Menjadi Atheis Adalah Pilihan

Ocit Abdurrosyid Siddiq

Beredar kabar di media sosial, ada seseorang yang diwawancara oleh reporter sebuah televisi swasta lokal, yang mengaku memilih untuk atheis. Sederhananya, atheis merupakan sikap seseorang untuk tidak memercayai perkara gaib, termasuk tidak memercayai keberadaan Tuhan.

Pengakuan itu menuai polemik. Muncul beragam tanggapan. Pada umumnya, tanggapan itu bernada menyalahkan yang bersangkutan. Termasuk vonis salah dan stigma sesat. Karena hanya berupa vonis dan stigma, tidak disertai dengan argumentasi mengapa jalan hidup yang dipilih oleh yang bersangkutan itu dinilai keliru dan salah.

Namun saya sendiri tidak menyalahkan respon sebagian publik yang demikian. Respon bernada ceplok-batok saling menguatkan dan saling membumbui itu merupakan hal yang wajar, tersebab pengakuan seseorang yang tidak populis, tidak biasa, bahkan terkesan berani, di tengah orang-orang yang mengenal agama secara doktrinal.

Hah, doktrinal? Ya iya lah. Kan kita beragama itu hasil warisan. Orangtua beragama tertentu, maka anaknya relatif memilih -tepatnya menganut- agama yang sama dengan orangtuanya. Orangtuanya Islam, anaknya pasti Islam. Orangtuanya Kristen, pasti anaknya Kristen. Orangtuanya Yahudi, pasti anaknya juga Yahudi. Sedikit sekali seorang anak yang berbeda agama dengan orangtua.

Respon ceplok-batok itu misalnya, “Bila orang itu meninggal, dia mau diurus dengan cara apa?”. Atau “Kalau itu benar, kasihan orangtuanya. Mending satukan saja dengan artis di LA yang tewas karena kebakaran”. Atau “Kalau disambar petir, kira-kira akan seperti apa itu orang, ya?”. Ceplok-batok saling membumbui tanpa argumentasi kan?

Bagi seorang atheis, perkara “ketika mati dan jenazah dia mau diurus dengan cara apa”, itu sudah selesai. Sudah bukan menjadi urusannya. Karena bagi yang mati, sudah tidak ada urusan lagi. Itu perkara justru menjadi urusan bagi yang hidup. Lha, jangankan jenazahnya mau dibagaimanakan, wong sekelas Tuhan saja sudah tidak dia akui keberadaanNya.

Kawan saya di group Diskusi Filsafat dan Logika, Alung namanya, berpendapat begini : “Keluar dari agama terus nanti kalau mati bagaimana? Jenazahmu diapakan? Tidak beragama, terus nanti di akhirat kalau ditanya malaikat jawabmu apa? Bila tidak percaya Tuhan ada, lalu kalau ternyata Tuhan ada, bagaimana nasibmu?”.

Pertanyaan itu mencerminkan bahwa beragama membuat banyak orang tidak mampu melihat sudut kepercayaan yang berbeda. Bahwa kepercayaan sesudah mati atau after life itu tidak sama antara agama satu dan agama lainnya. Walaupun ada banyak agama yang memiliki konsepsi yang sama.

Persoalan jasad sesudah orang mati adalah persoalan orang yang masih hidup. Yang mati mah tidak bisa memikirkan atau tidak peduli lagi jasadnya mau diapakan. Banyak orang mati bahkan jasadnya tidak bisa ditemukan. Yang masih hiduplah yang membutuhkan dan menghajatkan pertolongan.

Sederhananya, orang yang sudah pindah agama, meninggalkan agama atau atheis, sudah tidak lagi percaya kepada ajaran lamanya. Jadi, menakut-nakuti tentang alam kematian tentu tidak berlaku lagi bagi dia. Sudah tidak takut lagi karena sudah percaya dan sudah yakin dengan yang baru.

Bagaimana bila seseorang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, lalu ternyata Tuhan ada? Dalam filosofi theologi hal semacam itu sering dikaitkan dengan Pertaruhan Pascal atau Pascal’s Wager.

Bagi orang yang percaya Tuhan itu satu atau monoteistik, pertaruhannya seolah 1 : 0, antara ada dan tiada. Padahal, ada ribuan agama dan dengan begitu maka ada ribuan “tuhan” yang disembah. Tetapi karena anda cuma percaya satu, peluangnya bisa 1 : 4.000 atau sejumlah agama yang ada. Tiap agama beda Tuhan. Agama ada 4.000. Maka ada “tuhan” sejumlah itu.

Masih menurut Alung, dia meneyarankan bahwa “Alih-alih hidup dalam ketakutan dan kemudian membenci seseorang yang tidak anda kenal secara langsung hanya karena mereka pindah agama atau atheis, lebih baik fokus pada saling menyayangi dan berbuat baik. Apa pun yang akan terjadi sesudah kita mati, setidaknya selama hidup kita menjalani dengan baik saling menyayangi”.

Dia mengakhiri bahwa “Apa pun keputusan orang dalam memilih kepercayaannya, pilihannya adalah sepenuhnya di tangan orang itu”. Saya sendiri cukup enteng bahkan nyantai atas pilihan orang untuk menjadi atheis itu. Pengakuan itu bisa jadi karena memang sebagai hasil perenungannya, bisa jadi karena pemahaman keberagamaannya. Bahkan bisa jadi sebagai cara sensasional baginya untuk menarik perhatian orang dengan cara yang “nyeleneh”.

Mengapa disebut nyeleneh? Ya , karena tidak lazim. Tidak kaprah. Menabalkan diri sebagai seorang atheis di tengah umat beragama yang kadar keberagamaannya sangat “religius”, pasti akan menuai resistensi. Pastinya itu situasi yang secara sadar akan dia hadapi. Dan itu terbukti. Sumpah, serapah, cacian, makian, nyinyiran, membuncah atasnya.

Jadi, sebetulnya tak perlu haliwu dengan pilihan keyakinan orang. Mengapa? Karena keyakinan itu merupakan hak paling mendasar bagi manusia. Oleh sebab itu, keyakinan orang lain tidak bisa mengintervensi keyakinan seseorang. Hidup itu pilihan. Memilih beriman, itu pilihan. Maka memilih jalan “sesat” sebagaimana orang lain sematkan, itu juga pilihan.

Sederhananya, Tuhan memberikan pilihan kepada manusia. Pilihan itu, jalan lurus, buahnya surga. Jalan sesat, akibanya neraka. Untuk bisa memilih itu, Tuhan membekali manusia dengan akal. Dengan akalnya, manusia menentukan pilihan hidupnya. Itulah makna dari “Hidup adalah pilihan”.

Jadi, Tuhan sendiri tidak memaksa manusia untuk mentaatiNya. Prasangka saya, “setiap tuhan” dalam tiap agama, begitu. Tuhan enggak suka maksa. “Mereka” memberikan pilihan kepada umatNya untuk menentukan pilihan. Tinggal kitanya, mau milih yang mana. Tentu saja, milihnya pakai akal, juga iman.

Yang suka maksa itu, ya manusia, kepada sesama manusia. Lha, wong Tuhan sebagai Khalik tak suka maksa makhlukNya, mengapa kepada sesama makhluk kita suka melampaui iradah dan kewenangan atau otoritas Tuhan?

Jadi, mau beriman, mau setengah beriman, mau beriman hanya di mulut, mau beriman tanpa disertai dengan komitmen iman -dan itu sejatinya merupakan kelakuan kita selama ini- bahkan memilih untuk tidak beriman pun, itu pilihan. Tinggal, resiko tanggung masing-masing.

Tetapi, bukankah dalam agama ada ajaran amar makruf nahyi munkar? Nah itu dia. Konsepsi inilah yang mendorong seorang beragama (Islam) “mengintervensi” keyakinan dan prinsip orang lain, baik yang seagama maupun yang beda agama.

Perkara ini kita bedah dalam celoteh berikutnya. Salam.
*

Penulis adalah Pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua III Pengurus Besar Mathlaul Anwar, Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top