GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN MELALUI PERUBAHAN PARADIGMA GURU DALAM PEMBELAJARAN

 Oleh: H. Lukman Hakim 

Staf Pengajar SMA Negeri 6 Kabupaten Tangerang-Banten; Pengurus PGRI Cabang Tigaraksa Kabupaten Tangerang  

Belajar (learning) merupakan salah satu topik paling penting di dalam psikologi dewasa ini, namun konsepnya sulit untuk didefinisikan. American Heritage Dictionary mendefinisikannya sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension, or mastery through experience or study” [Untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi]. Namun kebanyakan psikolog menganggap definisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang samar di dalamnya, seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang beberapa tahun belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima definisi belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati. Salah satu definisi yang paling populer adalah definisi yang dikemukakan oleh Kimble (1961, h. 6), yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat). Meskipun cukup populer, definisi ini tidak diterima secara universal. 

Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku; dengan kata lain, hasil dari belajar harus selalu diterjemahkan ke dalam perilaku atau tindakan yang dapat diamati. tidak bisa mereka lakukan sebelum mereka belajar. Kedua, perubahan behavioral ini relatif permanen; artinya, hanya sementara dan tidak menetap. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Kendati ada potensi untuk bertindak secara berbeda, potensi untuk bertindak ini mungkin tidak akan diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku secara langsung. Keempat, perubahan perilaku (atau potensi behavioral) berasal dari pengalaman atau praktik (latihan). Kelima, pengalaman, atau praktik, harus diperkuat; artinya, hanya respons-respons yang menyebabkan penguatanlah yang akan dipelajari. 

Belajar merupakan peristiwa sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan ajar. Bahan ajar tersebut berupa keadaan alam, lingkungan, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Artinya, proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tapi dapat dipahami oleh guru. 

Guru adalah seorang pendidik profesional. Ia bergaul setiap hari dengan puluhan bahkan ratusan siswa. Interaksi efektif pergaulannya sekitar 10 jam sehari. Rata-rata pergaulan guru dengan siswa di SMA misalnya, berkisar antara 40-45 menit per siswa. Intensitas pergaulan tersebut memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Guru adalah pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah.  Manusia unik yang memiliki  karakter sendiri-sendiri. Orang dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, untuk  memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT di muka bumi. 

Masih banyak siswa dan orang tua kesulitan menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga saat ini. Di antara hal yang banyak dikeluhkan siswa adalah kendala internet, sulitnya memahami pelajaran, hingga banyaknya tugas yang dibebankan guru untuk mengganti kelas tatap muka. Ujungnya, banyak siswa kehilangan motivasi belajar bahkan mengalami tekanan mental. Seringkali hal ini berimbas pula pada orang tua siswa.  

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sistem pendidikan Indonesia mengalami kemacetan hampir di setiap aspeknya. Guru terbebani dengan urusan birokrasi, siswa terbebani oleh kurikulum yang menuntut, sementara orang tua tidak punya banyak alternatif. Mirisnya, lembaga pemerintah yang bergerak di bidang ini tidak mampu memberikan solusi, bahkan cenderung menambah masalah. 

Di tengah situasi yang karut-marut ini, guru sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan siswa harus mengubah pola pikir. Meruntuhkan sistem bebal di pusat tidaklah mudah, tetapi perubahan bisa dimulai dari ruang lingkup yang kecil. Ruang kelas dan sekolah adalah contoh nyata di mana perubahan itu bisa diciptakan. “Hal pertama yang harus berubah ialah cara pandang guru tentang pendidikan dan relasi guru-siswa,” kata pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal dalam wawancara dengan Kompas beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan, guru harus mampu menempatkan diri sebagai teladan, pemberi inspirasi, dan fasilitator bagi siswa. Hal ini akan membawa perubahan cara mendidik dengan lebih banyak berdiskusi dan membangun nalar. Bukan dengan cara dikte dan menghafal ataupun hanya berlatih berdasar kisi-kisi soal ujian. “Sekolah harus memberi otonomi bagi guru untuk mengadaptasi materi pelajaran sesuai kebutuhan kelas. Hal ini yang masih menjadi tantangan karena mayoritas pekerjaan guru adalah kewajiban mengisi administrasi seperti menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dan laporan pembelajaran lainnya,” ujar Rizal. 

Guru yang terbelenggu oleh birokrasi menghasilkan siswa yang terbelenggu pula. Akibatnya, siswa tidak mendapat kemampuan yang sangat dibutuhkan di era disrupsi, yaitu nalar, kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian. Mereka tidak bisa mencapai sasaran pembelajaran abad ke-22, mencari jalan keluar untuk permasalahan di sekitar mereka yag semakin beragam dan kompleks. 

Bagaimanapun juga, konsumen sekolah adalah siswa. Pembelajaran harus mendengar aspirasi dan kebutuhan para siswa untuk tumbuh dan berkembang. Guru mengajar siswa literasi dan nalar, jangan memberi mereka sekadar keterampilan yang bisa digantikan oleh mesin, melainkan keterampilan mengembangkan kreasi dan inovasi baru. Diharapkan para guru yang mengikuti pelatihan GSM tidak hanya ditambah wawasannya, tetapi setiap pelatihan memotivasi para pengajar untuk melakukan simulasi pengelolaan kelas berdasar ilmu baru mereka. Hal ini dilakukan agar mereka berkomitmen menerapkan hasil pelatihan yang menjadi prilaku mengajar baru dalam menciptakan sekolah yang menyenangkan dalam menimba ilmu. 

Menjadi Guru yang Inovatif dan Menginspirasi 

Pentingnya campur tangan pihak ketiga dalam perubahan terlihat jelas dalam cerita salah satu pengajar yang menerapkan Gerakan Sekolah Menyenangkan, yakni Frida guru ilmu pengetahuan alam di SMPN 7 Tangerang Selatan. Ia mengaku, dulu dia merupakan sosok yang galak dan suka menghukum siswa. “Saya stres kenapa siswa sudah diajar berkali-kali kok tidak bisa juga? Ternyata saya salah karena tidak membangun komunikasi yang baik dengan mereka,” tuturnya.  

Menurut Frida, hal tersulit untuk ia ubah adalah menaklukkan ego “guru harus disegani siswa”. Mengikuti pelatihan GSM guru belajar bahwa apabila siswa bernalar, mereka memahami makna pelajaran. Satu-satunya cara agar siswa muncul kemauan belajarnya ialah ketika mereka nyaman di kelas. Guru mengganti aturan yang berbentuk perintah, dengan suasana dialogis guru dan siswa dalam membuat kesepakatan. Misalnya, apabila siswa terlambat mengumpulkan tugas satu hari, nilai akan dikurangi, Walhasil, siswa dengan kesadaran sendiri mengerjakan tugas dengan baik dan penuh tanggungjawab. 

Terdapat pula “papan emosi” di kelas. Setiap hari, mereka mencontreng salah satu kolom bertuliskan “senang”, “sedih”, “marah”, dan “mengantuk”. Guru pun mengetahui suasana hati para siswa. Ketika mayoritas siswa mengantuk, guru dapat mengemas pembelajaran dengan menyisipkan permainan seperti tebak-tebakan berbasis materi pelajaran. Siswa yang bisa menjawab diberi penghargaan tepuk tangan yang meriah. 

Ternyata, tidak butuh modal besar untuk menarik perhatian siswa ujarnya. Siswa juga menjadi berani mengangkat tangan untuk bertanya mengenai materi yang tidak mereka pahami. Dalam hal ini membantu evaluasi guru dalam memahami hal-hal yang harus dibenahi pada siswa terkait penguasaan dan penerimaan materi pembelajaran. 

Mengubah sistem yang mendarah daging memang tidaklah mudah, tetapi guru sebagai agen pendidikan bisa memulai perubahan tersebut. Butuh waktu dan pengorbanan, namun tidak ada yang sia-sia jika yang disasar adalah kemajuan generasi bangsa. Kreasi dan inovasi hanyalah jalan masuk untuk membangun nalar berpikir yang maju dan merdeka untuk anak-anak kita.⁣Guru harus mampu merancang dan melaksanakan satu sistem dan atmosfer lingkungan sekolah yang asyik dan menyenangkan dalam menimba ilmu demi kemajuan bangsa dan negara tercinta. 

Empat Prinsip Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) 

Ada empat prinsip dalam model pendidikan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), antara lain: 

  1. Learning Environment: Membangun lingkungan pembelajaran yang positif secara fisik dan sosial
  2. Pedagogical Practice: Mengutamakan model pembelajaran yang mendorong siswa bereksplorasi, berefleksi, dan berpikir kritis
  3. Character Development: Memantik perkembangan karakter baik siswa melalui lingkungan dan model pembelajaran
  4. School Connectedness: Mendorong pelibatan semua pihak terutama wali murid dan masyarakat dalam menyukseskan proses pendidikan terlebih di tengah kita berada dalam situasi pandemi Covid-19 yang tidak pasti kapan berakhir yang memaksa sekolah menjalankan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). 

Keempat prinsip itu memastikan anak-anak memiliki ruang aktivitas fisik dan emosi, interaksi yang hangat, dan saling menghargai dalam kegiatan belajar, sehingga siswa merasa aman dan percaya diri. Adapun tujuan akhirnya adalah para siswa mampu membaca gerak jaman dan memahami persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka mampu dalam menghadapi dan menjawab tantangan jaman.⁣⁣⁣Bayangkan bila keempat prinsip tersebut berhasil diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Saat hal itu terwujud, diharapkan tak ada lagi kesenjangan antara sekolah di kota dan sekolah pinggiran. Tiada lagi beda antara sekolah mahal dan sekolah murah. Yang ada ialah sekolah-sekolah menyenangkan yang memanusiakan dan memerdekakan.  

GSM merupakan gerakan sosial bersama guru untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri dan menyenangkan di sekolah. Gerakan ini mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan utamanya dinas pendidikan untuk membangun Sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang sukses.⁣ 

Ayo, kita wujudkan cita-cita besar itu bersama! 

#Gerakan Sekolah Menyenangkan⁣⁣ 

 

 

 

Deskripsi/ Biodata Penulis 

Lukman Hakim, S.Pd. dilahirkan di Kampung Bojong, Cikupa Tangerang  pada 29 Maret 1977. Pendidikan formalnya diawali dari SDN Bojong V Kec. Cikupa, SMPN 1 Balaraja, SMAN 1 Balaraja dan melanjutkan studi S1 ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui jalur PMDK pada tahun 1995 jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi PPKn. Minatnya berorganisasi sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA dan berkembang subur selama menjadi mahasiswa PPKn (Civic Hukum) di kampus Rawamangun Jakarta (1995-2000). Sebagai aktivis ia adalah pendiri KB MAHABARATA (Keluarga Besar Mahasiswa Balaraja Tangerang Raya), dan juga aktif mendukung terbentuknya Provinsi Banten melalui BKPPB (Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten) bersama aktifis dan tokoh Banten di Jakarta, diantaranya; H. TB Tryana syam’un, H. Tubagus Chasan Sohib, Dedi “Miing” Gumelar, H. M Ali Yahya (P Golkar) Prof. Ronny Nitibaskara (Pakar Hukum Pidana Universitas Indonesia asal Banten).

Aktifis HMI Cabang Jakarta sebagai Ketua Departemen Pemuda dan Kemasyarakatan (1997/1998), Sekum HIMA PPKn Periode 1997/1998, Badan Perwakilan Mahasiswa UNJ Ketua Komisi 1 Pendidikan dan PSDM (1998/1999) dan aktifis Forum Masyarakat Tangerang untuk Provinsi Banten (FORMATANG BANTEN) bersama H. Acep Permana, ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan aktifis pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa Berprestasi Utama Peringkat 1 tingkat FPIPS Universitas Negeri Jakarta Tahun 1999#, dan peserta Teladan  Forum Pemantapan Wawasan Kebangsaan bagi Mahasiswa PTN/PTS se- DKI Jakarta 1997. Kecintaannya dalam berorganisasi dan profesi  Pendidik menjadikannya sebagai Ketua MGMP PPKn  Kab. Tangerang dari Tahun 2013 sampai sekarang), juga menjabat sebagai Ketua PGRI Ranting SMAN 1 Tigaraksa di tahun 2010-2015 dan sekarang diamanahi tugas sebagai Wakil Sekum PGRI Cabang Tigaraksa. 

Kini mengabdikan diri sebagai pendidik di SMAN 6 Kabupaten Tangerang, Banten mengajar bidang studi PPKn dulu dan Tata Negara, serta pernah mengampu beberapa mata kuliah bidang pendidkan, politik, Sisiologi dan hukum di Universitas Mathlaul Anwar Pandeglang (2005-2008) dan Universitas Terbuka (UT) Pokjar Tigaraksa (2008-2012). Sebagai Ketua Kelompok Belajar/ Kepala Sekolah PKBM Adis School Balaraja (2014-2019). Pernah menjadi Finalis LKTI tahun 2013 dan Penerima Anugerah Konstitusi Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Banten Peringkat 3 Tahun 2019, juga aktif menulis opinidan atau artikel dibeberapa media cetak dan online lokal dan nasional. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top