Dies Natalis HMI Ke-78 : “Restorasi Pola Pikir Kader HMI Menuju Kader Yang Intelek Dan Berkualitas”

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

Hari ini (Rabu, 5 Februari 2025) merupakan milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ke-78 Tahun 2025. Bahkan, pihak PB HMI diacara milad yang Ke-78 ini, menggagas tema “HMI Untuk Kedaulatan Bangsa”. Hal itu menurut pandangan penulis, merupakan sebuah langkah dan posisi HMI sebagai nadi bangsa Indonesia dalam konteks untuk mempertegas kedaulatan bangsa demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT.

Di usia yang Ke-78 tahuh, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), yakni terhitung sejak tanggal 5 Februari tahun 1947. Maka pada hari ini (Rabu, tanggal 5 Februari 2025) kita/kader HMI, kembali memperingati hari lahir HMI di era milenial yang memang penuh dinamika dan kompleksitas zaman. Yakni, dinamika sebuah perjalanan panjang HMI, yang nota bene telah membuktikan bahwa HMI tetap eksis sebagai organisasi mahasiswa Islam yang senantiasa berkontribusi bagi umat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, dengan mengusung tema “HMI Untuk Kedaulatan Bangsa”, maka peringatan Dies Natalis ke-78 ini menjadi momentum bagi kita semua seluruh kader HMI untuk terus mengokohkan peran strategisnya dalam upaya untuk menjaga dan memperjuangkan kedaulatan bangsa. Tema tersebut juga telah menegaskan bahwa HMI bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, tetapi juga nadi perjuangan dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan diridai Allah Swt. Sejak didirikan oleh Lafran Pane di Yogyakarta pada tanggal 5 Februari tahun 1947, HMI telah menjadi wadah bagi mahasiswa Islam untuk menempa diri dalam konteks intelektualitas, spiritualitas, dan kepemimpinan. Dengan semangat keislaman dan kebangsaan, maka HMI turut serta dalam berbagai fase sejarah penting bangsa, yakni mulai dari mempertahankan kemerdekaan, era Orde Baru, Orde Reformasi 1998, hingga saat ini yang memang terus menghadapi tantangan globalisasi dan era digital.

Terlepas dari plus minusnya, bahwa HMI telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berperan aktif dalam berbagai sektor, mulai dari politik, akademisi, profesional, hingga aktivis sosial. Tidak hanya itu, HMI juga tetap konsisten dalam menegakkan nilai-nilai Islam, memperjuangkan keadilan, dan terus berempati (membela) kepentingan rakyat. Di usia ke-78 ini, HMI harus terus beradaptasi dengan logika zaman yang terjadi dan tentunya tidak boleh kehilangan jati dirinya, yakni sebagai organisasi yang memiliki semangat perjuangan tinggi. Bahkan, HMI dituntut untuk tetap kritis, inovatif, dan berorientasi pada solusi dalam konteks menghadapi tantangan bangsa. Menurut pandangan penulis, bahwa Dies Natalis tahun ini, bukan hanya sekedar perayaan, tetapi juga ajang refleksi diri bagi seluruh kader HMI. Yakni, sudah sejauhmana kita berkontribusi? Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi atas permasalahan yang dihadapi bangsa ini? Sudahkah kita meneladani perjuangan para pendahulu kita? Oleh karena itu, di harlah yang Ke-78 ini, mari jadikan momentum ini untuk memperbaharui semangat perjuangan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan terus berkiprah dalam konteks membangun negeri yang kita cintai ini. Semoga HMI tetap menjadi organisasi yang independen, progresif, dan berorientasi pada kebaikan umat dan bangsa.

II. Diusia Ke-78 Tahun HMI ; Antara Insan Cita, Realita Dan Utopia

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi ke-islaman dan ke-mahasiswaan, namun eksistensi HMI saat ini, seolah-olah berada di persimpangan jalan. Mengingat, seiring dengan dinamika zaman yang terjadi, pada realitasnya HMI tak luput juga dari yang namanya permasalahan yang sedikit banyak telah merapuhkan dan memecahkan pondasi dari HMI. Namun, HMI tetaplah HMI yang hadir untuk memperat nilai ukhuwah antara para kader, umat dan bangsa.

Bahkan, ada banyak juga analisa yang mengatakan bahwa realita kader HMI saat ini, tekesan ada juga yang telah tenggelam dalam euforia serta hanyut pula di dalam sebuah problem, dan membiarkan problem tersebut tetap mengakar dan tumbuh layaknya sebuah pohon. Tapi, bukan pohon Itu yang menjadi harapan sekarang ini. Sehingga dampak positif tidak akan mampu mengimbangi dampak negatif yang semakin mendominasi pada organisasi. Bahkan, dampaknya juga pada para kader yang baru berproses akan hilang ke-fokusan dikarenakan problem di internal HMI ada saja setiap pase zaman memang terjadi.

Namun penulis masih tetap percaya, bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan terus melahirkan para tokoh-tokoh yang tangguh ke-Islamannya, menjadi aktivis kritis tingkat lokal, nasional maupun internasional, dan itu merupakan benih-benih yang sering terus digaungkan oleh para senior di HMI, yakni untuk terus memompa semangat dan sekaligus dijadikan sebagai motivasi kepada para calon-calon kader HMI dimasa yang akan datang. Dan HMI akan tetap menjadi kebanggaan bangsa kedepannya. Lebih dari itu, respon positif juga tidak hanya mengalir di dalam darah seorang kader HMI saja, melainkan banyak sekali respon yang hadir dalam menanggapi hal positif terhadap HMI, dari banyak pihak. Dan tulisan penulus kali ini merupakan sebuah refleksi dan sekaligus sebagai bagian dari (kader HMI) yang nota bene pernah ditempat atau dikader di internal HMI (melalui kegiatan LK-nya). Insan cita tentu saja tak asing lagi bagi penulis, yakni sebagai seorang kader HMI. Sementara lima kualitas insan cita yang harus dimiliki seorang kader HMI adalah : Kualitas insan akademi. Kualitas insan pencipta. Kualitas insan pengabdi. Kualitas insan yang bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Namun, realitanya saat ini sedikit bertolak belakang dengan citanya HMI, yang seharusnya menjadi khayalan (Utopia) malah sekarang menjadi berbalik ke realita yang sesungguhnya. Karena begitu banyaknya pengharapan bagi HMI kedepan, semoga cita serta marwah HMI tidak pernah pupus ditengah problem di internal maupun eksternal Himpunan. Sementara harapan untuk HMI di usia yang Ke-78 Tahun saat ini bagi penulis sendiri adalah agar HMI tetap merawat nilai-nilai dasar dari HMI, memperkental ukhuwah antara kader, dan menjadikannya sebagai wadah untuk melahirkan kader yang sadar akan problematika ditengah rakyat. Meminjam kata dari sang pendiri HMI, yakni Ayahanda Lafran Pane “Dimanapun kau berkiprah tak ada masalah. Yang penting adalah semangat Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan, hal itu yang harus kau pegang teguh dan terus dijaga”.

III. Kader HMI di Era Digitalisasi ; Antara Perjuangan Dan Tantangan Teknologi

Era digitalisasi telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalam dunia organisasi mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Februari tahun 1947 oleh Lafran Pane dan 14 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia). HMI, sebagai organisasi yang hingga saat ini berusia 78 tahun, kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga relevansinya di tengah cepatnya perubahan zaman. HMI bukanlah organisasi yang asing dengan dinamika perubahan. Sebagai organisasi yang mengemban misi keumatan dan kebangsaan, HMI memiliki tanggung jawab untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap menjadi wadah yang efektif bagi pembinaan generasi muda, khususnya kader-kader HMI yang diharapkan mampu menjadi penerus perjuangan bangsa.

Proses perkaderan menjadi inti dari aktivitas organisasi ini. Bahkan, di dalam Pasal 8 Anggaran Dasar HMI ditegaskan bahwa HMI berfungsi sebagai organisasi kader. Hal itu telah menunjukkan bahwa kelangsungan hidup HMI sangat bergantung pada keberhasilan proses kaderisasi. Namun, di tengah era digitalisasi yang terjadi saat ini, tantangan yang dihadapi HMI semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan dalam berkomunikasi dan menyebarkan gagasan. Maka kader HMI seharusnya dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat perjuangan, yakni untuk membentuk opini publik, dan menjadi motor penggerak isu-isu nasional. Akan tetapi, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Tidak sedikit kader HMI yang tampaknya mulai melupakan esensi perjuangan yang seharusnya menjadi inti dari setiap langkah mereka.

Digitalisasi memberikan ruang yang luas bagi kader-kader HMI untuk berdiskusi dan berkolaborasi tanpa harus bertemu secara fisik. Internet dan smartphone memungkinkan penyebaran gagasan dan aspirasi dengan lebih cepat dan efisien. Namun, potensi itu nampaknya belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh kader-kader HMI saat ini. Banyak kader HMI yang tampaknya lupa akan arti penting perjuangan. Hakikat perjuangan organisatoris yang sejak awal telah dimiliki oleh setiap kader HMI, nampaknya mulai memudar di kalangan kader. Hal itu menurut hemat penulis, memang ada kecenderungan kader HMI di era milenial saat ini lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat superficial. Mereka cenderung lebih tertarik pada visualisasi dan kemasan, ketimbang pada substansi perjuangan. Oleh karena itu, seyogyanya strategi perkaderan di era digitalisasi saat ini perlu diperkuat, bukan hanya dalam aspek pembinaan intelektual tetapi juga dalam penguatan karakter dan semangat juang. Sekali lagi menurut pandangan penulis, betapa pentingnya saat ini untuk memanfaatkan teknologi secara bijak oleh kader-kader HMI. Karena, media sosial dapat digunakan sebagai platform untuk menyebarkan gagasan yang visioner dan menggugah semangat mahasiswa lain untuk aktif di HMI. Misalnya, video kreatif dan konten visual lainnya bisa menjadi alat efektif untuk menarik minat mahasiswa terhadap pentingnya berorganisasi dan berjuang demi kemajuan bangsa. Lebih dari itu, agar kader HMI tidak kehilangan identitasnya dalam arus modernisa dan globalisasi saat ini.

Era digitalisasi memang menuntut perubahan strategi dalam menjalankan misi organisasi. Namun, nilai-nilai dasar perjuangan tidak boleh tergadaikan oleh kecanggihan teknologi. Kader HMI harus tetap mampu menjawab tantangan zaman saat ini dengan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai yang telah menjadi fondasi organisasi sejak berdirinya. Karena, di tangan kader-kader inilah masa depan HMI dan bangsa ini dipertaruhkan.

IV. Kilas Balik Sejarah HMI Dan Kunci Sukses Mewujudkan Perjuangan Moral Dan Intelektual

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi yang berstatus sebagai organisasi mahasiswa yang menghimpun seluruh intelektual muda Islam dalam satu wadah. Hal itu terlihat ketika HMI didirikan setelah dua tahun Indonesia merdeka, yakni pada tanggal 14 rabi’ul awal tahun 1366 H, bertepatan pada tanggal 5 Februari tahun 1947, kala sore hari pukul 16:00 WIB, di salah satu ruangan kuliah STI di Gedung di sebelah Timur Kantor Pos besar Yogyakarta, berdampingan dengan Gedung SMP Negeri II, Jalan Setyodiningratan 30. Dengan tujuan awalnya, yaitu : Pertama, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat masyarakat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Dari rumusan tersebut, sangat tergambar secara utuh, yaitu terintegrasinya wawasan Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan.

Pemikiran keislaman dan keindonesiaan menjadi doktrin perjuangan HMI yang berasal dari tujuan awal berdirinya HMI di tahun 1947 itu, gagasan itu juga terpadu secara utuh untuk dijadikan basis pendirian teguh bagi anggota dan kader HMI demi mencapai tujuannya. Pemikiran keislaman-keindonesiaan HMI, hal itu agar HMI senantiasa menempatkan Islam yang bersifat universal itu sebagai sumber motivasi dan inspirasi di tengah pergumulan faham keberagaman dan ideologi yang beragam. Adapun corak pemikiran keislaman- keindonesiaan HMI ialah, substantif, proaktif, inklusif, integratif, modernis dan ilmiah.
Berkenaan dengan landasan diatas lebih lanjut pada Anggaran Dasar HMI (AD Pasal 4: Tujuan) “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi oleh Allah SWT”, yang didalamnya termuat kualitas insan cita yang merupakan gambaran masa depan HMI. Bahkan, suksesnya seorang kader HMI dalam membina dirinya untuk mencapai insan cita HMI, secara tidak langsung berarti ia telah mencapai tujuan dari HMI itu sendiri. Bahkan, insan cita HMI pada suatu waktu akan menjadi “Intelectual Community” atau menjadi kelompok-kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita umat dan bangsa dalam konteks kehidupan masyarakat yang sejahtera secara spiritual adil dan makmur serta bahagia.

Sejak berdirinya HMI hingga saat ini, yakni memasuki usia yang ke 78 tahun, tepat pada hari ini (Rabu, tanggal 5 Februari tahun 2025), semoga HMI tetap menjadi organisasi yang memiliki sifat independen yang secara jelas sebagaimana telah tertuang di dalam Anggaran Dasar HMI Pasal 5, yakni HMI bersifat independen. Maka sudah menjadi kewajiban pula bagi setiap anggota maupun alumni HMI untuk tetap menjaga independensi HMI, baik independensi etis maupun organisatoris. Akan tetapi sejak HMI memproklamirkan dirinya melalui sosok penggagas pertama Lafran Pane yang berdiri tegak di hadapan kelas yang di hadiri oleh sekitar 20 mahasiswa STI (sekarang UII) dengan membacakan prakata. “Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena seluruh persiapan maupun perlengkapannya yang diperlukan sudah siap”. Sejak saat itulah, HMI mulai terkenal oleh mahasiswa di Yogyakarta dan tersebar ke seluruh daerah di Indonesia bahkan di luar negeri. Dan saat itu telah memiliki banyak anggota aktif dan kemudian melahirkan para alumni HMI yang tersebar di seluruh elemen birokrasi pemerintahan dan dii tengah-tengah masyarakat. Namun dalam proses perjalanan HMI, memang tak luput juga, yakni ada saja yang terkesan tidak lagi menjaga independensi HMI sendiri. Misalnya, rutinitas organisasi yang terlalu kelihatan politis dan anggota HMI terlibat dalam proses pemenangan para kandidat dan para kompetitor politik-praktis, yakni di daerahnya masing-masing, serta keterlibatan dalam kontestasi Pilpres dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya, potret suram itu (keterlibatan pada proses politik praktis-pragmatis) sedikit banyak akan berdampak tragis pada HMI, yang nota bene sebagai organisasi yang berazaskan Islam dan berperan sebagai organisasi perjuangan untuk bertanggung jawab sebagai kader umat dan kader bangsa. Namun menurut keyakinan penulis, bahwa HMI akan tetap mampu membangun nilai-nilai intelektualnya sepanjang HMI terus menjadikan setiap perkaderannya menjadi tempat tumbuh suburnya budaya mendengar, dengan proses pengembangan budaya dialog, berdiskusi dan berdebat baik secara formal maupun informal.

Lebih dari itu, HMI juga harus terus mengembangkan budaya membaca dan berliterasi, baik dalam makna yang tekstual maupun kontekstual serta membaca dinamika perkembangan zaman yang semakin pesat dan maju, sehingga kader-kader HMI, akan terus memiliki wawasan intelektual yang luas dan memiliki analisis yang memberi solusi bagi kepentingan sebuah kemajuan bangsa. Lebih dari itu, HMI juga harus terus mengembangkan budaya menulis untuk menyusun ide dan gagasan secara konseptual-idealis yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan umat (rakyat) dan bangsa kita secara umum.

Sementara pudarnya independensi HMI pada tiap anggota HMI akan menyebabkan kemunduran HMI di tengah-tengah rumitnya kondisi bangsa saat ini, karena pikiran kita akan coba digeser sehingga tidak lagi memiliki daya kritis setiap melihat problem yang strategis dan tidak lagi memiliki perjuangan pada kebenaran, hal itu juga kerapkali ditegaskan oleh para senior HMI yang sangat idealis dan yang terjun ke dunia akademis. Karena sejatinya, sebagai organisasi mahasiswa, HMI bukanlah dibentuk sebagai organisasi (politik-praktis), dan karena itu tidak berorientasi pada politik. Namun perjuangan HMI adalah perjuangan kebenaran atau nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, maka HMI tepat disebut sebagai sebuah kekuatan moral dan pantulan suara nurani masyarakat.

A. Tafsir Independensi HMI

Independensi adalah merupakan salah satu doktrin perjuangan HMI. Selain Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), maka di internal HMI juga memiliki 10 naskah perjuangan HMI. Diantara 10 naskah doktrin perjuangan HMI, yang masih dipakai dan tetap dijadikan landasan perjuangan tinggal lima: (1) Pemikiran keislaman-keindonesiaan HMI; (2) Tafsir tujuan; (3) Tafsir independensi; (4) Memori penjelasan tentang Islam sebagai azas HMI; dan (5) Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Tafsir independensi HMI harus tetap dipegang teguh oleh seluruh kader HMI, manakala benar-benar ingin bertanggung jawab tehadap problem umat dan bangsa. Sementara untuk mengukur lebih jauh ketika kita memahami atau tidak tentang HMI harus didahulukan memahami, dan menghayati doktrin perjuangannya. Apa yang membuat independensi di jadikan sebagai doktrin perjuangan HMI? Untuk menjawab hal itu bisa dilihat pada penjelasan terkait tafsir Independensi HMI, yang terbagi atas dua yakni independensi “etis” dan independensi “organisatoris”. Independensi “etis” adalah sifat independensi secara etis yang pada hakikatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah tersebut membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati memang cenderung pada kebenaran (hanief). Watak dan kepribadian kader HMI sesuai dengan fitrahnya membuat kader HMI selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran yang bersumber dari sang Kholik (Allah SWT). Dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader HMI, berarti suatu pengaktualisasian dinamika berpikir, bersikap dan berperilaku baik yang bersifat “hablum minallah” maupun dalam “hablum minannas”, yakni hanya tunduk dan patuh dengan kebenaran. Sedangkan independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, konstruktif, korektif, dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud. Sementara dalam melakukan partisipasi aktif, konstruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisatoris HMI hanya tunduk serta komit pada prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan objektifitas.

Selain itu seringkali gerakan kaum muda mahasiswa ini tidak hanya menjadi salah satu faktor utama jatuhnya rezim diktator dan korup, tetapi juga memberi pengaruh besar bagi perubahan sistem politik sebuah negara. HMI memiliki status sebagai organisasi mahasiswa dan berazaskan Islam pada orientasi politik memegang teguh pada sifat independensinya, yakni untuk menjaga masa depan HMI tetap gemilang, maka orientasi politik HMI dalam kiprahnya terhadap umat dan bangsa, hal itu dapat dilihat pada aktualisasi dari dinamika berpikir dan berperilaku secara keseluruhan merupakan watak azasi kader HMI, dan itu teraktualisasi secara rill melalui, watak dan kepribadian serta sikap-sikap yang cenderung pada kebenaran (Hanief). Yaitu bersifat bebas, terbuka, merdeka, objektif, rasional, progresif, dinamis, demokratis, jujur, dan adil. Maka, jika dilihat dengan watak kader HMI pada sikap independensi diatas adalah sikap yang sistematis. Dan HMI yang merupakan investasi manusia (human investment) dengan sifat dan garis independensi yang menjadi watak dari kader HMI dalam organisasi cukup penting agar masa depan HMI terus terjaga dan konstruktif. Bahkan, dengan sikap independensinya, HMI akan berdampak baik pada kepentingan-kepentingan dalam proses pencapaian mission HMI itu sendiri.

Lebih dari itu, sifat independensi HMI membuktikan bahwa HMI bukanlah sektarian, tetapi suatu kekuatan independen dengan kemampuan integrator dan sekaligus menjadi perekat, menjadi mediator bagi seluruh komponen bangsa. HMI dapat mengatasi setiap perbedaan pandangan dengan cara persuasif tanpa harus kehilangan sikap kritisnya. Bahkan, independensi organistoris akan mencegah HMI menjadi underbouw dari organisasi politik manapun juga. Sedangkan independensi etis akan menuntut HMI untuk tetap setia dalam konteks memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Untuk mengembalikan orientasi politik HMI agar tetap independen, maka diharuskan adanya upaya yang lebih keras dan sistematis dari seluruh hirarkis pengurus HMI baik dari tingkat PB, Cabang sampai di tingkat komisariat, yakni demi untuk mengawal demokrasi, menyatukan keumatan, kohesifitas kebangsaan, keislaman dan keindonesiaan. Sebagai organisasi pengkaderan dan tempat bernaungnya para intelektual, sikap independen HMI harus benar-benar terus terjaga. Agar HMI terus kuat dan dapat menjadi tumpuan harapan masyarakat, seperti yang dikatakan oleh Jenderal Soedirman, harapan masyarakat Indonesia, maka sikap dan watak anggota HMI pada sifat independensinya, harus terus dipupuk dan dirawat dengan baik. Bagi setiap kader HMI harus terus meningkatkan kualitasnya lewat pelatihan-pelatihan baik formal maupun informal, lewat tradisi-tradisi intelektual seperti membaca, diskusi, menulis, dan lain sebagainya. Bahkan, tidak kalah pentingnya saat ini, terutama dalam kondisi dan dinamika politik-praktis, yang nota bene saat ini (secara regulatif digelar hajatan Pilkada dan Pilpres) yang tentunya pasti akan terjadi saling tarik menarik kepentingan dan kerapkali juga menimbulkan syahwat politik praktis anomalik. Hal itu tentunya HMI agar terus memperekat dan memperkuat nilai-nilai independennya, agar jangan menjadi target para (oknum) predator politisi praktis-pragmatis. Oleh karena itu, HMI dan para kadernya agar terus bisa menjaga dan bisa merawat (independensinya) agar terus berpihak pada kebenaran, serta tidak mudah terjebak oleh syahwat politik praktis, popularitas, jabatan dan materi yang sejatinya hal itu akan menghancurkan diri kader dan HMI. Dari deskripsi di atas, maka kita dapat menemukan sebuah gagasan tentang tafsir independensi HMI dan reorientasi aktivisme politik HMI untuk kemudian menjadikan itu semua sebagai ikhtiar untuk masa depan independensi HMI.

V. Restorasi Pola Pikir Kader HMI Menuju Kader Yang Intelek Dan Berkualitas

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan sebuah organisasi perjuangan dan organisasi kader. Sementara perjuangan HMI harus dimulai dengan mengenali seluruh aspek (internal dan eksternal) sebagai medan dan dialektika perjuangan. HMI sendiri memiliki peran penting sebagai organisasi perjuangan. Dan perjuangan HMI di setiap zaman tentunya sangat berbeda-beda. Perjuangan HMI tidak terlepas dari tujuan berdirinya organisasi ini. Sedangkan perjuangan HMI bermuara pada ingin tetwujudnya apa yang menjadi tujuan HMI itu sendiri, yaitu ingin mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Hal itu juga sangat selaras dengan tujuan bangsa kita, yakni suatu “Keadilan Sosial”. Bahkan, cita-cita HMI bukan hanya keadilan seperti bangsa Indonesia semata, melainkan lebih dari itu, yaitu “keadilan” yang di ridhoi Allah SWT.

Sementara dalam upaya untuk membangkitkan kembali kekuatan intelektual dari para kader-kader HMI, maka HMI harus menyadari bahwa dinamika intelektual dari organisasi lain, yakni di luar HMI, nampaknya mereka kian hari kian berkembang, sementara sebaliknya, menurut tinjauan penulis, terkesan di internal kadar HMI sendiri, seolah-olah kadar intelektualitasnya terus semakin meredup. Dan seyogyanya, HMI sebagai organisasi mahasiswa harus terus berada di garda terdepan dalam proses perkembangan wacana pemikiran, karena hanya dengan cara itu HMI akan terus hidup dan tumbuh.

Sementara dalam proses peningkatan visi intelektual HMI menurut tinjauan penulis, memang harus dimulai dengan lingkungan yang lebih kondusif dan ideal sehingga kader HMI akan tumbuh dan berkembang dengan baik serta menjadikan HMI sebagai “learning organization” atau organisasi pembelajaran, dan setiap aktivitas organisasi harus diwujudkan sebagai ruang dialektika gagasan dan pertarungan ide (pemikiran). Lebih dari itu menurut pandangan penulis, bahwa proses penajaman kapasitas akademis intelektual itu dapat dilakukan dengan tiga hal, yaitu dengan cara rajin membaca, kreatif menulis dan bersemangat untuk berdiskusi. Sedangkan bentuk praktis dari komitmen intelektual adalah dengan sikap reponsif yang harus di tajamkan dan sekaligus menjadi kajian atau analisis dalam setiap persoalan kebangsaan dan keumatan. Sehingga kadar intelektual HMI bukan intelektual buku atau teori semata, tetapi juga dijewantahkan ke dalam upaya-upaya yang bersifat kongkrit di tengah-tengah masyarakat. Hal itu selaras dengan konsep “Rausyan Fikr” (Intelektual yang tercerahkan) ala Dr. Ali Sya’riati. Dengan demikian, proses perkembangan wacana pemikiran dalam lingkungan organisasi HMI sangat intensif dan akseleratif. Bahkan, ketajaman intekektual dan penguasaan wacana pemikiran itu dapat diterjemahkan menjadi kritisisme yang korektif, konstruktif, kreatif, inovatif dan futuristik.

Bahkan, kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh jumlah penduduk, luas wilayah, letak geografis atau sumber daya alamnya yang melimpah, tetapi ditentukan oleh kualitas manusia dan pendidikannya. Oleh karena itu, dalam konteks saat ini atau dalam konteks kekinian, HMI dituntut untuk menerjemahkan komitmen kemahasiswaannya secara sungguh-sungguh. Semangat HMI sebagai second campus akan terwujud apabila secara empiris, para aktivitas-aktivitas HMI benar-benar bersifat alternatif dan komplementer dengan kehidupan kampus. Dan keberadaan komisariat sebagai ujung tombak HMI dikampus harus menjadi representasi HMI di kampus dan dunia kemahasiswaan. Komisariat harus mampu merumuskan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa hari ini. Hal itulah yang akan menyentuhkan dinamika komisariat dan dinamika kehidupan kemahasiswaan.
Kehadiran HMI dan organisasi ekstra lainnya sangat dibutuhkan untuk membangun dinamika kampus yang sehat, sehingga akan lahir tokoh-tokoh mahasiswa yang kritis, visioner dan inopatif. Setidaknya, tokoh mahasiswa harus mempunyai lima kualitas, yaitu kedalaman ideologis, wawasan politis, kemampuan komunikasi sosial dan kemampuan membangun solidaritas sosial di dalam realitas kampus yang heterogen. Oleh karena itu, kader HMI harus benar-benar menguasi dan mendalami basic keilmuannya dimasing-masing jurusan atau fakultas tempatnya menjadi mahasiswa agar kedepannya kualitas-kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan oleh HMI, akan mapan secara kualitas basic keilmuannya dan berpengetahuan luas (objektif dan rasional) dalam upaya mewujudkan tujuan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top