Catatan Harian Ahmad Wahib, Buku Pergolakan Pemikiran Islam Dan Orang-Orang Yang Tercerahkan (Rausanfikr)

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

Orang-orang yang tercerahkan atau kaum “Rausanfikr”, pada realitanya memang mempunyai tanggungjawab yang besar yaitu untuk mencari sebab-sebab yang sesungguhnya dari keterbelakangan masyarakatnya dan menemukan penyebab sebenarnya dari kemandekan, kejumudan (kebobrokan) rakyat dalam lingkungannya. Bahkan, orang-orang yang tercerahkan itu harus mendidik masyarakatnya yang masih terbelakang itu (bodoh) dan masih tertidur, mengenai alasan-alasan dasar bagi nasib sosio-historis mereka yang tragis dengan berpijak pada sumber-sumber tanggungjawab, kebutuhan-kebutuhan dan penderitaan masyarakatnya. Lebih dari itu, orang yang tercerahkan harus menentukan pemecahan-pemecahan masalah se-rasional mungkin. Hal itu demi memungkinkan rakyatnya untk membebaskan diri dari status quo. Demikian ungkapan Dr. Ali Syari’ati (Sang pencerah/intelektual dari Iran).

Pemikiran Dr. Ali Syari’ati, yakni soal perubahan masyarakat bertemu dengan apa yang pernah dibayangkan oleh seorang Antonio Gramsci (Cendikiawan Perancis) tentang keberadaan intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Sedangkan intelektual tradisional, mereka berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi. Sebaliknya, bahwa keberadaan intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili. Intelektual organik menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak.

Bagi Dr. Syari’ati, bahwa suatu perubahan akan lahir dari gerakan mereka yang tercerahkan. Mereka adalah agen perubahan sosial yang nyata, karena pilihan jalan mereka adalah meninggalkan menara gading intelektualisme dan turun gunung untuk terlibat dalam problem-problem real masyarakat. Mereka adalah katalis yang meradikalisasi massa yang sedang tidur panjang menuju revolusi melawan penindas. Masyarakat dapat mencapai lompatan kreatifitas yang tinggi menuju perubahan fundamental struktur sosial-politik akibat peran kataliis dari para kaum rausanfikr/sang pencerah.

Menurut pabdangan penulis, bahwa sumbangan terbesar dari Dr. ALI Syari’ati tentang Islam dan revolusi (di Iran) sebenarnya bukan dalam kekuatannya sebagai seorang teoritikus Islam dibidang ilmu-ilmu sosial, seperti Ibnu Khaldun dengan Muqaddimahnya. Atau barangkali, seperti Erward Said yang dengan Orientalism-nya telah membongkar dan meruntuhkan bangunan ilmu-ilmu sosial “Barat” yang selama ini dibangun dengan power. “kesadaran kolektif” yang menjadi basis kekuatan revolusioner tidak selalu berangkat dari kesadaran kelas, tetapi juga bisa dari kesadaran agama.

Agama dalam konteks ini tentu saja bukan agama dalam pemahaman umum, tetapi agama yang telah mengalami “ideologisasi”
sehingga mampu memberi kekuatan revolusioner di Iran, Itulah tesis dari Dr. Ali Syari’ati yang paling monumental. Saya tidak mengalami “kagetologi” alias heran jika setelah revolusi Iran terjadi, maka kerangka teoritik yang biasanya dijadikan konseptualisasi “social movement” menjadi berantakan, karena sering meremehkan faktor budaya sebagai kekuatan “symbolic resistance”.

II. Buku Catatan Harian Ahmad Wahib Dan Warisan Intelektual

Sebagaimana telah diungkapkan di bagian atas, yakni munculnya sosok seorang raunsanfikr attau sang intelektual fenomenal dari Iran, yakni Dr. Ali Syari’ati. Maka dalam konteks Indonesia menurut pandangan penulis, terutama di era tahun 1970-an, saat itu munculah sosok seorang intelektual, Ahmad Wahib (1942-1973). Ia seorang inteltual, wartawan, budayawan dan pemikir Indonesia yang konsisten untuk merekam pengulatan pemikirannya di atas meja, di sebuah bilik kecil (sebuah kontrakan). Dan ia setiap saat terus menulis dan menulis dalam beberapa lembar buku tulis lusuh persis seperti diari. Beliau mengikuti secara dekat perdebatan para ilmuwan dan intelektual era Orde Baru (Orba).

Sosok seorang Ahmad Wahib, ia wafat akibat kecelakaan (tergilis sepeda motor), yaitu saat pulang kerja. Saat itu, seorang temannya bergegas menuju ke bilik sewa (kontrakan) Ahmad Wahib, yakni untuk menyelamatkan buku-buku catatan hariannya yang kemudian terjilid dan akhirnya menjadi sebuah buku yang sudah beredar hingga saat ini berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam”. Buku tersebut merupakan kumpulan catatan harian dari Ahmad Wahib sebagai sebuah renungan pemikirannya tentang Islam. Buku itu mendapat banyak tanggapan dan ulasan dari berbagai kalangan ormas Islam, media masa dan para intelektual. Ada yang pro dan ada yang kontra. Buku yang tebalnya kurang lebih sekitar 404 halaman itu dan sekarang telah masuk cetakan ke-enam, sangat bagus untuk dibaca, disimak dan didiskusikan khususnya bagi kalangan pemikir (kaum raunsafikr).

Bahkan, cetusan-cetusan dari pergulatan pemikiran Ahmad Wahib itu, tampak dan sangat mewarnai catatan-catatan hariannya yang demikian menginsfirasi. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak hal-hal yang ditulisnya itu memang cukup membuat dahi kebanyakan orang untuk mengkerut, lebih-lebih bagi mereka yang menganggap apa yang dipersoalkannya itu adalah soal-soal yang sangat tabu, final dan sakralustik. Akan tetapi, bagaimanapun keyakinan kita masing-masing, bahwa catatan harian dari almarhum Ahmad Wahib ini memang cukup mengesankan. Bahkan secara intelektual mungkin akan merangsang dan menggoda pikiran kita. Paling tidak, bisa memahami proses pergulatan pemikiran seorang anak muda yang sedang mencari. Orang boleh setuju atau-pun menolak pikiran-pikiran (alm) Ahmad Wahib, tapi Ahmad Wahib yang secara fisik berperawakan kecil itu, walau meninggal dalam usia yang relatif masih muda, tapi perjalanan hidupnya tidak sia-sia. Dan bagi kawan-kawannya, bahwa catatan harian (alm) Ahmad Wahib, merupakan warisan intelektual yang sangat berharga. Lebih detailnya buku yang berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” itu terbagi dalam empat (4) bagian : Bagian pertama, membahas ikhtiar menjawab masalah keagamaan. Bagian kedua, meneropong politik dan budaya tanah air. Bagian ketiga, dari dunia kemahasiswaaan dan keilmuan. Bagian keempat, membahas pribadi yang selalu gelisah.

III. Buku Pergolakan Pemikiran Islam

Sekitar 45 tahun yang lalu, pihak LP3ES telah menerbitkan sebuah catatan harian dari seorang intelektual muda muslim, yaitu Ahmad Wahib, yang hingga saat ini telah menjadi buku berjudul, “Pergolakan Pemikiran Islam”. Bahkan dua tahun kemudian, penerbit yang sama (LP3ES) membukukan diary atau catatan harian dari seorang Soe Hok Gie, yaitu catatan seorang Demonstran. Kedua buku yang ditulis oleh kedua aktivis yang wafat dalam usia relatif masih muda itu, akhirnya mendapat sambutan demikian luas pada saat itu (di era tahun 1970-an). Bahkan, seorang cendekiawan Daniel Dhakidae, akhirnya ia “mendapuk” kedua cendikiawan itu sebagai “humanistic intellectual” yang realitanya memang tidak pernah disukai oleh para penguasa yang ada saat itu, karena mereka melakukan proses penelanjangan paradigmatik terhadap masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi”. Yang unik dari keduanya, mereka beberapa kali mengutip karya-karya para filsuf eksistensialis (Satre) dalam keseluruhan catatan harian mereka. Sedangkan studi tentang eksistensialisme di Indonesia, memang tak terbatas dibidang filsafat semata, tapi terus merambah ke disiplin ilmu lainnya yang memang akrab dengannya, seperti psikologi dan sosiologi.

Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, penulis mencoba untuk menerawang (melihat) sosok seorang Ahmad Wahib (sang cendikiawan muslim) dari sisi pemikiran maupun dimensi eksistensialismenya, terutama bagaimana upaya Ahmad Wahib, ia kemudian menjadi dirinya yang otentik, di tengah absurditas zaman, yang realitasnya saat itu bahwa dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama pasca kejatuhan Orde Lama, yang tak lama kemudian digantikan oleh Orde Baru.

Dalam catatan harian Ahmad Wahib terutama yang ditulis pada tanggal 26 Oktober tahun 1969, saat itu Ahmad Wahib menulis dengan judul, “Teori Kaum Eksistensialis”. Sangat tepat bahwa sesungguhnya manusia itu adalah individual dan tak bisa dikotak-kotakkan dalam skema-skema tertentu. Manusia itu menghadapi persoalan-persoalan sendiri dalam bereksistensi dengan lingkungannya, yang membuat tiap manusia memiliki masalah-masalah sendiri yang tidak dimiliki manusia lainnya”. Lebih dari itu, Ahmad Wahib juga menulis kekagumannya kepada sang filsuf eksistensialisme (Satre). Menurut Ahmad Wahib, di tengah absurditas: “Problema manusia memang merupakan problema yang menarik. Ragu, ketidaktentuan, merupakan salah satu unsur yang melekat pada kehidupan seorang manusia. Cemas, ragu-ragu, kecewa, keunikan-keunikan pribadi, terjepit oleh pilihan-pilihan yang semuanya jelek, merupakan keadaan yang sering tak bisa kita hindarkan”. Oleh karena itu, apa-apa yang diungkap oleh falsafah eksistensialisme itu, merupakan tercermin dengan jelas dalam judul drama “Pelacur”. Judul drama tersebut merupakan karya dari JP Sartre, dan Itulah kelebihan Sartre menurut Ahmad Wahib, yaitu ketimbang dari pada filsuf eksistensialisme lainnya. Satre menurut Ahmad Wahib, ia bisa menyalurkan falsafahnya lewat novel-novelnya. Alangkah hebatnya karya Sartre yang satu itu, dan betapa rumitnya manusia itu. Karena itu tidak mungkin kita mengenal dengan tepat kawan kita yang paling akrab sekalipun, karena untuk manusia tidak ada ukuran obyektif yang sepenuhnya bisa dipakai dengan berhasil. Karena, manusia itu unik dan penuh dengan subyektivitas. Dan itu tidak bisa dihindarkan selama kita bernama manusia. Kita boleh memberontak dan meradang terhadap nasib, tapi pemberontakan dan peradangan itu sendiri adalah buah dari subyektivitas kita sendiri. Sedangkan pengetahuan kita tentang hakekat manusia itu sendiri akhirnya melahirkan dua hal : Pertama, sikap toleransi dan harga menghargai. Kedua, sikap memberontak terhadap belenggu-belenggu kebersamaan, seperti di internal organisasi-organisasi kita sendiri.

Akhirnya, dua teman dekat dari Ahmad Wahib, yaitu Djohan Effendi dan Ismed Nastsir, mereka menyunting 17 jilid buku tebal tulisan tangan dari (alm) Ahmad Wahib. Kemudian Djohan Efendi yang akhirnya ia yang menulis Pendahuluan di buku berjudul, “Pergolakan Pemikiran Islam” itu.

A. Riwaya Hidup

Ahmad Wahib dilahirkan di Sampang, Madura, Jawa Timur, pada tanggal 9 November 1942. Ayahnya seorang pemuka agama Islam di Kotanya, sehingga tak heran bila Ahmad Wahib, ia sempat mengecap kehidupan di pondik pesantren. Setamat SLTA di Pamekasan tahun 1961, ia kuliah meski tak sampai meraih gelar sarjana di Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kendati ia menjadi aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam di Yogya, namun ia malah tinggal di sebuah asrama Mahasiswa Katholik. Di luar HMI, Ahmad Wahib aktif di Lingkaran Diskusi Limited Group yang dipimpin Prof. Dr. Mukti Ali, kelak menjadi Menteri Agama zaman Orde Baru. Pada tahun 1971, Ahmad Wahib hijrah ke Jakarta. Selain kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, ia juga aktif disetiap diskusi-diskusi di rumah Dawam Rahardjo, sahabatnya di HMI Yogya yang Sarjana Ekonomi UGM, bersama Nurcholish Madjid (Ketua Umum Pengurus Besar HMI) yang sarjana sastra Arab IAIN Jakarta. Ahmad Wahib wafat pada tanggal 31 Maret tahun 1973, setelah kecelakaan (ditabrak sebuah sepeda motor) yang pengemudinya melarikan diri di simpang jalan Raya Senen, selepas bekerja malam sebagai reporter majalah Tempo waktu itu, dan ia (jasadnya) dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Ketika menjadi mahasiswa di Yogya hingga bekerja sebagai wartawan di Jakarta, Ahmad Wahib merupakan salah seorang tokoh “dibalik layar” gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang nota bene saat itu telah digaungkan oleh Dr. Nurcholish Madjid (Cak-Nur). Transisi politik di zaman (Orba), akhirnya menuntut pergulatan ide kaum muda muslim, seperti Ahmad Wahib, ia sesungguhnya untuk menyembuhkan tentang “trauma” soal ide negara Islam, sejarah Masyumi dan eksistensi Partai Islam pada saat itu. Dan saat itu (era tahun 1970-an) memunculkan slogan tentang “Islam Bukan Ideologi dan Islam Yes, Partai Islam No”. Senentara kritikannya kepada kaum muslimin Indonesia yang di matanya lebih berkomitmen kepada organisasi ataupun kepada para tokoh Islam ketimbang pada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri, akhirnya dengan pulgarnya ia mengeritik internal kaum muslimin pada waktu itu, pada akhirnya mengundang pro dan kontra. Kendati gagasan pembaharuan pemikiran Islamnya berawal dari “tiga serangkai” HMI Yogyakarta, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, dan Dawam Rahardjo. Namun, di akhir tahun 1960-an, nama mereka malah terlupakan, yakni setelah Dr. Nurcholish Madjid (Cak-Nur) berpidato berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam” di Jakarta pada tahun 1970.

Sementara soal kritikannya terhadap kepalsuan, ketidakotentikan hidup, serta publik yang abstrak terus digaungkan Ahmad Wahib. Dan ia terus komitmen terhadap kebebasan berpikir ala Aristoteles, Hegel, atau Immanuel Kant: “manusia pada hakikatnya adalah pengada yang rasional (rational being) yang ingin tahu dan berusaha menggapai kebenaran (rational being)”. Bahkan, dalam catatan hariannya pada tanggal 17 Juli tahun 1969, Ahmad Wahib kemudian menulis: “Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya kepada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran… Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas, berarti ia telah menghina rasionalitas eksistensi Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan, karena kepercayaannya hanya sekadar kepura-puraan yang tersembunyi… Pada hemat saya, orang-orang yang berpikir itu, walaupun hasilnya salah, masih jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir”.

Lebih dari itu menurut Ahmad Wahi, bahwa sebagai manusia yang mencoba membuka diri dari berbagai kemungkinan, ia harus terus bereksistensi diri secara otentik. Akhirnya, pada tanggal 1 Desember tahun 1969, Ahmad Wahib, ia kemudian menulis : “Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan, aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku, pada saat sakratul maut..!”.

Menurut pandangan penulis, (alm) Ahmad Wahib sangat idealis dan agamis (sang pemikir Islam), namun ia memposisikan dirinya sebagai seorang pemikir yang bebas. Hal itu juga diakui oleh Ahmad Wahib sendiri, bahwa ia memahami risiko kebebasan berpikirnya yang radikal itu, yang akhirnya kerapkali banyak orang yang menjastifikasi dirinya, bahwa ia dikonotasikan seperti Sartre yang mengakui betapa “penuh susah payah” hidup sebagai atheistik.

Sementara dalam catatan panjangnya, yaitu tentang pembaharuan pemikiran Islam, Ahmad Wahib kemudian menulis pada tanggal 14 Juli tahun 1972, “Djohan dan saya tidak khawatir untuk ragu-ragu atau kafir karena kami yakin bahwa Tuhan menolerir hamba-Nya untuk meragukan atau tidak mempercayai ajarannya sebelum taat sepenuh hati. “Bagaimana saya disuruh percaya atau menaati kalau tidak diberi hak untuk tidak percaya atau ingkar?” Demikian kata-kata yang sering kami berdua lontarkan dalam diskusi-diskusi dan di acara training-training”.

Lebih dari itu, Ahmad Wahib juga terus terilhami oleh pemikiran salah seorang filsuf asal Denmark, yaitu Kierkegaard, dimana ide dasar dari sang filsuf asal Denmark itu pada soal subyektivitas. Menurutnya, pada diri manusia sendiri yang mengalami berbagai gejolak dalam kehidupannya, sehingga eksistensi otentik dapat dicapai. Dan ide Kiekegaard itulah yang terus menginsfirasi pikiran Ahmad Wahib, kemudian ia terus mengkritik “publik” yang menurutnya bahwa publik Indonesia saat itu merupakan entitas abstrak dan tempat persembunyian bagi orang banyak, yaitu orang yang takut untuk menyatakan diri atau menghidupi eksistensinya secara berani dan tegas. Bahkan dalam “puisi” panjangnya yang melankolis itu kepada sobatnya, yaitu kepada Djohan Effendi, pada tanggal 14 Agustus 1969, Ahmad Wahib menulis perpisahannya dengan HMI: “kehadiran kita sebagai muslim/kita nilai sebagai kebetulan/untuk itu kita cari/ Islam menurut kita sendiri/Islam menurut kamu/dan Islam menurut aku sendiri/… sebagaimana prinsip kita/warna yang beraneka rona kita hormati/bentuk yang beraneka ragam kita terima/pluralisme, itulah prinsip kita/… bagi kita/theis dan atheis bisa berkumpul/muslim dan kristiani bisa bercanda/artis dan atlit bisa bergurau/kafirin dan muttaqin bisa bermesraan/tapi/puralis dan antipluralis tak bisa bertemu/dia menyangkut milik manusia yang paling tinggi/awal dan akhir/pribadi/dia menyangkut keterbukaan dan ketertutupan/dia menyangkut adanya pribadi atau lenyapnya pribadi/bagi kita/tak ada pribadi, tak ada manusia/kemerdekaan adalah hakekat eksistensi manusia/ini masalah dasar kita/ apalagi bagi organisasi kader/yang sasarannya : bahwa manusia dengan kepribadiannya/… kita tengadahkan muka ke atas/ke alam bebas dan lepas/dimana pluralisme bisa hidup/dan antipluralisme tak menemukan ruangnya/dimana perkawinan pendapat bukan pengkhianatan/dimana pertentangan pendapat bukan pengacauan/dimana pembaharuan sikap bukan kejelekan/… kita cari ruang bebas/dimana warna yang beraneka adalah rahmat/dimana bentuk yang beragam adalah hidayat/dimana konflik menjadi pertanda kemajuan/dimana untuk masuk tak usah bayar terlalu mahal, pribadi/ke sanalah, tangan kita menengadah/dimana pendapat-pendapat bisa saling bertentangan/dimana pendapatku, pendapatmu bersaingan/dalam kompetisi yang mengasyikkan/dimana pendapatmu, pendapatnya, dan pendapatku/dimungkinkan bercanda dan bercumbuan/ dalam saling penghormatan/walaupun begitu/kita kaum pluralis yang konsekuen/perlu tundukkan kepada sebentar/mengusap mata sekali/mengheningkan hati sejenak/buat menerima/sebuah perpisahan/dengan roh kita sendiri/HMI.

Menurut pabdangan penulis, sosok Ahmad Wahib memang bukan seorang atheis, tapi ia seorang idealua muslim yang senantiasa terus mengalami gelisah alam pikirannya, dan ia terus mencari kebenaran religiusitasnya yang nampaknya dalam proses pencahariaannya itu dikesankan hampir mirip dengan atheisme yang dimaksud Sartre, yakni : “Ide tentang Tuhan itu dihilangkan”. Lebih dari itu menurut pandangan penulis, hidup Ahmad Wahib mungkin terlalu mengalami absurditas, karena ia terus berkonfrontasi antara keadaan yang tak rasonal yang ia lihat, yang ia alami dan yang ia rasakan pada saat itu. Namun, sebuah hasrat yang tak terbendung dan tak terkanalisasi secara baik, yakni akan kejelasan yang gemanya terus bergaung di relung hati Ahmad Wahib yang paling dalam, akhirnya ia malah terus berpikir bebas, melakukan abstraksi konseptual idealis dan sekaligus melakukan proses pemberontakan di internal dirinya.

B. Ahmad Wahib Award

Hingga saat ini, terutama sejak tahun 2003, akhirnya Ahmad Wahib Award menjadi nama kompetisi penulisan esai. Dan sayembara itu tentunya dalam rangka untuk mendorong anak-anak muda agar menulis gagasan kritisnya masing-masing, yakni mengenai agama, budaya, sosial, politik, dimamika kehidupan berbangsa, serta kemanusiaan. Meski Ahmad Wahib telah tiada pada usianya yang relatif masih muda, yakni berumur 31 tahun. Tapi, catatan hariannya yang telah dibukukan hingga saat ini berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam”, telah melanggengkan eksistensi ide-idenya, sehingga dapat melahirkan Wahib-Wahib baru dalam konteks kekinian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top