Rajin Membaca (Bibliophile) Akan Terus Mengelitik Kita Untuk Bisa Menulis

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Buku adalah jendela dunia, sedangkan membaca adalah kuncinya. Kita bisa membuka jendela dunia itu harus dengan membukanya, yakni lewat rajin membaca. Karena membaca akan menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman melebihi usia kita. Membaca sebuah buku selama beberapa jam yang berisi pengalaman seseorang selama 15 tahun, hal itu akan membuat kita untuk mendapatkan pengalaman yang sama dalam waktu yang lebih singkat. Kita tidak perlu menghabiskan 15 tahun lamanya seperti yang telah dijalani oleh penulis buku itu. Kita seolah-olah bisa berkelana ke sejarah masa lalu dan melihat apa yang terjadi dalam waktu singkat.

Namun harus diakui, realitas masyarakat kita saat ini masih sangat kuat dalam tradisi berbicara (pandai bahasa lisan dan bukan bahasa tulisan). Kita lebih senang mengobrol ngalor-ngidul daripada membaca dan menulis. Tapi waktu terus berjalan dan akhirnya tidak banyak pengetahuan baru yang bisa kita serap. Sementara masyarakat yang kuat dalam tradisi membaca (berliterasi) akan memiliki kekuatan dalam tradisi menulis. Oleh karena itu, mengapa jumlah karya ilmiah berupa hasil riset maupun buku-buku ilmiah yang dihasilkan suatu bangsa berbanding lurus dengan kemajuan budaya baca pada bangsa tersebut. Karena, aktivitas membaca dan menulis itu adalah sepasang kekasih yang sulit dipisahkan.

Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses untuk menyajikan kembali khazanah itu, yakni demi kemaslahatan masyarakat yang lebih luas. Kita bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya. Sangat sulit bagi setiap individu untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya, yaitu di luar apa yang pernah ia miliki sebelumnya. Bahkan setiap penulis, ia harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum ia bisa memberikan kepada orang lain. Seorang penulis, ia harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain. Dengan kata lain, bahwa tradisi membaca mau tidak mau merupakan proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini kita banyak kesulitan untuk menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya oleh terlalu sedikitnya stok informasi yang kita miliki dan kita dapatkan. Untuk itu, kita harus menambah stok informasi agar kita lebih lancar dalam menulis.

Begitu besar manfaat membaca, hal itu demi untuk mengasah keterampilan menulis kita. Berikut ini berbagai hal penting untuk kita diantaranya : Membaca akan memperluas wawasan, membaca membantu melihat sudut pandang yang berbeda, membaca membantu kita belajar teknik menulis yang dipakai oleh orang yang lebih berpengalaman, membaca membuat ide kita semakin melimpah, membaca menjadikan otak dan pikiran kita lebih aktif, membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja, membaca membuat jalan pikiran kita menjadi lebih lentur, membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa kita pakai dalam menulis, membaca membuat kita mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang bersersakan, dan bisa melihat benang merah dari sebuah persoalan. Membaca membuat kita punya banyak bahan untuk menuliskannya kembali.

Bahkan, begitu banyak contoh di sekitar kita yang telah menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca itu cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik. Buya Hamka misalnya, ia sosok orang yang rajin membaca. Ia juga dikenal sebagai pembaca cepat. Maka tidak heran jika ia bisa menghasilkan banyak karya. Kemudian Rhenald Kasali misalnya, ia sang tokoh pemasaran Indonesia dan sekaligus orang yang aktif membaca. Akhirnya ia sangat mudah untuk menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran dimasa depan yang genial.

Sudah saatnya kita untuk membangun kembali tradisi membaca dan menulis (Iqra’). Itulah kontribusi yang bisa kita berikan untuk kemajuan bangsa kita yang lebih literat. Coba hitung waktu yang kita habiskan untuk menonton televisi misalnya, kemudian aktif bertukar status dan komentar di media sosial (Facebook, Instagram, berkicau di Twitter dan lain sebagainya). Dan seyogyanya, ambil separuh dari waktu yang kita habiskan di media sosial itu untuk membaca buku yang berkualitas. Maka dalam tempo satu bulan saja, besarkemungkinan kita sudah bisa menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, yakni menjadi pribadi yang literat.

Lewat kebiasaan membaca itulah, kita bisa melatih diri kita serta menajamkan pisau analisa kita serta bisa memupuk kreatifitas menulis kita. Akhirnya, kita akan punya kacamata yang mampu melihat berbagai sudut pandang informasi maupun dimendi keilmuan yang kita miliki. Dengan rajin membaca, maka kita akan punya amunisi kata dan kalimat yang siap untuk dituliskan. Dengan rajin membaca, kita akan punya pikiran yang lebih jernih, sehat, visioner dan inopatif. Bahkan, jika ada orang yang bertanya kepada kita, bagaimana caranya agar bisa menulis dengan baik? Maka jawaban yang sederhana yang bisa kita berikan adalah rajin-rajinlah membaca. Karena dengan rajin membaca, maka kreatifitas menulis kita akan semakin terasah dan terus meningkat dengan sendirinya. Bahkan, ada istilah yang disebut dengan “bibliophile”, yaitu yang memiliki cinta atau ketertarikan yang mendalam terhadap buku. Lebih dari itu, “bibliophile” juga bukan hanya sekedar pembaca buku biasa, tetapi ia menikmati setiap aspek dari buku itu, yakni mulai dari konten, latar belakang sang penulis buku yang ia baca hingga pada fisik buku itu sendiri.

II. Mengenal Bibliophile

Besar kemungkinan diantara kita pernah mendengar istilah “bibliophile” atau “bibliofil”, tapi apa sebenarnya arti dari kata tersebut? Oleh karena itu, pada sub judul bagian ini, penulis mencoba untuk membahas tentang pengertian, ciri-ciri, dan beberapa fakta menarik mengenai bibliophile itu.

A. Apa Itu Bibliophile?

Secara etimologi, istilah “bibliophile” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “biblion” yang berarti buku dan “philos” yang berarti cinta. Jadi, bibliophile adalah seseorang yang memiliki cinta atau ketertarikan yang demikian mendalam terhadap buku. Bibliophile bukan hanya sekedar pembaca buku biasa, tetapi ia memiliki hubungan emosional dengan buku yang ia baca. Ia menikmati setiap aspek dari buku itu, yakni mulai dari konten, sang penulis buku tersebut hingga pada bentuk fisik buku tersebut.

B. Ciri-Ciri Bibliophile

Ada beberapa ciri khas yang biasanya dimiliki oleh seorang bibliophile. Berikut adalah beberapa diantaranya : Pertama, mempunyai koleksi buku yang banyak. Bibliophile seringkali memiliki koleksi buku yang banyak, baik buku-buku baru maupun buku-buku lama. Ia tidak hanya menyimpan buku-buku yang ia baca, tetapi juga menikmati proses mengumpulkan berbagai jenis buku. Kedua, selalu membaca di waktu luang. Jika ada waktu luang, seorang bibliophile, ia cenderung menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Ia bisa membaca dimana saja dan kapan saja, entah itu di rumah, di kafe, atau bahkan di perjalanan. Ketiga, mengunjungi toko buku atau perpustakaan secara rutin dan teratur. Sedangkan toko buku dan perpustakaan adalah tempat favorit bagi para bibliophile. Mereka sering mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencari buku baru atau hanya sekedar untuk membaca buku serta menikmati suasana. Keempat, memiliki pengetahuan luas tentang buku dan penulis.

Sang “bibliophile” biasanya memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai genre buku dan penulis. Mereka bisa berbicara panjang lebar tentang buku-buku favorit mereka dan penulis yang mereka kagumi. Kelima, menjaga buku dengan sangat baik. Bagi seorang bibliophile, buku adalah harta yang harus dijaga dengan baik. Mereka akan memastikan bahwa buku-buku mereka selalu dalam kondisi yang baik dan terawat.

C. Mengapa Menjadi Bibliophile Itu Menyenangkan?

Menjadi seorang bibliophile tentu saja memiliki banyak manfaat dan kepuasan batin tersendiri. Berikut adalah beberapa alasan mengapa menjadi bibliophile itu menyenangkan :

1. Pengetahuan Yang Luas.
Membaca buku dari berbagai genre dan penulis dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan seseorang. Seorang bibliophile akan selalu haus akan informasi baru dan hal itu membuat mereka selalu ingin belajar.

2. Pengalaman Hidup Yang Beragam.
Setiap buku membawa pembaca ke dunia yang berbeda, menawarkan pengalaman hidup yang beragam. Bibliophile bisa menjelajahi berbagai budaya, sejarah, dan cerita fiksi yang menarik melalui isi buku.

3. Relaksasi Dan Hiburan.
Membaca buku adalah salah satu cara yang efektif untuk relaksasi dan hiburan. Seorang bibliophile dapat melarikan diri dari rutinitas sehari-hari dan terjun ke dalam dunia cerita yang menarik.

4. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis.
Dengan membaca buku, terutama buku non-fiksi atau literatur klasik, seorang bibliophile, ia dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Ia belajar untuk menganalisis dan memahami berbagai sudut pandang. Bahkan, menjadi seorang bibliophile bukan hanya tentang kecintaan terhadap buku, tetapi juga tentang bagaimana isi buku tersebut dapat memberikan pengaruh positif dalam konteks kehidupannya. Bibliophile memiliki hubungan yang unik dengan buku, karena melalui hobi tersebut, mereka dapat memperkaya pengetahuan, memperoleh pengalaman hidup yang beragam, serta menikmati relaksasi dan hiburan.

III. Dunia Literasi Dan Keasikan Membaca Buku

Membaca buku seyogyanya lebih dari sekadar hobi, karena aktivitas membaca buku banyak mengandung manfaat bagi kesehatan tubuh kita dan memperkaya jiwa dan intelektualitas kita, baik membaca buku fiksi maupun non fiksi. Bahkan, buku mampu memperluas wawasan dan menambah pengetahuan kita. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan dan sekalugus telah dimuat di “Journal of College Teaching and Learning” membuktikan bahwa kebiasaan membaca buku selama 30 menit setiap hari, akan mampu menurunkan tekanan darah dan menurunkan frekuensi detak jantung. Labih dari itu, manfaat membaca buku dapat mengurangi perasaan stres hingga 67 persen. Dengan rutin membaca buku, akhirnya perkembangan hormon stres seperti kortisol dapat ditekan, sehingga pikiran kita menjadi lebih santai dan rileks. Selain memberikan ketenangan dan ketajaman berpikir, membaca buku juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan daya ingat kita, yang pada akhirnya akan mempertajam nalaritas dan intelektualitas kita. Itulah alasan, mengapa membaca buku itu menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi kita. Bahkan, ada berbagai julukan bagi orang yang hobi membaca dan pecinta novel terutama di dunia literasi memiliki banyak istilah menarik, yang menggambarkan tentang kebiasaan dan kecintaan seseorang terhadap buku. Berikut ini sembilan istilah atau sembilan julukan seputar penggemar buku.

1. Bibliofil.
Bibliophile adalah istilah yang digunakan untuk orang yang sangat mencintai buku. Mereka tidak hanya sekedar menikmati membaca buku, tetapi juga memiliki hasrat untuk mengoleksinya. Seorang bibliofil seringkali menghabiskan waktu untuk mencari edisi langka dan merawat buku dengan hati-hati. Biasanya mereka memiliki perpustakaan pribadi yang cukup besar untuk menampung koleksi buku-bukunya. Kecintaan pada buku dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari fisik buku, cerita di dalamnya, hingga sejarah dan nilai seni dari buku tersebut. Tidak heran jika seorang bibliophile, ia biasanya rela menghabiskan uangnya demi untuk mendapatkan buku-buku yang diinginkan dan melihat buku sebagai investasi jangka panjang.

2. Kesukaan Buku.
Berbeda dengan bibliophile yang memiliki kecintaan wajar terhadap buku, bibliomania adalah kondisi dimana seseorang memiliki obsesi yang berlebihan terhadap buku. Seorang bibliomania membeli buku terus-menerus yang sering kali dalam jumlah yang tidak mungkin dibaca dalam waktu dekat. Koleksi bibliomania bisa sangat banyak dan tidak teratur, bahkan banyak buku yang belum pernah dibuka. Meskipun kecintaan pada buku sangat kuat, obsesi itu bisa menjadi tidak sehat jika mengarah pada perilaku kompulsif dan menimbulkan masalah ruang dan keuangan.

3. Tsundoku.
Tsundoku adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli buku dan menumpuknya tanpa pernah membacanya. Istilah itu menggambarkan seseorang yang menikmati proses membeli dan memiliki buku, namun tidak memiliki waktu atau keinginan untuk membaca semua buku tersebut. Buku-buku yang dimiliki sering kali hanya menjadi pajangan atau bagian dari dekorasi rumah. Kebiasaan itu bisa disebabkan oleh ketertarikan sementara terhadap buku baru atau kurangnya waktu luang untuk membaca.

4. Book Sniffer.
Book sniffer adalah julukan untuk orang yang menemukan kenikmatan dalam mencium aroma buku. Mereka menikmati bau khas dari halaman-halaman buku, baik yang baru maupun yang lama. Bagi book sniffer, aroma buku adalah bagian penting dari pengalaman membaca yang tidak bisa digantikan oleh e-book atau audiobook. Aroma buku dianggap bisa membawa ke kenangan masa lalu, memberikan rasa nostalgia, atau sekadar menambah kenikmatan saat membaca. Mereka mungkin juga memiliki preferensi tertentu, seperti lebih menyukai aroma buku tua yang berdebu dibandingkan buku baru yang masih segar dari percetakan.

5. Bibliotaph.
Julukan bibliotaph merujuk pada orang yang suka menyembunyikan buku-bukunya agar tidak dipinjam atau diambil oleh orang lain. Mereka sangat melindungi koleksi buku yang dimiliki dan takut buku-buku tersebut akan rusak atau hilang jika berada di tangan orang lain. Bibliotaph cenderung memiliki sikap posesif terhadap buku-buku yang dimiliki dan mungkin menyembunyikannya di tempat-tempat yang tidak mudah dijangkau oleh orang lain. Mereka cenderung menolak meminjamkan buku kepada teman atau keluarga karena khawatir buku tersebut tidak akan dikembalikan dalam kondisi baik.

6. Bibliognost.
Bibliognost adalah seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang buku-buku yang dibaca. Mereka tidak hanya mengingat cerita atau informasi dalam buku, tetapi juga detail-detail kecil seperti daftar isi, urutan bab, dan kutipan-kutipan penting. Pengetahuan ini mencerminkan kecintaan dan ketekunan dalam membaca. Bibliognost mungkin bisa mengingat banyak informasi dari berbagai buku yang pernah dibaca dan sering kali menjadi sumber informasi bagi orang lain. Mereka memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai konsep dan ide dari buku yang berbeda dan mampu mendiskusikan buku dengan sangat mendalam.

7. Librocubicularist.
Librocubicularist adalah istilah untuk orang yang suka membaca buku di tempat tidur. Bagi mereka, tempat tidur adalah tempat paling nyaman untuk menikmati buku, terutama sebelum tidur. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu relaksasi dan memperbaiki kualitas tidur. Membaca di tempat tidur bisa menjadi ritual malam yang menenangkan, membantu mengalihkan pikiran dari stres sehari-hari, dan mempersiapkan tubuh untuk istirahat. Librocubicularist mungkin memiliki koleksi buku di samping tempat tidur yang siap untuk dibaca kapan saja.

8. Book-Bosomed.
Book-bosomed adalah sebutan bagi orang yang selalu membawa buku kemana pun pergi. Mereka sering terlihat membaca di berbagai tempat, seperti di kereta, bus, atau kafe. Dengan selalu membawa buku, mereka siap memanfaatkan setiap waktu luang untuk membaca. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya buku dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pecinta buku mungkin memiliki tas atau jaket dengan kantong yang cukup besar untuk menyimpan buku dan akan merasa kurang lengkap tanpa membawa buku. Mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk membaca, baik saat menunggu antrian atau dalam perjalanan.

9. Bukuarazzi.
Bookarazzi adalah julukan untuk orang yang suka memotret buku dan membagikan foto buku estetik di media sosial. Mereka menikmati mendokumentasikan buku yang sedang mereka baca dengan gaya yang estetis. Seringkali foto buku estetik itu dilengkapi dengan properti seperti bunga, kopi, atau kacamata. Kegiatan tersebut menunjukkan cara mereka mengekspresikan kecintaan terhadap buku melalui seni fotografi. Bookarazzi mungkin memiliki akun media sosial khusus untuk berbagi foto-foto buku dan mendapatkan pengikut yang memiliki minat yang sama. Mereka seringkali ikut serta dalam tantangan membaca dan diskusi buku online, serta membangun komunitas seputar kecintaan terhadap literasi. Itulah sembilan istilah seputar penggemar buku yang mencerminkan kecintaan dengan cara yang berbeda. Mungkin diantara kita bisa menemukan kebahagiaan di antara halaman-halaman buku favoritmu. Untuk menikmati pengalaman membaca, kita bisa menciptakan ritual yang khusus saat membaca.

Misalnya, sediakan secangkir teh atau kopi yang hangat, nyalakan lampu favorit kita, dan duduklah di kursi yang nyaman. Menetapkan tujuan membaca dapat membantu tetap termotivasi dan terarah, jadi jangan ragu untuk menyusun daftar bacaan yang ingin kita jelajahi. Pilihlah beragam genre dan topik agar pengalaman membaca semakin beragam. Selain itu, diskusikan buku favorit kita dengan teman atau bergabung dengan komunitas pembaca. Dengan berbagi pandangan dan rekomendasi, kita tidak hanya memperkaya pengalaman membaca hasil karya orang lain, tetapi juga menemukan perspektif baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya. Membaca adalah petualangan yang lebih seru ketika dinikmati bersama.

III. Hobi Membaca Buku Akan Menghasilkan Kreatifitas Menulis

Hobi membaca buku akibat positifnya akan merambat pada sebuah hobi untuk menulis. Karena, banyak para pembaca buku pada akhirnya terinfiltrasi dan terinsfirasi oleh para penulis profesional, yakni melalui karya ilmiah para penulis profesional itu, dan si pembaca buku akhirnya terus menjadi seorang pembelajar tanpa henti dan kemudian menjadi seorang yang literat, dan endingnya diharapkan akan menjadi seorang penulis yang profesional. Tapi, realitas yang terjadi hingga saat ini, nampaknya para pembaca muda (generasi Z) menurut tinjauan penulus, kini agak berbeda gayanya dengan para pembaca zaman dulu, terutama yang penulis alami dan penulis rasakan. Mengingat ketika di zaman (saat penulis berproses untuk bisa menulis) sekalipun penulis punya banyak keterbatasan dan bahkan saat itu (di era tahun 90-an) belum ada media sosial (Medsos). Tapi semangat untuk aktivitas membaca di perpustakaan demikian tinggi dan punya kepuasan batin tersenditi khususnya bagi penulis. Bahkan, yang penulis rasakan dan penulis alami saat itu memang punya banyak keterbatasan finansial khususnya untuk membeli buku-buku, namun sejatinya cinta dan hobi membaca malah semakin menguat, dan sejak kecil juga spirit untuk hobi membaca itu sudah ada dan sudah terinternalisasi di hati.

Bahkan, ketika masa-masa (kuliah) penulis punya banyak keterbatasan untuk membeli dan memiliki buku, baik buku (reperensi bahan pelajaran kuliah) maupun buku-buku yang bersifat ilmiah lainnya. Tapi, sekalipun punya banyak keterbatan yang ada pada saat itu (terutama untuk daya beli buku), namun penulus terus berjibaku untuk mendatangi berbagai perpustakaan, baik perpustakaan yang ada di Kampus maupun perpustakaan nasional. Lebih dari itu, penulis saat itu sering berkunjung juga ke tempat-tempat penyewaan buku, dan bahkan kerapkali juga meminjam buku-buku dari teman seangkatan (kuliah). Saking sering dan terlalu banyaknya meminjam buku dari teman seangkatan (kuliah) itu, malah akhirnya penulis juga lupa, yakni buku apa saja yang pernah penulis pinjam, dan dimana keberadaan tempat tinggal teman penulis yang seringkali penulis pinjam buku-bukunya itu? Bahkan, menu sehari-hari penulis saat itu (zaman kuliah), penulis selalu membaca berbagai judul artikel yang dimuat di koran-koran harian seperti di koran Kompas, Republika, Media Indonesia, Harian Terbit dan lain sebagainya, yang setiap hari koran-koran tersebut selalu di pampang/di tempel di Majalah Dinding (Mading) yang ada di Kampus, yang kebetulan saat itu selalu dipasang oleh para petugas di Kampus.

Namun fakta yang terjadi saat ini, nampaknya para pembaca masa kini (generasi Z) mereka kebanyakan membaca literatur instan, dan akhirnya ilmu penulisan yang didapat dan diserap juga menjadi instan. Entah novel online, berita-berita online (Google), blog-artikel dan lain sebagainya. Sementara tulisan asli dari hati, pengalaman, perasaan dan pengetahuan dari sang penulis nampaknya oleh para pembaca saat ini tidak didapatkan. Bahkan hal itu akan terasa betul, yakni dari cara penuturan dan pengolahan kata-kata si penulis di era kekinian. Namun seyogyanya, sebuah tulisan itu tidak hanya sekedar ikut-ikutan tren atau yang bersifat hits semata, atau bukan hanya yang “mainstream” atau berisi yang disukai banyak orang saja, tetapi seyogyanta berbagai tulisan yang menginsfirasi, walaupun fiksi, tapi ia memiliki kadar makna, dan satu dua amanat yang bisa dipetik oleh para pembaca. Lebih dari itu, tulisan yang menginsfirasi, memang demikian ringan dan tidak menggurui namun bisa mendidik. Bahkan yang lebih miris lagi saat ini, bahwa keberadaan generasi Z, yakni di era digital saat ini, tradisi menulis tangan di internal generasi Z, mulai terasa seperti seni yang hampir punah dan bahkan generasi Z saat ini terkesan sudah gagap dan gugup lagi dengan kebiasaan menulis dengan tangan itu.

A. Ciri Generasi Z Yang Terkesan Gagap Dan Gugup Menulis Dengan Tangan

Di era digital yang serba cepat saat ini, menulis tangan mulai terasa seperti seni yang hampir punah, terutama bagi generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Perubahan itu menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan komunikasi dan cara berpikir kita. Sebuah studi terbaru dari “University of Stavanger” telah menemukan fakta yang cukup mengejutkan: sekitar 40% dari Generasi Z mulai kehilangan keterampilan menulis tangan, sesuatu yang telah menjadi bagian penting dalam interaksi manusia selama 5.500 tahun.

Bagaimana teknologi saat ini telah mengubah cara kita berkomunikasi kemajuan teknologi digital telah mengubah cara kita berinteraksi satu sama lain. Keberadaan aplikasi seperti WhatsApp dan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok telah mendorong komunikasi yang serba cepat dengan pesan singkat yang dipenuhi singkatan dan emoji. Dengan dominasi platform ssperti itu, kebiasaan menulis tangan menjadi semakin jarang di kalangan anak muda. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa Generasi Z mungkin menjadi generasi pertama yang tidak benar-benar menguasai keterampilan menulis tangan secara fungsional. Hal itu bukan sekadar masalah kenyamanan, tetapi hal itu juga menandakan perubahan besar dalam cara kita mengolah informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Ketika komunikasi digital menjadi yang utama, justru kita malah kehilangan sentuhan personal yang hadir dalam tulisan tangan.

B. Menulis Tangan Tingkatkan Kemampuan Akademik Siswa

Mengapa menulis tangan penting untuk otak? Menulis tangan bukan sekadar aktivitas sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap perkembangan otak. Kegiatan itu membantu meningkatkan daya ingat dan pemahaman terhadap informasi yang dibaca atau didengar. Berbeda dengan mengetik, menulis tangan melibatkan keterampilan motorik halus dan fokus mental yang dapat memperkuat pembelajaran. Laporan dari berbagai universitas, menunjukkan bahwa banyak siswa Generasi Z kesulitan ketika diminta untuk menulis tangan. Mereka sering merasa bingung dan hasil tulisan mereka-pun sulit dibaca karena kurangnya latihan. Profesor Nedret Kiliceri mengamati bahwa banyak mahasiswa saat ini kurang menguasai dasar-dasar menulis. Mereka cenderung menghindari pembuatan kalimat panjang atau paragraf yang kohesif dan lebih memilih gaya tulisan yang menyerupai unggahan di media sosial.

Bahkan tidak jarang mahasiswa datang ke universitas tanpa membawa pena dan hanya bergantung sepenuhnya pada keyboard untuk mencatat dan menyelesaikan tugas. Media sosial juga berperan besar dalam perubahan ini. Platform seperti Twitter mendorong komunikasi singkat dan cepat, yang secara tidak langsung telah mempengaruhi cara anak muda berbicara, baik di dunia maya maupun di dunia nyata atau dalam interaksi sehari-hari. Sedangkan dampak terhadap komunikasi global penurunan keterampilan menulis tangan bukan hanya soal mengirim surat atau kartu pos, tetapi juga berpengaruh pada cara Generasi Z untuk memahami dunia di sekitar mereka. Menulis tangan seringkali mencerminkan komunikasi yang lebih reflektif dan personal, berbanding terbalik dengan sifat komunikasi digital yang sering terburu-buru. Lalu, pertanyaannya adalah : dapatkah Generasi Z menyeimbangkan kehidupan digital mereka sambil tetap menjaga keterampilan kuno yang telah membentuk peradaban? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya bagaimana kita berkomunikasi, tetapi juga bagaimana kita menjaga warisan budaya kita.

Saat kita menghadapi transisi ini, sangat penting bagi para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk mencari cara menggabungkan kecerdasan digital dengan keterampilan tradisional seperti menulis tangan dalam sistem pendidikan di seluruh negeri ini. Mendorong praktik yang memadukan kedua dunia ini agar bisa membantu generasi mendatang, yakni yang bisa mempertahankan kemampuan kognitif yang penting sambil tetap mengikuti perkembangan teknologi. Bahkan pada akhirnya, memahami pentingnya menulis tangan dapat membangkitkan kembali apresiasi terhadap peranannya dalam membangun hubungan yang lebih mendalam di dunia yang semakin digital ini

C. Ciri-Ciri Orang Punyak Bakat Menulis

Kita bisa mengetahui dan sekaligus bisa membedakan, bahwa orang tersebut betul-betul berbakat atau hanya sebatas minat dengan cara melihat hasil dari orang yang melakukan keterampilan itu, seperti hasil menulis dari orang berbakat yang jauh lebih bagus dibandingkan dengan hasil menulis dari orang yang hanya berminat melakukannya, meskipun orang berbakat tersebut baru belajar sedikit saja, maka ia sudah bisa mengungguli orang dengan minat menulis tanpa disertai dengan bakat menulis. Untuk mengetahui apa saja ciri orang yang punya bakat menulis itu diantaranya :

1. Lebih Suka Mengekspresikan Diri Melalui Tulisan.
Orang dengan bakat menulus biasanya kurang nyaman berbicara, mereka jauh lebih suka menulis, entah itu mengekspresikan kemarahannya dengan teman, berdebat dengan orang lain, menyatakan cinta, dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti orang dengan bakat menulis itu tidak bisa berbicara, hanya saja faktor kenyamanan yang membuat mereka lebih betah untuk menulis. Kita sering menemukan orang yang ketika mengirim pesan panjang sekali, tetapi ketika bertemu secara langsung, dia sangat sedikit berbicara, itu salah satu dari banyaknya contoh orang yang punya bakat menulis.

2. Memiliki Daya Imajinasi Yang Tinggi.
Daya imajinasi yang tinggi sangat diperlukan ketika ingin menjadi seorang menulis. Orang yang mempunyai bakat menulis selalu mengandalkan daya imajinasinya untuk bisa menulis opini atau cerita melalui komputer dan kertas. Apalagi jika ingin menulis novel yang umumnya dengan kategori fiksi, di sinilah peran daya imajinasi sangat tinggi bagi seorang penulis maupun pengarang. Tidak heran apabila kita menemukan seorang penulis yang sedang termenung dan menyendiri, hal itu demi bisa (mengkhayal) untuk bisa mendapatkan ide-ide yang menarik ketika menulis nanti.

3. Bisa Merencanakan Alur Cerita.
Alur cerita sangat penting apabila ingin menulis novel, cerita pendek, dan lain sebagainya. Tanpa alur cerita, bisa membuat novel tersebut tidak nyambung antara bab satu dengan bab lainnya. Sebelum menulis novel, seorang penulis maupun pengarang harus merencanakan kerangka dasar penulisan terlebih dahulu. Kerangka penulisan itu berisi rencana-rencana alur cerita, dari mulai berapa orang tokoh yang ada pada novel tersebut, sifat masing-masing dari karakternya apa saja, ceritanya dimulai dari mana, dan lain sebagainya. Untuk merencanakan alur cerita itu bagi beberapa orang tidak mudah, apalagi merencanakan cerita dengan panjang ratusan halaman pada novel, tetapi bagi seorang yang memang berbakat menulis, pasti hal itu sangat mudah baginya.

4. Menulis Kalimat Yang Panjang Tidak Akan Terasa Sulit.
Seorang yang berbakat menulis merasa gampang sekali untuk merangkai kata lebih dari seribu kata. Apalagi seorang yang berbakat menulis didukung dengan daya imajinasi yang tinggi, ia bisa merencanakan alur cerita, dan lebih suka mengekspresikan diri melalui tulisan. Oleh karena itu, kita bisa membedakan mana orang yang benar-benar berbakat menulis, dengan orang yang hanya berminat menulis tanpa disertai dengan bakat.

5. Suka Membaca Buku.
Sering membaca buku sudah menjadi tabiat bagi orang yang berbakat menulis, dengan membaca buku bisa menambah pengetahuan yang dia punya. Pengetahuan itu nantinya dijadikan sebagai sumber referensi ketika mau menulis. Seperti halnya tulisan yang mengandung ilmiah, harus ada sumber referensi yang biasanya diambil dari buku, tetapi bukan berarti menyalin keseluruhan, penulis biasanya mengaitkan teori itu dengan peristiwa yang ada di sekitarnya.

6. Bisa Mengaitkan Peristiwa Dengan Teori Yang Kita Alami.
Setiap kali seorang yang punya bakat menulis telah menemukan teori baru melalui buku yang dia baca, seorang yang berbakat menulis itu sudah timbul ide-ide untuk dibahas melalui tulisan yang akan dia tulis ke depannya, seperti menemukan teori pemasaran, dia akan mengaitkan teori itu dengan berita perusahaan yang menggunakan teori yang dia baca ketika mempromosikan produk. Oleh karena itu, tidak heran ketika kita membaca sebuah blog, pasti ada teorinya beserta ada peristiwa yang dikaitkan di bawah dari teori tersebut.

7. Suka Membagikan Ilmu Yang Dia Punya Ke Para Pembaca.
Tujuan dari penulisan tentu saja untuk bisa dibaca oleh orang banyak, yang pastinya bacaan itu harus mengandung nilai bagi orang lain, seperti bacaan dari blog yang sering kita temukan. Sudah pasti bagi seorang yang berbakat menulis untuk membagikan ilmunya melalui blog, buku, dan lain sebagainya. Jika seorang penulis tidak suka berbagi keilmuan, lalu untuk apa ia menulis dengan kalimat yang panjang itu. Apalagi jika menjadi seorang penulis buku dengan panjang ratusan halaman.

8. Bisa Membuat Pembaca Merasakan Emosi Yang Ditulis.
Kita pasti pernah menemukan kalimat pada novel yang ketika kita membacanya, entah kenapa kita jadi ikut emosi dan terbawa suasana setelah membaca novel itu. Itulah yang dimaksud dengan penulis berhasil membuat para pembacanya terbawa suasana. Emosi yang dimaksud tidak hanya marah saja, bisa saja ikut merasakan gembira, ikut merasakan sakit hati, dan lain sebagainya. Justru dengan emosi para pembaca itu yang membuat novelnya lebih laris ketika diletakkan di toko buku mana pun. Orang yang memiliki bakat menulis, sangat mudah membuat para pembaca ikut merasakan emosi dari hasil yang dia tulis itu. Dari delapan ciri di atas, penulis sedikut banyak telah menggambarkan apakah kita berbakat menulis atau hanya sekadar minat tanpa bakat menulis. Dan ketika kita mencoba menulis, dan ciri-ciri mana saja yang kita punya?

IV. Menulis Kreatif

Menulis kreatif, akan muncul apabila kita telah terjangkiti oleh sebuah penyakit yang positif, yaitu sebuah hobi membaca. Sementara menulis kreatif, bolehlah disebut sebagai menulis dengan cara yang beda. Karena kreatif itu berarti berbeda. Berbeda dari cara orang-orang kebanyakan. Berbeda dari hal-hal yang lazim selama ini. Maka menulis kreatif dapat dikatakan sebagai cara atau kemampuan untuk menuangkan ide dan gagasan secara tertulis yang berbeda dan menarik sehingga memberi pengalaman batin kepada pembaca yang spesial.

Seiring berkembangnya teknologi digital dan internet saat ini, kreativitas menjadi aspek penting yang harus dikuasai oleh siapapun. Bahkan kini, tidak sedikit perusahaan atau profesi di dunia kerja yang membutuhkan kehadiran orang-orang yang kreatif, yaitu para individu yang mampu menghasilkan produk atau karya kreatif. Sebagai inovasi atau terobosan baru dalam menyajikan sesuatu yang berberda kepada konsumen atau masyarakat. Bahkan di dalam buku berjudul “Kompetensi Menulis Kreatif” kaya Syarifudin Yunus, demikian gamlang bahwa setiap orang pasti memiliki potensi kreatif. Karena sejatinya, kretaivitas itu sendiri memang tidak diwariskan dari siapapun. Namun, karya kreatif tidak hadir begitu saja tanpa dipelajari atau dilakukan. Bahkan kreativitas tidak selalu berkutat pada bidang tertentu saja, seperti, seniman, penulis, desainer atau sineas film. Dalam dunia penulisan pun dibutuhkan proses kreatif. Tapi sayangnya, hingga saat ini banyak orang yang gagal untuk menemukan atau mengenali daya kreatif yang dimilikinya.

Menulis kreatif sebagai pembelajaran, yang subtansinya terletak pada proses untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang berbeda. Perbedaaan sebuah tulisan bisa terjadi akibat empat aspek, yaitu (1). Perilaku dalam proses menulis yang berbeda. (2). Batin yang mendasari proses menulis berbeda. (3). Pikiran yang disajikan dalam tulisan tidak lazim. (4). Karya atau buku yang dihasilkan pun berbeda. Oleh karena itu, menulis kreatif harus dilihat sebagai kompetensi. Bukan pelajaran atau teori semata. Sama sekali tidak bermakna belajar menulis di ruang kelas, bila akhirnya tidak mampu membuat tulisan. Faktanya, berapa banyak orang pandai secara teori tapi gagal secara praktik. Berapa banyak orang pandai bicara, namun tidak mampu untuk menulis. Hal itu artinya, mereka hanya “pandai” tapi “tidak kompeten”.

Lalu, apa itu menulis kreatif?
Maka menulis kreatif adalah kompetensi. Menulis sebagai kemampuan yang dilatih dari potensi kreatif yang dimiliki seseorang. Menulis kreatif pun tidak cukup hanya bakat, tidak pula terbatas pada minat. Maka menulis menjadi sebuah perilaku yang harus dibiasakan. Itulah pentingnya belajar menulis kreatif.

Masih menurut buku berjudul “Kompetensi Menulis Kreatif” karya Syarifudin Yunus, ia menjelaskan bahwa ada enam aspek penting menulis kreatif diantaranya : (1). Pengetahuan, sebagai landasan untuk memulai proses menulis kreatif. (2). Sikap, sebagai pijakan untuk menentukan tema dan topik tulisan yang mau disajikan. (3). Proses, sebagai cara atau tahapan yang dilakukan dalam konteks untuk menuangkan ide dan gagasan secara tertulis. (4). Keterampilan, sebagai target aktivitas menulis kreatif yang dibiasakan sehingga menjadi keterampilan tersendiri. (5). Hasil, sebagai bukti karya atau tulisan yang dihasilkan dari menulis kreatif. (6). Profesi, sebagai puncak tertinggi proses menulis kreatif sehingga dapat ditekuni sebagai profesi yang bisa menghasilkan penghasilan dari menulis. Umumnya, menulis kreatif terjadi pada penulisan sastra seperti puisi, cerpen, novel, drama, naskah sinetron. Tapi hari ini, menulis kreatif pun terus menjalar ke seluruh bidang kehidupan, seperti marketing, iklan, public relation, bahkan acara-acara TV yang banyak dihasilkan dari cara berpikir yang kreatif.

A. Pahami Pentingnya Membaca

Sementara salah satu kunci sukses dalam menulis kreatif adalah tradisi membaca yang harus kuat. Bisa dibilang, seorang penulis yang baik dan kreatif biasanya adalah pembaca yang rakus. Karena lewat membaca, maka ia bisa belajar banyak tentang gaya penulisan, struktur cerita, karakterisasi, dan teknik naratif yang kerapkali digunakan oleh penulis-penulis terkenal.

Membaca karya dari berbagai genre dan penulis dengan gaya yang berbeda-beda, hal itu akan memperkaya wawasan kita soal apa yang mungkin dilakukan dalam menulis kreatif. Semakin banyak membaca, maka semakin kaya akan referensi yang bisa kita manfaatkan ketika kita sedang menulis. Pembaca yang luas juga akan punya banyak pemahaman yang lebih baik tentang teknik naratif yang efektif, teknik penggunaan bahasa, dan cara menyampaikan ide dengan lebih kuat.

1. Latihan Menulis Secara Konsisten Dan Terus Menerus

Selanjutnya, sama halnya dengan skill lainnya, menulis kreatif juga membutuhkan latihan. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula adalah menunggu insfirasi yang datang sebelum menulis. Meskipun inspirasi memang bisa jadi motivasi awal yang kuat, namun hal itu tidak cukup untuk mengembangkan skill menulis secara konsisten. Para penulis hebat, mereka faham betul bahwa menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan disiplin. Menulis secara konsisten, baik itu setiap hari atau beberapa kali seminggu, sangat penting untuk membangun kebiasaan dan mempertajam kemampuan menulis kita. Semakin sering kita menulis, maka semakin mudah untuk menemukan suara dan gaya menulis kita sendiri.

2. Pelajari Struktur Cerita Dan Teknik Naratif

Menulis kreatif bukan hanya soal menuangkan ide kedalam tulisan, namun ada teknik dan struktur yang perlu dipahami agar cerita bisa disampaikan dengan efektif. Salah satu elemen terpenting dalam menulis fiksi misalnya, adalah struktur cerita. Banyak cerita yang mengikuti struktur tiga babak, pengenalan, konflik, dan resolusi. Memahami bagaimana struktur itu bisa sangat membantu dalam membangun cerita yang kuat dan memikat. Memahami teknik naratif dan struktur cerita bisa membantu para penulis untuk menyampaikan ide-idenya secara lebih teratur dan efektif. Tanpa memahami struktur cerita, maka narasi bisa jadi berantakan atau sulit diikuti, yang akhirnya bisa bikin pembaca kehilangan minat. Dengan teknik yang baik, akhirnya cerita bisa terasa lebih kaya, lebih dinamis, dan bahkan lebih mengesankan.

3. Terima Kritik Dan Masukan Dengan Terbuka

Memasuki dunia “creative writing” berarti kita harus siap untuk menghadapi kritik, baik dari pembaca, sesama penulis, atau dari sang editor. Ingat, kritik bukanlah hal yang negatif, melainkan alat yang sangat penting untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tulisan kita. Seorang penulis yang baik, ia akan mampu menerima kritik secara konstruktif dan menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki karyanya. Namun tentu saja, tidak semua kritikan itu sangat relevan atau bermanfaat, jadi usahakan untuk belajar membedakan mana kritik yang membangun dan mana yang hanya sekedar ngeritik. Namun, dengan mendengarkan masukan dari orang lain, maka kita bisa melihat kelemahan yang mungkin tidak kita sadari sendiri dan kemudian untuk berkembang menjadi penulis yang lebih baik.

4. Kembangkan Suara Dan Gaya Menulis Yang Unik

Salah satu tantangan terbesar dalam “creative writing” adalah untuk menemukan dan mengembangkan suara dan gaya menulis yang unik dan jadi ciri khas tersendiri. Setiap penulis punya cara sendiri dalam bercerita, memilih kata-kata, dan mengungkapkan ide. Suara itulah yang bikin tulisan kita menjadi berbeda dari tulisan orang lain dan bisa jadi identitas yang membedakan kita di dunia kepenulisan. Proses menemukan suara itu memang bisa memakan waktu, dan melibatkan banyak eksperimen. Namun jangan takut untuk terus mencoba berbagai gaya menulis, perspektif, atau genre sampai kita bisa menemukan yang paling cocok dengan kepribadian dan ketertarikan kita. Ketika kita menulis dengan suara yang otentik misalnya, maka pembaca akan lebih mudah terhubung dengan cerita dan karakter kita. Bahkan, masuk ke dunia “creative writing” memang menarik, tapi sekaligus juga cukup menantang. Ingatlah selalu bahwa menulis adalah perjalanan yang perlu waktu dan kesabaran. Namun dengan ketekunan dan ketelatenan, kita akan bisa menemukan gaya dan kreativitas kita, dan sekaligus mampu menghasilkan sebuah karya yang memikat dan menginsfirasi banyak orang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top