun empati yang tinggi, cobalah untuk bersedia berbagi cerita atau perasaan dengan orang lain, menjadi pendengar keluh kesah tanpa mencela, dan bayangkan diri kita di posisi orang lain yang sedang terpuruk itu secara psikologis.
5. Motivasi Diri.
Cerdas secara emosional berarti kita memiliki hasrat atau motivasi untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan dari dalam diri sendiri. Motivasi itu tidak selalu harus bersifat materialistis maupun individualistik, seperti ketenaran, uang, pengakuan, maupun pujian. Orang dengan kecerdasan emosional biasanya memiliki tekad yang kuat untuk berprestasi dan selalu mencari cara untuk berbuat lebih baik setiap hari. Ia juga bisa berkomitmen dan pandai mengambil inisiatif. Ia juga selalu senang untuk menerima masukan yang positif dari orang lain agar bisa memperbaiki diri. Untuk membangun motivasi diri, maka kita harus fokus untuk menetapkan tujuan yang kecil terlebih dulu, rayakan apa pun hasil yang diperoleh, tantanglah diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, dan cobalah bekerja sama dengan orang lain. Itulah berbagai hal yang perlu kita ketahui seputar kecerdasan emosional. Jika kita merasa ada kekurangan atau kendala dalam hal kecerdasan emosional hingga menghambat kita untuk berkembang menjadi lebih baik, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog.
Sementara menurut Charles Dickens, sastrawan dan penulis terkenal asal Inggris, ia menegaskan, di era sekarang ini kerapkali terjadi seperti ; “ada orang yang menjadi besar dengan cara terus mengecilkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, seorang yang besar dan sejati adalah dia orang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar”. Bahkan, salah satu ujian dari kebesaran jiwa sejati adalah ketika kita dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam hal apa pun. Sementara tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang kedua atau bekerja di balik layar. Secara manusiawi, kita juga ingin menjadi yang terkemuka dan dinomorsatukan. Bahkan, banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai hal itu, termasuk dengan merendahkan dan menjelek-jelekkan orang lain.
Memiliki kebesaran hati dan membuat setiap orang merasa dirinya besar, bukan hal mudah. Kata kuncinya adalah kerendahan hati. Karena, membesarkan hati dan bersikap rendah hati merupakan dua hal yang tidak mudah. Bahkan dalam hidup sehari-hari, kita juga sering menghadapi tantangan dan ujian atas kedua sikap tersebut. Tuhan sendiri telah memberikan kita banyak teladan, yaitu melalui rasulnya. Para Rasul Allah, mereka telah menunjukkan kerendahan hati yang sejati. Semoga kita mau belajar berbesar hati dan melatih diri untuk bersikap rendah hati.
Sementara menurut William Wilberforce, ia menegaskan bahwa kebesaran sejati seseorang tidak terletak pada kekuasaan atau kekayaan yang ia miliki, melainkan pada bagaimana kekayaan itu digunakan untuk kebaikan. Karena, kekuasaan dan kekayaan hanya memiliki makna apabila dimanfaatkan untuk melayani, membantu, dan memberdayakan orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan kebesaran yang sejati adalah tentang memberi dampak positif pada kehidupan orang lain, terus menunjukkan empati, dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik melalui tindakan yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab sosial. Pernyataan tersebut pada prinsipnya menggambarkan tiga hal yang dianggap tidak terbatas : Pertama, Langit dengan bintangnya, ia pun terus melambangkan tentang keagungan alam semesta yang tak terjangkau. Kedua, Laut dengan tetesan air-nya, ia terus merepresentasikan kedalaman dan kelimpahan alamnya. Ketiga, hati dengan air matanya, ia terus mencerminkan betapa luasnya emosi manusia tentang kesedihan, kebahagiaan, cinta, dan penderitaan yang tidak pernah berakhir. Sementara pesan utamanya adalah bahwa alam semesta fisik dan batin, bahwa manusia sama-sama memiliki dimensi tak terbatas yang mengundang kekaguman dan perenungan yang tak bertepi hingga manusia menempuh alam ajali.
F. Keunikan Diri.
Pernyataan seorang psikolog (John Masson), yang sangat populer adalah ketika ia menyadari tentang keunika diri. “kita dilahirkan unik, jadi tidak perlu setengah mati meniru orang lain”. Hal itu mengandung pesan yang sangat dalam tentang pentingnya menghargai dan mempertahankan keunikan diri kita sendiri.
Berikut ini adalah penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari kata-kata tersebut :
1. Pentingnya Menyadari Keunikan Diri.
John Masson mengingatkan kita bahwa setiap individu dilahirkan dengan ciri khas yang membedakan diri kita dari orang lain, baik itu bakat, pemikiran, kepribadian, maupun pengalaman hidup. Keunikan itu adalah sesuatu yang tak bisa dipalsukan atau digantikan oleh orang lain. Dengan kata lain, kita seharusnya tidak perlu merasa tertekan untuk meniru orang lain karena kita sudah memiliki kualitas yang luar biasa dalam diri kita sendiri.
2. Menghargai Identitas Pribadi.
Saat ini banyak orang cenderung merasa terinspirasi atau bahkan terobsesi untuk meniru keberhasilan atau gaya hidup orang lain, terutama di dunia yang penuh dengan perbandingan seperti media sosial. Namun, John Masson mengingatkan kita bahwa meniru orang lain (menjadi sang imitatif) secara berlebihan hanya akan mengabaikan potensi kita untuk menjadi diri kita sendiri. Kita boleh belajar dari orang lain, tetapi kita tidak perlu kehilangan jati diri kita sendiri dengan terus meniru atau mengimitasi orang lain secara berlebihan.
3. Keberagaman adalah Kekuatan.
Setiap individu membawa kontribusi unik ke dunia ini, baik itu melalui kreativitas, cara berpikir, atau pendekatan terhadap masalah. Keberagaman adalah kekuatan yang membuat dunia lebih kaya dan berwarna. Jika kita terlalu fokus pada meniru orang lain, maka kita mungkin mengabaikan potensi kita untuk memberikan kontribusi yang benar-benar berbeda dan berharga.
4. Kebebasan untuk Menjadi Diri Sendiri.
John Masson juga ingin kita merasa bebas untuk mengejar tujuan dan impian kita sendiri, tanpa terjebak dalam bayang-bayang orang lain. Menjadi diri sendiri berarti tidak harus mengikuti standar atau ekspektasi orang lain tentang siapa kita seharusnya. Hal itu adalah pesan penting tentang kebebasan dan keberanian untuk mengejar kehidupan yang sesuai dengan siapa kita sebenarnya, bukan yang diinginkan oleh orang lain.
5. Menemukan Jalan Kita Sendiri.
Keunikan bukan hanya tentang bakat atau ciri fisik, tetapi juga tentang perjalanan hidup kita. Setiap orang memiliki pengalaman yang membentuk siapa mereka, dan jalan hidup setiap individu pasti berbeda. John Masson mendorong kita untuk menemukan dan mengikuti jalan kita sendiri, bukannya terlalu fokus pada pencapaian atau cara hidup orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih merasa puas dan bahagia dengan perjalanan hidup kita sendiri.
6. Kreativitas dan Inovasi.
Ketika kita berfokus pada meniru orang lain, maka kita cenderung mengurangi potensi untuk berinovasi atau menciptakan sesuatu yang baru. Keunikan yang ada dalam diri kita adalah sumber dari ide-ide kreatif dan solusi baru yang dapat mengubah dunia. Hanya dengan menjadi diri sendiri, maka kita dapat menonjolkan kreativitas dan memberikan dampak positif yang lebih besar. Pernyataan John Masson diatas, menekankan betapa pentingnya untuk tidak terlalu terjebak dalam meniru orang lain, tetapi sebaliknya untuk menghargai keunikan diri sendiri. Setiap individu dilahirkan dengan karakteristik dan potensi yang berbeda, dan itu adalah kekuatan kita. Dengan menyadari keunikan tersebut, maka kita bisa lebih percaya diri dalam mengejar impian dan tujuan hidup kita, serta bisa memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi orang lain.