Oleh : Adung Abdul Haris
I. Pendahuluan
Ketua Dewan Pembina “The Habibie Center”, yskni Ilham Akbar Habibie menjadi penceramah pada acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tingkat kenegaraan tahun 2025. Acara tersebut digelar oleh pihak Kementerian Agama RI, di Auditorium H.M. Rasjidi, Kamis (25/1/2025). Pada acara yang bertema “Isra Mi’raj Sebagai Pondasi Spiritualitas Bangsa Menuju Indonesia Maju” itu, Ilham Akbar Habibie berbicara tentang pentingnya keseimbangan antara iman dan ilmu dalam memahami peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Menurut Ilham Habibi, bahwa Isra Mikraj tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga dapat dianalisis dari perspektif ilmiah dan teknologi. Dikatakannya, Isra Mikraj memperingati perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina dan kemudian naik ke langit, sering kali menjadi bahan perdebatan antara aspek spiritual dan rasional. Namun, menurut Ilham Habibi, keseimbangan antara keduanya adalah kunci dalam konteks untuk memahami esensi perjalanan Isra dan Mi’raj. “Dalam Islam, kita diajarkan untuk memiliki keseimbangan antara iman dan ilmu pengetahuan. Manusia harus memiliki fondasi spiritual yang kuat sekaligus ditambah wawasan teknologi yang luas,” ujar Ilham Habibi.
Ilham Habibi juga menyinggung bagaimana kemajuan sains modern akhirnya mulai membuka perspektif baru dalam konteks memahami peristiwa luar biasa ini (Isra Mi’raj). Salah satu teori yang ia sebut adalah konsep “Quantum Entanglement”, yang menunjukkan bahwa partikel-partikel di alam semesta bisa saling terhubung secara instan meskipun terpisah jarak yang sangat jauh. “Temuan itu, yang akhirnya membuat tiga ilmuwan memenangkan Nobel Fisika 2022, hal itu membuktikan bahwa ada hal-hal di alam semesta yang belum bisa sepenuhnya kita pahami. Begitu juga dengan Isra Mikraj, yang melibatkan dimensi ruang dan waktu yang berbeda dari yang kita pahami sehari-hari,” ujarnya.
Ilham Hsbibi juga mengutip pandangan ilmuwan Indonesia yang menyatakan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW bukanlah sekadar perjalanan fisik biasa, melainkan sebuah perjalanan yang melibatkan dimensi waktu dan ruang yang lebih tinggi. Ia mencontohkan bagaimana perjalanan dari Mekkah ke Palestina yang dulu memakan waktu berminggu-minggu, nsmun kini dapat ditempuh dalam hitungan jam dengan pesawat terbang. “Dulu, perjalanan dalam hitungan jam dianggap mustahil, tapi sekarang sudah menjadi kenyataan. Begitu pula dengan Isra Mikraj, yang mungkin saat ini masih sulit dijelaskan oleh sains, namun bukan berarti tidak mungkin terjadi,” katanya. Dengan pemahaman ini, Ilham Akbar Habibie berharap umat Islam semakin terbuka dalam menyikapi hubungan antara sains dan agama. Bahkan, ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berpikir kritis dan terus menggali ilmu pengetahuan. “Kita harus tetap berpegang teguh pada keimanan, tetapi juga tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Justru dengan memahami sains, maka kita bisa semakin mengagumi kebesaran Allah SWT,” tuturnya.
Bahkan, ketika ayahan dari Ilham Akbar Habibi itu masih hidup, yakni sang sosok Presiden BJ. Habibi masih memimpin negeri ini (saat ia sedang menjbat Presiden Ke 3). Beliau selalu mengingatatkan betapa pentingnya proses keseimbangan antara “Imtak” dan “Iptek”. Hal itu beliau sampaikan di berbagai forum ilmiah maupun di tengah acara kenegaraan, yakni beliau selalu mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan iman dan takwa (imtak). Karena, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kedua hal tersebut, menurutnya, saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan. “Saya katakan kalau Tuhan YME panggil saya dan saya disuruh pilih 100 persen imtak (iman) atau 100 persen iptek, yang saya pilih adalah 100 persen imtak. Tapi, kalau saya boleh pilih, saya mau dikasih dua-duanya agar seimbang,” ujar Habibie di gedung MPR RI, Jakarta, Selasa (22/8/2017).
Lebih dari itu, Presiden Habibie bercerita, sepanjang hidupnya, ia memang tak mengenyam pendidikan berlatar belakang keagamaan dan tak pula tergabung dalam organisasi keagamaan. Namun ia menyebut sejak kecil telah dididik oleh orang tuanya untuk menjalankan nilai-nilai keagamaan yang baik dan benar. “Saya tidak pernah masuk pesantren, tidak pernah masuk organisasi Islam, tapi saya sudah baca dan pahami Alquran sejak kecil. Saya sekolah di Belanda, masuk sekolah yang kebanyakan agamanya Kristen. Saya juga baca kitab suci agama lain, sama orang tua saya nggak dilarang. Kenapa? Karena orang tua saya tahu, “Habibie ini sudah cukup ngerti agama”, jadi nggak masalah katanya.
Bahkan, Habibie berkeyakinan agama adalah bentuk iman seseorang yang letaknya di hati dan tak terbatas pada hal-hal yang tampak di mata saja. Untuk itu, menurutnya, mempelajari agama lain ataupun hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama merupakan sebuah keindahan. “Saya pernah punya teman ya, dia agamanya Kristen. Saat dia meninggal, dia dibawa ke gereja dan saya ikut ke sana. Saya pegang jenazahnya, saya masuk ke gereja dan saat semua orang berdoa, saya juga doa. Tapi doanya tentunya berbeda dengan mereka”, tutur BJ. Habibi.
Lebih dari itu Habibie menyebut, bahwa imtak dan iptek, jika diterapkan secara seimbang, maka akan mampu membawa bangsa Indonesia lebih maju. Ia juga menyebut pelajaran berharga yang ia terima dari orang tuanya sejak kecil adalah ‘jadilah mata air bagi kehidupan orang lain’. “Berperilakulah seperti mata air yang memberikan kehidupan bagi banyak orang, itu yang dipesankan ayah saya waktu saya kecil. Oleh karena itu, saya juga ingin next generation ini akan lebih baik. Harus ada pembaharuan SDM, harus selalu lebih baik dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Inilah pentingnya imtak dan iptek, untuk mengawal kita jadi negara yang besar,” imbuhnya. “Mempelajari budaya itu kita lakukan sejak di kandungan. Sikap perilaku kita itu dipengaruhi sama lingkungan. Jadi kita hidup menyenangkan di dalam masyarakat. Tapi apa gunanya perilaku baik tapi tidak terampil. Makanya harus ada pendidikan, dan dua hal itu harus seimbang,” tuturnya.
II. Menyeimbangkan Antara Imtak Dan Imtek
IMTAQ dan IPTEQ. Sedangkan Imtaq atau kependekan dari iman dan taqwa, terdiri dari dua kata iman dan takwa yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Imtaq merupakan urusan yang sarat dengan nilai, kepercayaan, pemahaman, sikap, perasaan dan perilaku yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadist. Sedangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau yang lebih dikenal dengan akronim IPTEK merupakan suatu sumber dimana seseorang dapat mengelola dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupannya. Pengembangan ilmu teknologi dan teknologi sendiri dibuat dengan tujuan untuk semakin mempermudah kehidupan manusia, dan oleh karena itu menurut hemat penulis agar IMTAQ & IPTEQ harus seimbang, agar kita bisa sukses dunia dan akhirat.
Memang realitanya, bahwa pengetahuan umum dan pengetahuan agama adalah dua poin utama sains yang saling mendukung untuk menciptakan generasi yang unggul. Maka pendekatan integrasi ilmu agama dengan ilmu umum menjadi salah satu solusi dan itu penting dilakukan. Dengan pendekatan integrasi tersebut dapat dipahami bahwa antara pendidikan agama Islam dengan ilmu umum pada dasarnya adalah satu atau terikat oleh iman dan tauhid sehingga peserta didik memiliki kepribadian yang beriman dan bertakwa (IMTAQ) serta menguasai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan pada akhirnya akan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan dunia pendidikan dan akhirat. Hal tersebut dilakukan agar para generasi muda kita saat ini mampu memahami serta mengimplementasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan, ada sebuah Hadis yang menyatakan ; “Man arodha dunia fa’alaihi bil ilmih. Waman arodhal akhiroh, fa’alaihi bil ilmih. Waman arodhahuma, fa’alaihi bil ilmih”. Artinya, barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, maka wajiblah ia memiliki ilmunya.
Dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, maka ia wajib mengetahui ilmunya. Dan Barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, maka ia wajib memiliki ilmu kedua-duanya pula.”
(HR.Bukhari dan Muslim). Hadits diatas menjelaskan bahwa betapa pentingnya mempelajari dua ilmu sekaligus yang pertama, mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan dunia dan juga pentingnya menuntut ilmu agama dalam menggapai kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Seorang muslim sejati, ia harus berusaha keras untuk menggapai kedua-duanya dan tidak boleh memilih hanya salah satu saja, akan tetapi harus adanya keseimbangan antara iman dan takwa (Imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan tujuan paling utama dalam hidup di dunia adalah menuntut ilmu agama terlebih dahulu baru kemudian diikuti oleh ilmu pengetahuan umum dan teknologi. Bahkan, proses perubahan lingkungan yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan perkembangan Iptek. Seiring berjalannya waktu, teknologi yang dibuat oleh manusia semakin berkembang. Salah satunya ialah Society 5.0, yaitu yang digagas oleh negara Jepang. Konsep tersebut memungkinkan kita menggunakan ilmu pengetahuan yang berbasis modern (AI, Robot, Iot) untuk kebutuhan manusia dengan tujuan agar manusia dapat hidup dengan nyaman.
Konsep Society 5.0 itu, merupakan penyempurnaan dari konsep-konsep yang ada sebelumnya. Di mana seperti kita ketahui, bahwa Society 1.0, adalah pada saat manusia masih berada di era berburu dan mengenal tulisan, Society 2.0 adalah era pertanian dimana manusia sudah mengenal bercocok tanam, Society 3.0, sudah memasuki era industri yaitu ketika manusia sudah mulai menggunakan mesin untuk membantu aktivitas sehari-hari, Society 4.0, manusia sudah mengenal komputer hingga internet dan Society 5.0 era dimana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Bahkan, internet bukan hanya digunakan untuk sekedar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Dalam Society 5.0 ini, dimana komponen utamanya adalah manusia yang mampu menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi di kemudian hari.
Memang rasanya sulit dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan karena saat ini Jepang sudah membuktikannya sebagai negara dengan teknologi yang paling maju. Akan tetapi, dengan kecanggihan teknologi komunikasi saat ini, memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku khususnya para pelajar, dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru yang cenderung menjauh dari nilai- nilai spritualitas dan agama.
III. Dualisme Yang Berbeda (Antara Imtak Dan Iptek)
Diskurus mengenai iman dan taqwa (Imtaq) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) hingga saat ini masih dipandang sebagai dualusme atau dua sisi yang memiliki orientasi yang berbeda, sehingga menyebabkan timbulnya kesenjangan antara sumber ilmu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Bagi para pendukung ilmu-ilmu agama menganggap validitas sumber Ilahi dalam bentuk kitab suci dan tradisi kenabian dan menolak sumber-sumber non-skriptual sebagai sumber otoritatif untuk menjelaskan kebenaran sejati. Di pihak lain, ilmuwan-ilmuwan sekuler hanya menganggap valid informasi yang diperoleh melalui pengamatan inderawi, sehingga memerlukan paradigma integralistik merupakan tata paradigma yang diharapkan mampu untuk memberikan solusi terhadap problematika permasalahan tersebut diatas. Oleh karena itu menurut pendapat penulis betapa pentingnya upaya untuk integrasi imtaq dan iptek dalam pembelajaran pendidikan agama Islam adalah melakukan dekonstruksi terhadap filsafat sekuler yang terintegrasi pada anatomi sistem pendidikan Islam. Implikasi dari upaya itu adalah proses membangun epistemologi Islami yang bersifat integralistik yang menegasikan entitas lain dan menegaskan kesatuan ilmu dan kesatuan imtaq dan iptek dilihat dari sumbernya yaitu Allah.
Oleh sebab itu pada aspek operasionalnya di bidang pendidikan, integrasi lebih dimaknai sebagai proses memadukan nilai-nilai ilmu tertentu (agama) terhadap nilai ilmu lain (umum) atau sebaliknya, sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Artinya, proses penyatuan antara ilmu agama dan ilmu umum hingga menjadi satu kesatuan yang koheren dan bulat untuk memunculkan tata nilai keilmuan yang integralistik dengan tujuan menciptakan manusia yang sempurna.Saat ini telah mulai ada pergeseran fenomena terhadap madrasah sebagai motor pengembangan integrasi imtaq dan iptek dengan berbagai langkah inovatif, progresif, dan adaptif terhadap arus modernitas yang berkembang atau arus Perubahan yang bergulir, sehingga madrasah cenderung menjadi pilihan utama pada saat ini. Selain itu, sisi urgensitas profil pembelajaran sistem pendidikan agama Islam perlu dioperasionalkan dengan basis prinsip relevansi-koordinatif, konsistensi, dan adequasi antara tingkat potensi peserta didik dengan standar kompetensi yang perlu dicapai, materi pembelajaran dengan muatan nilai-nilai yang akan dipelajari dengan ketersediaan sumber belajar dengan pemberian penilaian yang sesuai.
IV. Membumikan Konsep Ulul Al-bab
Sebagaimana telah didiskusikan panjang lebar dibagian atas, yakni tentang proses penguasaan dan keseimbangan antara Imtak dan Iptek, maka solusi alternatifnya bagi kita umat muslim saat ini adalah, bagaimana agar kita bisa membumikan konsep “Ulil Al-Bab”. Sementara kata “Ulul Al-bab” secara etimologis (bahasa) berasal dari dua kata : Yaitu, ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai, sedang al albab mempunyai beragam arti. Bahkan, kata ulul al-bab muncul sebanyak 16 kali dalam Alquran. Dalam terjemahan Indonesia, arti yang paling sering digunakan adalah “akal”. Karenanya, ulul al-bab sering diartikan dengan “yang mempunyai akal” atau “orang-orang yang berakal”. Al-albab berbentuk jama dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa ulul al-bab adalah orang yang memiliki otak berlapis-lapis alias otak yang tajam. Penelusuran terhadap terjemahan bahasa Inggris menemukan arti yang lebih beragam. Ulul al-bab memiliki beberapa arti, yang dikaitkan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), tilikan (insight), pemahaman (understanding), kebijaksanaan (wisdom).
Pembacaan atas beragam tafsir ayat-ayat yang mengandung kata ‘ulul al-bab’ menghasikan sebuah kesimpulan besar : bahwa ulul al-bab menghiasi waktunya dengan dua aktivitas utama, yaitu “berpikir”dan “berzikir”. Kedua aktivitas itu harus berjalan seiring sejalan. Lebih dari itu, ulul albab berzikir, atau mengingat Allah, dalam situasi apapun, dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring (Q.S. Ali Imran 3:191), memenuhi janji (Q.S. Ar-Ra’d 13: 20), menyambung yang perlu disambung dan sabar dan mengharap keridaan Allah, melaksanakan salat, membayar infak dan menolak kejahatan dengan kebaikan (Q.S. Ar-Ra’d 13: 22). Di sini, zikir dilakukan dengan membangun hubungan vertikal transendental (seperti mendirikan salat) dan hubungan horisontal sosial (seperti membayar infak dan menyambung persaudaraan). Dalam berpikir, ulul al-bab melibatkan beragam obyek : fenomena alam, seperti pergantian malam dan siang serta penciptaan langit dan bumi (Q.S. Ali Imran 3:190-191) dan siklus kehidupan tumbuhan yang tumbuh karena air hujan dan akhirnya mati (Q.S. Az-Zumar 39: 21), fenomena sosial, seperti sejarah atau kisah masa lampau (Q.S. Yusuf 12:111).
Sebagai sebuah konsep, ulul al-bab perlu dioperasionalisasi atau dibumikan. Beberapa strategi berikut terbayang setelah melakukan “tadabbur” atas beragam ayat di atas, yaitu: (a) meningkatkan integrasi, (b) mengasah sensitivitas, (c) memastikan relevansi, (d) mengembangkan imajinasi, dan (e) menjaga independensi.
1. Meningkatkan Integrasi.
Ulul albab menjaga integrasi antara berpikir dan berzikir, antara ilmu dan iman. Integrasi aspek zikir dan pikir ulul albab diikhtiarkan untuk diimplementasikan ke dalam tiga level islamisasi: (a) islamisasi diri, yang ditujukan untuk menjadi manusia yang saleh, termasuk saleh sosial; (b) islamisasi institusi, dengan menyuntikkan nilai ke dalam pengambilan keputusan dan desain proses bisnis; dan (c) “islamisasi” ilmu, yang sekarang lebih sering disebut dengan integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam.
2. Mengasah Sensitivitas.
Berpikir membutuhkan sensitifitas (Q.S. Yusuf 12: 105-106). Fenomena yang sama dapat memberikan beragam makna jika didekati dengan tingkat sensitivitas yang berbeda. Sensitivitas bisa diasah dengan perulangan, yang sejalan dengan pesan Q.S. Al-Alaq ayat 1-5, bahwa membaca kritis dilakukan berulang (dalam ayat 1 dan 3). Pembacaan ini pun tetap dibarengi dengan zikir: didasari dengan ‘nama Allah’ (ayat 1) dan dengan tetap ‘memuliakan Allah’ (ayat 3).
3. Memastikan Relevansi.
Proses berpikir harus menghasilkan manfaat. Di sini, isu relevansi menjadi penting. Bisa jadi, kemampuan berpikir manusia belum sanggup membuka tabir dan memahaminya dengan baik alias berpikir fungsional. Tapi bagi ulul albab, semuanya dikembalikan pada kepercayaan bahwa Allah menciptakan semuanya dengan tujuan, tidak sia-sia (Q.S. Ali Imran 3:192). Sejarah telah mencatat bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Apa yang dituliskan dalam Alquran tidak semuanya dapat dipahami dengan mudah pada masa turunnya. Sebagai contoh, ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa matahari bersinar (dliya’an) dan bulan bercahaya (nuuran). Pemahaman awam sebelumnya menganggap bahwa bulan pun bersinar. Bulan tidak bersinar tetapi bercahaya karena memantulkan sinar dari matahari (lihat Q.S. Yunus 10:5). Klorofil, atau zat hijau daun, yang diungkap oleh Q.S. Al-An’anm 6: 99 baru diketahui oleh pengetahuan modern jauh setelah ayat ini turun.
4. Mengembangkan Imajinasi.
Paduan aktivitas pikir dan zikir seharusnya menghasilkan imajinasi masyarakat dan umat Islam yang lebih maju (Q.S. Al-Hashr 59:18; An-Nisa 4:9). Untuk bergerak dan maju, kita perlu mempunyai imajinasi masa depan dan tidak terjebak dalam sikap reaktif yang menyita energi. Karenanya, ulul albab harus mengikhtiarkan pikiran yang kritis, kreatif, dan kontemplatif untuk menguji, merenung, mempertanyakan, meneorisasi, mengkritik, dan mengimajinasi. Ciri kritis karakter zikir muncul ketika berhadapan dengan masalah konkret. Berzikir berarti mengingat atau mendapat peringatan. Karenanya, watak orang yang berzikir adalah mengingatkan. Di sini, bisa ditambahkan bahwa obyek berpikir juga termasuk fenomena sosial yang terhubung dengan berbagai kisah rasul (Q.S. Yusuf 12:111) juga menegaskan pentingnya aspek kritis ini karena salah satu tugas rasul adalah memberi peringatan (Q.S. Al-Baqarah 2: 119).
5. Menjaga Independensi.
Ulul albab juga seharusnya terbiasa berpikir independen. Tidak dilandasi kepentingan saat ini dan konteks kini. Landasan berpikirnya adalah nilai-nilai perenial atau abadi. Kita diminta mandiri dalam berpendapat (Q.S. Ash-Shaffat 31:102), hanya akan diminta pertanggunjawaban atas apa yang dilakukannya (Q.S. Al-An’am 6:164), dan diminta hati-hati dalam menilai (Q.S. Al-Hujurat 49:6). Independensi ini menjadi sangat penting di era pascakebenaran ketika emosi lebih mengemuka dibandingkan akal sehat. Di sini kemandirian dalam berpikir menjadi saringan narasi publik yang seringkali sulit diverifikasi kebenaraannya.