Kegelisahan Intelektual Dan Kritik Terhadap “Dogmatisme” Kebenaran Relatifistik

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Setiap kita terlahir dalam keadaan lapar dan haus. Bukan semata pada makna lapar makan dan haus minum, tetapi juga dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Rasa lapar dan haus ilmu, atau istilah penulis menyebutnya suatu proses “Kegelisahan Intelektualitas” adalah dorongan alamiah yang mendorong kita untuk terus belajar, menjelajahi dunia, dan memperluas pemahaman tentang kehidupan. Lapar ilmu dapat dimaknai sebagai keinginan yang tidak terbatas untuk menyerap pengetahuan dari lingkungan sekitar. Ketika kita merasa lapar ilmu, maka kita menjadi penjelajah pengetahuan yang tidak kenal lelah. Mulai dari membaca buku, mengikuti kursus, hingga berdiskusi dengan orang-orang yang punya kedalaman pengetahuan. Lapar ilmu (kegelisan intelektual) menjadi pendorongan yang akan membawa kita ke arah pemahaman yang lebih dalam.

Sedangkan haus ilmu dimaknai sebagai keinginan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan. Sama seperti seseorang yang haus akan minum, maka ia akan terus merasa dahaga, haus ilmu membawa seseorang pada pencarian pengetahuan yang memuaskan. Haus ilmu mendorong kita untuk menggali lebih dalam, merenung, dan memahami konteks serta implikasi dari informasi yang diperoleh. Bahkan, ketika rasa lapar dan haus ilmu bersatu, kita akan mengalami perjalanan yang membentuk kebijaksanaan. Pengetahuan yang diperoleh dari lapar ilmu memberikan dasar yang kuat, sementara haus ilmu memberikan semangat untuk menjelajahi sudut-sudut gelap pengetahuan yang belum terjamah. Kedua elemen itu saling melengkapi, yang akhirnya membentuk individu yang bijaksana dan penuh wawasan. Bahkan, pribadi yang lapar dan haus ilmu akan terus melakukan pengembangan diri berkelanjutan (berpetualang intelektual). Terus belajar untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan. Menjadi problem-solver yang handal dalam mengatasi masalah. Selain pengetahuan, ia juga berbekal keterampilan analitis dalam konteks menghadapi tantangan. Ia terbuka terhadap pendapat dan pandangan orang yang berbeda, dan menjadi pribadi yang inklusif dan toleran.

Di era digitalisasi saat ini, yakni dengan arus informasi yang begitu deras dan melimpah, ada kecenderungan seseorang akan mengalami “overwhelmed”. Suatu kondisi psikologis yang menyebabkan seseorang itu tidak berpikir secara rasional untuk menyelesaikan aktivitas tertentu. Dalam bahasa Indonesia, “over-whelmed” artinya begitu kewalahan. Sementara pribadi yang lapar dan haus ilmu akam menghadapi tantangan tersendiri dalam kondisi demikian. Yakni, ia harus mampu menyeimbangkan antara tahap mendapatkan ilmu, memilah dan menyaringnya, serta memahami cara menjadikannya agar bermanfaat. Lapar dan haus ilmu mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan tanpa akhir. Targetnya adalah menuju pemahaman yang lebih dalam. Melalui kombinasi keinginan untuk belajar dan rasa ingin tahu yang tak terbatas, maka kita akan merasakan nikmatnya lapar dan haus ilmu. Dan itu merupakan tahapan yang akan mengantarkan kita menjadi individu yang bijaksana dan penuh wawasan. Menjadi pribadi sebaik-baik manusia, yaitu yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam perjalanan menikmati rasa lapar dan haus ilmu itu, maka keindahan sejati terletak pada proses belajar itu sendiri. Setiap tantangan, kegagalan, dan pencapaian kecil dimaknai sebagai tahapan untuk membentuk fondasi pemahaman yang lebih mendalam. Sedangkan mengapresiasi setiap langkah dalam perjalanan ilmu adalah kunci untuk menikmati keindahan proses belajar. Dalam perkembangannya, rasa lapar ilmu menjadi daya dorong bagi tumbuhnya kreativitas. Ditambah rasa haus ilmu yang akan memantik dan sekaligus untuk menemukan ide-ide baru, menghubungkan konsep-konsep yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan menciptakan solusi inovatif. Pada tahapan tersebut, maka rasa haus ilmu akan menjadi katalisator bagi inovasi yang membawa pada perubahan positif dalam berbagai bidang.

Bahkan, dengan bermodalkan pemahaman keilmuan yang mendalam, maka seseorang akan tertantang untuk memberdayakan dirinya dan orang lain. Sementara rasa lapar ilmu akan membuka pintu gagasan untuk memahami dunia sekitar, mengenali permasalahan, dan mencari solusi. Dengan pemahaman yang kuat, kita akan dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat.

Lebih dari itu, bahwa rasa haus ilmu akan berfungsi seperti kompas yang membimbing kita untuk melintasi lautan pengetahuan. Dengan tekad yang kuat, maka kita dapat menjelajahi bidang-bidang baru, mengeksplorasi budaya yang berbeda, dan memperluas wawasan. Haus ilmu memacu pertumbuhan pribadi dan menginsfirasi keinginan untuk terus berpetualang. Bahkan, dalam proses perjalanan menikmati rasa lapar dan haus ilmu, maka kita akan menjadi figur inspiratif dan itu sesuatu yang penting. Dan akhirnya, keberadaan sang figur insfiratif itu akan menjadi sumber motivasi, memberikan contoh kesuksesan melalui dedikasi kita/mereka pada ilmu.

Oleh karena itu, dengan mengamati perjalanan sang sang figur insfiratif, maka kita juga akan menemukan kekuatan untuk melanjutkan ketika kepenatan dan kebingungan yang terus datang melanda diri kita. Melalui lapar dan haus ilmu, kita berkontribusi pada penciptaan warisan pengetahuan. Bahkan, pemahaman yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga bagi generasi yang akan datang. Dengan cara seperti itu, setiap individu menjadi bagian dari rantai panjang pembangunan ilmu dan kebijaksanaan umat manusia.

Bahkan dalam konteks sekarang ini, yakni di dunia yang terus berubah dengan cepat, rasa lapar dan haus ilmu memainkan peranan penting untuk menanggapi perubahan. Lebih dari itu, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi, hal itu akan membantu kita untuk tetap relevan dan terus berkembang di tengah dinamika masyarakat dan teknologi yang semakin canggih saat ini. Lapar ilmu menjadi pendorong perubahan, sementara haus ilmu memastikan bahwa perubahan tersebut akan membawa dampak positif bagi kita, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang.

II. Kegelisahan Intelektual Sang Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)

Kehausan akan ilmu pengetahyan, hal itu dirasakan dan sekaligus dialami sendiri oleh Imam Al-Ghazali. Bahkan, pada usia 33 tahun, ia telah diamanahi sebagai Kepala (Rektor) Universitas Nizamiyya di Baghdad. Ia menjadi sosok yang berpengaruh. Bahkan kalangan kerajaan pada saat itu banyak meminta saran pendapat darinya. Dan itulah puncak karier keilmuan dan karir akademis dari Imam Ghazali, hal itu berkat kerja kerasnya untuk terus menuntut ilmu dan menjadi pembelajar. Ilmu filsafat merupakan salah satu kajian favoritnya. Tetapi, posisinya yang dalam puncak kemapanan ilmiah itu (saat menjadi Rektor di Universitas Nizamiyyah Bagdad), justru memunculkan kegelisahan batinnya. Ia saat itu malah memutuskan untuk meninggalkan Universitas Nizamiyyah, Baghdad dan kemudian terus berkelana mencari ketenangan spiritual.

Imam Ghazali kemudian menulis ;
“Ketika selama enam bulan saya dalam keadaan yang dirundung oleh kecemasan yang luar biasa, sampai-sampai saya tak bisa bicara, makan, atau mengajar. Dan saya sampai pada kesimpulan bahwa kebahagiaan di akhirat tak akan bisa tanpa takwa, mengendalikan hawa nafsu. Dan semua itu hanya bisa tercapai bila kecintaan terhadap dunia harus diakhiri. Sampai kita mengabaikan dunia dan merindukan akhirat. Saat memikirkan diri sendiri, saya merasa begitu dekat dengan dunia. Saat saya mempelajari alasan saya mengajar, saya merasa itu semata-mata karena saya mengejar status. Saya yakin berada di pinggir jurang bahaya”.

Dan Imam Ghazali meninggalkan Universitas Nizamiyyah, Baghdad dan menuju Suriah pada tahum 488 H/1096 M. Dari keputusan itulah, akhirnya perjalanan spiritual dan intelektualnya kian terasah. Di Damaskus, Imam Ghazali hidup sendirian dan menghabiskan waktu untuk terus beribadah, dan terus menyusuri tangga naik Menara Masjid Agung Umawiyah. Di sana, ia terus merenung dan beribadah. Namun di Masjid yang sama, ia juga mengajar beberapa murid. Bahkan, dua tahun kemudian, Imam Ghazali akhirnya bertolak ke Yerussalem dan tinggal di Kubah Batu. Lalu, ia berjalan ke Kota Khaleef di Tepi Barat.

A. Imam Al-Ghazali Sang Pembelajar

Sementara menurut Umar bin Khatab, bahwa ilmu itu ada tiga tahap. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, maka ia akan merasa sombong. Kemudian ketika memasuki tahap kedua, maka ia akan bersikap tawadhu. Dan ketika memasuki tahapan ketiga, maka ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya. Ditempalah dirinya sekuat tenaga dengan ilmu pengetahuan, terus belajar dan sekaligus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yakni untuk mencapai puncak ketaatan. Yakni, ibarat ilmu padi, semakin berisi makin merunduk padi tersebut. Semakin hebat ilmunya, maka ia akan semakin rendah hati dalam kesehariannya. Semakin bersedih diri karena terasa benar hidup diliputi kejahilan. Namun terus tak ada rasa malu untuk terus belajar dan mau mendengarkan masukan dari siapapun. Hatinya sangat lapang untuk mendengarkan kritik dan haus dengan pengetahuan. Ia akan semakin sadar, bahwa manusia menjadi mulia dan terhormat karena ilmu. Namun sebaliknya, kalau ilmu itu salah menggunakan, maka dengan ilmu pula manusia bisa celaka. Oleh karena itu, sangat penting seorang ilmuan untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang penuh kesadaran mendalam, bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki dirinya itu sangat terbatas, dan memang manusia penuh keterbatasan. Allah SWT berfirman, “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit,” (QS. Al-Israa: 85).

Tidak ada waktu untuk unjuk diri, merasa lebih pintar dan hebat, apalagi bersikap nyinyir kepada orang lain. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepadaku, agar kamu bersikap tawadhu’, sehingga tidak ada seorang pun bersikap sombong kepada yang lain, dan tidak ada seorang pun yang menganiaya yang lain,” (HR. Muslim). Namun sejatinya, memang manusia yang selalu ingin sehat, tak mau tertimpa cobaan dan bencana, selalu berharap sempurna, sesungguhnya hal itu tidak memahami tentang beban syariat dan arti penyerahan diri. Padahal Allah memberikan cobaan dan kekurangan agar manusia menyerah pada takdir. Mengimani dan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia Maha Tahu atas semua perkara. Sebagaimana Allah berfirman, “Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi,” (QS. Ar-Ra’du: 9). Kesempurnaan-Nya tidak dapat diukur oleh ilmu pengetahuan modern sekalipun. Banyak hal terjadi yang tidak mudah diterima oleh akal dan pengetahuan. Ketika keduanya sudah tidak lagi mampu menggapai hikmah di balik semua peristiwa, dan kita harus sadari bahwa akal dan pengetahuan manusia sangatlah terbatas.

Sementara membaca hukum sebab akibat adalah suatu proses belajar yang luar biasa, yakni untuk menemukan kemahakuasaan Allah SWT. Sungguh segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini sarat dengan kerendah-dirian dan pengakuan akan kekuarangan serta kelemahan makhluk manusia di hadapan sang Khaliq-nya. Sementara puncak dari segala pencarian hukum sebab akibat dalam ilmu pengetahuan adalah kepasrahan. Berpasrah diri pada yang Maha Sebab dan tidak disebabkan. Kepasrahan adalah bukti kedalaman pengetahuan, kesadaran bahwa selalu ada hal yang tidak mudah diketahui sebabnya. Setelah gejala dan fakta didapat, lalu dicarikan sebabnya, kemudian dicarikan solusinya, pada kelanjutannya datang lagi sebab-sebab lanjutan yang mana temuan ilmu pengetahuan belum bisa menjelaskan seutuhnya. Ibarat labirin tirai yang tak ada ujung, setelah terbuka, akan ada tirai baru tak berujung.

Bagi pembelajar (orang yang harus akan ilmu pengetahuan), bahwa ikhlas dan kepasrahan diri itu bukanlah sikap pasif dan fatalistik. Hal itu merupakan kesadaran terdalam seorang mukmin, yakni betapa ilmu yang dimilikinya itu tidak dapat menjawab dan menjelaskan banyak hal di alam jagat raya ini. Kepasrahan seorang mu’min dan sekaligus pembelajar dan haus akan ilmu pengetahuan, yaitu terua melakukan renungan terdalam, yakni betapa bodohnya diri kita. Karena, semakin tahu semakin sadar diri tidak semakin tidak tahu. Hal itu sebuah kesadaran yang telah mencapai tahap proses pencarian ilmu di level tertinggi. Dan ia akan terus bergumul dalam kegelisahan karena khawatir ilmu yang dimilikinya tidak mampu membawa paedah serta kemanfaatan, baik di dunia lebih-lebih di akhirat nanti, serta amalnya tak kunjung semakin maju terdepan baik secara kuantitas maupun kualitas kehidupan. Hal itu sebagaimana yang dialami dan sekaligus dilakukan langsung oleh Imam Al-Ghazali, yakni sebagaimana telah dikemukakan panjang lebar dibagian atas.

B. Kesalehan Kaum Intelektual

Sebagaimana telah dikemukakan di bagian prolog diatas, bahwa orang yang haus akan ilmu pengetahuan bisa juga disebut sebagai seorang pembelajar. Dan umumnya, bahwa orang-orang yang haus akan ilmu pengetahun dan sang pembelajar itu diending atau diujung kehidupannya akan menjadi seorang yang intelek atau menjadi pribadi yang intelektualistik. Hal itu sebagaimana melekat betul pada sosok dan pribadi Sang Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam) yakni sebagaimana telah diulas dibagian atas.

Sedangkan kata kesalehan itu sendiri berasal dari kata “Salih”, yang mempunyai arti hal yang baik atau bagus, yaitu lawan kata dari “fasad” (buruk atau rusak). Bahkan, menurut pakar linguistik dari Jepang Toshihiko Izutsu, ia meyatakan bahwa hubungan sematik yang menyatukan antara salih dan iman selalu bersama-sama dan tak terpisahkan, jadi salih adalah keimanan yang sepenuhnya terwujud dalam perilaku dan sikap lahir dan batin. Jadi pada dasarnya ketika seseorang telah melaksanakan keyakinannya yang di perintahkan “Ilahi Rabbi”, berarti ia patut disebut orang yang salih. “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”. (Al An’aam Ayat 158).

Sedangkan kata “intelektual” menurut Gramsci (sang intelaktual Prancis) di dalam bukunya berjudul “Selection From Prison Notebook”, adalah semua manusia adalah intelektual akan tetapi tidak semua manusia di masyarakat memiliki peran dan fungsi intelektual. Sedangkan menurut Julien Benda dalam bukunya berjudul “La Trahison Des Cleres”, ia mengatakan bahws intelektual dengan kata cendekiawan yaitu orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan praktis, akan tetapi ia terus mencari kegembiraan dalam mengelola seni, ilmu atau renungan metafisik, dan merekalah orang yang moralis yang semua kegiatanya melakukan perlawanan terhadap realisme masa. Lain halnya dengan Edwar W Said dalam bukunya berjuful “The Representation Of Intellectual”, ia merumuskan bahwa intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk mempresentasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik. Sang intelektual adalah seseorang yang bertalenta untuk mengkomunikasikan ide emansipatoris dan mencerahkan.

III. Kritik Terhadap Dimensi Ilmu Pengetahuan Dan Dogmatisme Kebenaran Yang Bersifat Empiris-Relatifistik

Diantara persoalan umat manusia di alam dunia ini yang paling tua adalah soal pencarian kebenaran yang bersifat nisbiyah-ilmiah (kebenaran yang bersifat relatifistik). Dan hal itu sebagaimana dialami oleh sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali. Persoalan kebenaran relatistik tersebut hingga saat ini terus berkembang dan semakin komplek, yakni seiring dengan perkembangan pemikiran manusia itu sendiri, lebih-lebih ketika pemikiran itu terkait dengan keragaman dan kesatuan serta klaim manusia atas suatu kebenaran (truth klaim). Usaha manusia untuk menyusun kategori dan batasan mengenai kebenaran yang bersifat relatifistik itu hingga saat ini melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan berbagai konsep pendidikan. Bahkan, usaha tersebut (proses pencarian kebenaran ilmiah) telah berlangsung ratusan abad yang lalu, dan ternyata manusia tidak juga menemukan kesimpulan mengenai kebenaran secara benar (kebenaran yang mutlak), menyeluruh dan representatif. Sementara daya dorong dari rumusan kebenaran tersebut (kebenaran relatifistik) menjadikan sebagian manusia akhirnya mengambil keputusan yang bersifat bijak dan maslahat, sementara ada juga sebagian lain yang mengambil keputusan asa dan selebihnya mengambil masa bodoh, yakni dengan hanya memusatkan perhatiannya pada sisi dan segi praktis dan kemanfaatannya saja dari kebenaran yang bersifat ilmiah dan relatifistik tersebut.

Bahkan perkembangan pemikiran manusia saat ini, yang nota bene cenderung bersifat ilmiah an sih, serba teknologi dan fungsional, akhirnya menempatkan kebenaran rasional itu sebagai pedoman dalam kehidupannya. Sementara di luar kebenaran tersebut (kebenaran ilmiah) dipandang tidak berarti dan kurang bermakna, dan munculah individu ilmuan yang akhirnya berbau ateistik dan lain sebagainya. Dalam kondisi seperti itu hidup manusia menjadi tidak utuh akibat bias manusia itu sendiri terhadap apa yang disebut ilmiah, dan di luar itu terus diabaikan. Sementara dalam praktiknya, bahwa manusia tidak mungkin mengabaikan atau bahkan meninggalkan yang tidak ilmiah, alias kebenaran yang bersifat esoteris-spiritualistik (kebenaran ilahiyah dan mutak).

Wekskopf (seorang ahli nuklir), menurutnya, bahwa sains telah berhasil mempertajam pengetahuan manusia, yakni pada soal peristiwa-peristiwa tertentu. Namun kenyataannya hingga saat ini, justru sains cenderung membuat pengetahuan manusia mengenai hal’hal lain (kebenaran ilahiyah) semakin gelap atau digelapkan. Sehingga kita (manusia saat ini) harus terus bergerak meraba-raba dalam kegelapan sains. Karena pada hakikatnya, bahwa sains sama sekali tidak memahami makna pengalaman-pengalaman manusia yang justru merupakan dasar dari eksistensi manusia di alam jagat raya ini.

Bahkan saat ini kerapkali menyeruak (ada klaim), bahwa suatu pengetahuan bisa dikatakan ilmiah, hal itu hanya bisa ditentukan oleh prasyarat akademis semata, yaitu cara memperoleh pengetahuan dan isi dari pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang telah dikatakana oleh (alm) Prof.Dr. Baiquni, ilmu pengetahuan atau sains adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian yang dapat diterima rasio atau dapat dinalar. Dengan kata lain ilmu pengetahuan adalah himpunan rasionalitas kolektif insani. Hal itu juga sebagaimana dikatakan oleh (alm) Dawam Raharjo, bahwa dalam ilmu pengetahuan terkandung etik, metodologi. Ilmu pengetahuan yang tidak mengandung suatu etik adalah “contradictio interminis”. Yang akhirnya, banyak orang yang terjebak dalam pasungan dan kungkungan pengetahuan ilmiah semata. Bahkan tidak sedikit juga, alias banyak orang orang yang akhirnya terpasung oleh kesalahfahaman terhadap kebenaran “ilahiyah” yakni yang bersumber pada wahyu. Kondisi seperti itu akibat terjadinya pengertian “ilmiah” dan “ilahiyah” tersebut. Sementara kebenaran wahyu hanya difahami manusia sebagai suatu konsep kebenaran yang begitu saja hadir dalam struktur pribadi dan pengetahuan pemeluk yang meyakaninya.

Oleh karena itu menrut hemat penulis, bahwa antara kebenarah “ilahiah” dan kebenaran “ilmiah” amat sangat penting untuk dibahas. Dan kalau tidak ada garis demarkasi antara kebenaran yang bersifat ilahiah dan kebenaran ilmiah (khususnya bagi kita umat Islam), maka dimasa yang akan datang kreteria pengetahuan ilmiah itu dan konsekuensinya akan terus dihadapkan pada problem religi atau pada kebenaran ilahiah. Dan hingga saat ini, ternyata kreteria ilmiah tidak dapat secara tuntas menjelaskan seluruh fakta dan kenyataan yang ada di alam jagat raya ini. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan berada dalam lingkup religi ataupun yang non ilmiah lainnya. Gejala tersebut kemudian menimbulkan bias pemahaman terhadap berbagai aspek ajaran agama yang harus ditolak karena tidak ilmiah, dan akhirnya munculah sikap dan sifat kebablasan diantara individu yang sangat ulmiah terus mendekati garis ateistik dan lain sebagainya. Bahkan, banyak karya kreatif manusia yang serta merta ditolak karena tidak diketemukan rujukan dalam kebenaran ilahiyah. Dengan kata lain, bahwa persoalan kebenaran “ilmiah” dan persoalan kebenaran “ilahiyah” yang bersumber wahyu menjadi persoalan unik dan telah menyita seluruh perhatian manusia sejak zaman pra sejarah (terutama setelah zaman renaisanse). Karena, rasionalitas digunakan sebagai landasan berfikir oleh para ilmuwan dalam dunia ilmiah dan dijadikan kesadaran tertinggi yang bisa membimbing manusia memilih alternatif jalan kehidupannya menuju kesempurnaan. Itulah bias (penipuan) yang begitu banyak menelan korban.

Sebenarnya ada yang berpendapat, bagwa intelegensi bukan dalam kesadaran rasional, bahwa kesadaran rasional itu hanyalah alat, manifestasi kemampuan komputasi, yang justru kalau dibiarkan menguasai kesadaran manusiawi, maka hal itu akan membawa seseorang berfikir secara foto cofis dan komputeris. Kita menyadari bahwa kesadaran rasional adalah hasil pengolahan fikiran yang diperoleh dari pengalaman empiris, pengalaman itulah sumber dari kesadaran rasional. Namun, banyak orang menyangka bahwa rasio merupakan pedoman seperti kompas yang dapat menunjukkan arah. Padahal tidaklah begitu, rasio tidak bisa dijadikan pedoman hidup, yang bisa dijadikan pedoman hidup adalah kesadaran esoteris-spritualistik. Bukan kesadaran spritual dalam ungkapan rasional melainkan spritual yang berakar dalam dunia pengalaman rasa.

Sementara kemampuan rasional adalah sifat yang inheren dengan struktur objektif otak, otak sebagai alat penerima dan pengelola segala macam informasi dari dunia objektif alat yang diciptakan oleh Allah agar manusia dapat berhubungan dengan dunia objektif. Kita tidak bisa menggunakan jalur pendekatan rasional untuk mengenal ilmu subyektif. Karena kalbu mencerminkan mekanisme spritual yang menghubungkan ruh dengan Al-Khaliq dan mustahil hubungan itu berlangsung melalui jalur komunikasi rasional. Justru mekanisme kalbu akan lebih nyata kalau aktifitas otak kita bisa ditekan mendekati zero (nol).

Rasionalitas tidak akan mampu menyentuh hakekat kebenaran yang bersifat ilahiah, karena itu rasionalitas cenderung membawa fikiran manusia pada permukaan pengalaman yang paling dangkal, pengalaman praktis tanpa menghiraukan landasan kebenaran di kedalaman agamawi dan pengalaman spritual. Dengan sikap yang terungkap dalam pernyataan tersebut, maka manusia justru terperangkap dalam relativisme dunia empiris. Tidak akan mampu menyelam dan sekaligus mengalami hakekat yang ada (kebenaran mutlak). Dengan uraian tersebut tidak heran jika Hediki Yukawa (ilmua Jepang), ia menghimbau agar manusia modern kembali ke pemikiran intuitif dan mengurangi pemikiran digital yang menurut Hediki Yukawa menghambat kreativitas. Tidak heran pula Robert Einstin mengatakan bahwa lokus/sumber kreativitas adalah titik pusat grafitasi kesadaran emosional, yang menurut terminologi ajaran Islam disebut “Qolbu”. Einstin dan Yukawa melihat bahwa otak bukan lokus/sumber intelegensi.

Senada dengan itu dalam Muqaddimah Kitab Sirr al- A’dham disebutkan : “Janganlah kamu katakan bahwa ilmu itu berada di langit, siapa yang akan menurunkannya, atau di perut bumi siapa yang akan menaikkannya, atau di seberang laut siapa yang akan menyeberangkannya. Ilmu itu tercipta dalam hatimu, datanglah ke hadirat-Ku dengan sopan santun, niscaya Ku-lahirkan ilmu itu dalam hatimu, sehingga ia meliputi dan memenuhi dirimu.

Sementaea menyrut Imam Ghazali, ia membedakan tingkat kesadaran manusia menjadi tiga tingkatan yaitu : kesadaran Indrawi, kesadaran rasional dan kesadaran agamawi (spritual). Dengan berkembangnya kesadaran akal, maka manusia bisa menjangkau wilayah yang tidak bisa dijangkau dengan alat indra. Dengan akal manusia bisa mengenal atom dan menciptakan kapal terbang yang tidak ada sebelumnya. Dengan akal manusia bisa mengetahui pula bagaimana indra bisa menipu, sehingga hanya dengan akal manusia bisa membenarkan informasi yang diperoleh melalui indra.

Selanjutnya Imam Ghazali mengungkapkan, bahwa wilayah kesadaran yang tidak terjangkau oleh akal. Akal tidak bisa mengerti mengapa mencuri itu dosa. Kalau mencuri itu dipergunakan untuk mencapai maksud yang baik misalnya membeli buku, akal bisa membenarkan pencurian itu. Dengan proses rasionalisai seperti itulah akal bisa menipu manusia. Dengan akal manusia bisa membenarkan prilaku sang pencuri itu. Bahkan, pernahkan kita mendengar pencuri yang menyalahkan perbuatannya sendiri? Atau koruptor yang merasa bersalah? Itulah perbuatan-perbuatan yang direstui oleh akal. Karena dalam hal itu akal bisa berdusta.

Dalam hal seperti itulah manusia memerlukan bimbingan dari kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran spritual. Kesadaran spritual langsung merasakan bahwa mencuri itu berdosa, kesalahan yang sifatnya mutlak. Kesadaran spritual tidak bisa menipu dan kesadaran spritual itulah yang mampu menyalahkan kesimpulan yang diambil oleh akal.

Lebih dari itu, perlu diketahui bahwa akal tidak mengenal nilai, kemutlakan dosa, ilmu pengetahuan sekarang benar-benar merupakan manifestasi materialis-rasionalisme yang hampir murni, sehingga ilmu pengetahuan tidak pernah mengakui kebenaran kesadaran spritual (sekuleristik).

Bahkan hingga saat ini, kita juga bisa melihat bahwa kesadaran agama cenderung diangkat ketingkat kesadaran rasional, hal itu terlepas dari dunia rasa dan pengalaman. Bahkan dalam hal kesadaran agamawi, proses rasionalisasi seperti berjalan hampir sempurna artinya benar-benar tanpa landasan kesadaran agama dalam dunia rasa dan pengalaman yang menjadi dasarnya. Karena itulah dengan alat ilmu pengetahuan dan rasionalutas semata, maka manusia cenderung terasing dari hakekat rasa dan pengalaman spritualnya, dan agama hanya tergambar dalam kesadaran rasional, yang mengambang dalam relatifitas dunia empiris, sebagaimana disinyalir oleh Ibnu Athaillah yaitu lupa dalam berdzikir. Karena dzikirnya berhenti hanya sampai otak tidak menembus pada hati (qolbu). Tapi hal itu juga jauh sudah lebih baik ketimbang tidak berdzikir sama sekali. (Ibnu Athaillah, Al-Hikam).

Begitu pula kebenaran empiris yang digunakan oleh sebagian orang untuk landasan berfikir (paradigma) dalam dunia ilmiah juga tidak akan sanggup mencapai hakekat kebenaran yang sifatnya mutlak. Sementara untuk menyingkap hakikat obyek empiris saja, atau mendapatkan sari yang berupa pengetahuan mengenai objek tersebut, metode-metode keilmuan-pun mempunyai kekurangan dan kelemahan yang mendasar, ia hanya mampu mendekati salah satu dimensi saja dari suatu objek alam yang pada dasarnya multi dimensional.

Hal itu karena ilmu pengetahuan kita yang paling ilmiahpun yang dihasilkan melalui metode-metode keilmuan-keilmuan yang teruji adalah produk dari olah jiwa, olah pikir dan olah indra serta daya penalaran yang nota bene kemampuannya memang terbatas dan tidak sempurna. “Sains adalah ciptaan manusia dengan alatnya yang paling canggih, yaitu rasio, atau logika, karena sains adalah ciptaan manusia.

Dapatkah dengan ciptaannya itu manusia mengerti dirinya? Mungkinkah dengan rasio manusia bisa manjangkau segala kedalaman mengenai dirinya? Apakah yang rasional itu selalu benar, atau lebih benar dari yang non rasional? Apakah batu itu rasional? Apakah yang rasional itu empiris atau yang empiris itu rasional? Apakah karena Tuhan tidak empiris, maka batu lebih benar dari Tuhan, karena batu itu empiris? Bagaimana dengan rukun iman seandainya kita hanya percaya pada yang empiris semata? Apakah ilmu pengetahuan itu empiris? Bisakah kita mencari ilmu pengetahuan seperti kita mencari batu?

Kebenaran adalah suatu yang multi demensi dengan berbagai manifestasinya. Karena itulah berkembang berbagai ilmu dimana tiap disiplin ilmu akan mendekati hanya terhadap wajah kebenaran. Di balik wajah kebenaran itulah terdapat inti hakekat kebenaran yang bersifat mutlak dan bersifat non empiris (ghaib). Dia-lah yang tersirat dari semua suratan wajah kebenaran.

Karenanya jelas bahwa pengetahuan kebenaran yang dihasilkan melalui metode keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Kita harus mencari dan menerima metode lain dan jalan lain yang bisa melengkapi serta bisa memberikan bimbingan yang utuh pada hakekat kebenaran. Kebenaran bukanlah monopoli perseorangan ataupun kelompok. Metode lain atau jalan lain itu haruslah bersumber hanya dari sang pemilik kebenaran, dan tidak bisa menggunakan pendekatan rasionalitas semata, tapi hanya dengan hati yang didalamnya bersemayam ruh sebagai penghubung kita dengan sang Kholik “Latudrikul Abshoru, Huwwa Yudrikul Sbshoru, Wahuwwa Latiful Khobir”.

Dalam kitab Al-Risalah al-Qusyairiyah disebutkan, ada tiga unsur dalam tubuh manusia yang dipergunakan orang kaum sufi dalam hubungan mereka dengan Tuhan, yaitu hati untuk mengenal sifat-sifat Tuhan, Ruh untuk mencintai Tuhan, dan Sir untuk melihat Tuhan (dengan mata batin).

Sir lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari hati. Qalb tidak sama dengan jantung, karena qalb selain dari alat untuk merasa adalah juga untuk berfikir. Perbedaan qalb dengan akal ialah bahwa akal tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan sedang qalb bisa mengetahui hakekat dari segala yang ada dan jika Tuhan melimpahkan cahaya kepada qalb ia bisa mengetahui segala apa yang diketahui Allah. Disinilah diperlukan kejujuran manusia untuk mengakui kenyataan keterbatasan dirinya. Oleh karena itu, diperlukan kebeningan pikiran agar kompleksitas gejala alam kehidupan tertangkap dengan jelas dan proposional hingga menimbulkan kesadaran universal. Sedangkan kesadaran universal adalah kesadaran manusia akan posisi dirinya di alam universal seutuhnya bukan sepotong-potong (parsial). Sadar akan kekuatan dan kelemahannya, maka manusia sadar akan hak dan kewajibannya, sadar akan kemandirian dan ketergantungannya, sadar akan eksistensinya dan kenisbiannya, sadar akan fisik dan spritualnya, sadar akan kenyataan dan keghaibannya, sadar akan kehidupan dan terminalnya, sadar akan dari mana (dari kudratullah) dan mau kemana ia akan berujung (menuju ke rahmat Allah).

Dari uraian di atas, maka kita melihat bahwa disatu sisi manusia dibatasi oleh kelemahan dan kekuranganya bahkan terhadap dirinya sendiri. Memang sudah banyak hal ihwal manusia yang tersingkap untuk manusia. Akan tetapi masih banyak lagi misteri-misteri microkosmos manusia yang tertutup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau manusia akan menjangkau macrokosmos angkasa luar. Semua itu masih misteri bagi ilmu pengetahuan manusia. Berapakah umur manusia yang tersedia dalam upaya untuk menyingkap misteri-misteri micro dan macro cosmos itu?.

Misteri-misteri micro dan macro itupun masih dalam batasan sub sistem alam empiris. Bagaimana pula dengan misteri alam non empiris alias alam akhirat? Dengan cara bagaimana manusia hendak menyingkapnya? Mampukah dalil-dalil aqli serta metode-metode keilmuan atau metode ilmuah sendiri menjawabnya? Dengan memiliki kesadaran universal yang mempunyai dua kutub yakni kekuatan dan kelemahannya, maka kemampuan akal dan keterbatasannya, kemandirian dan ketergantungannya, maka senang atau

tidak senang bahwa manusia harus berpaling mencari metoda lain, manusia harus bersedia selalu berdialog dengan dunia supyektifnya yang dianggapnya tidak memiliki potensi ilmiah dan sekaligus menangkap dan mengembangkan kebenaran. Manusia perlu selalu berdialog dengan Tuhan melalui firmannya, jika ia tidak ingin mengalami kegagalan dalam hidupnya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat nanti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top