Perdebatan Ilmiah Antara Para Filosof, Ilmuan Syaraf, Dan Para Fisikawan Tentang Otak Dan Kesadaran Diri Manusia

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog (Eksistensi Ruh)

Dalam konteks ajarah Islam, manusia selalu dipahami dan sekaligus disimpulkan terdiri dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan ruhani. Keberadaan keduanya sama-sama penting dan menentukan dalam keberlangsungan manusia di alam jagat raya ini. Bahkan, manusia tanpa jsamani, maka ia tidak akan kelihatan dan tidak akan disebut manusia bahkan bisa saja disebut makhluk halus alias meumeudi. Demikian pula sebaliknya, manusia tanpa ruh juga tidak akan sempurna atau bahkan tidak akan hidup, alias seperti bangkai. Dari kedua unsur tersebut, lalu mana yang menjadi kekuatan penggeraknya manusia? Maka orang akan mengatakan adalah unsur ruh atau ruhaninyahnya. Yaitu unsur yang menjadi kekuatan pada diri manusia berada di dalam hatinya, yaitu “ruh” atau dalam bahasa sehari-hari disebutnya ‘aku’. Itulah sebabnya, ketika seseorang ditanya tentang siapa pemilik anggota tubuhnya, misalkan matanya, telinganya, mulutnya, kakinya, tangannya, dan bahkan semua anggota tubuhnya, maka ia akan segera dijawab, miliku. Dan oleh karena itu, ‘aku’ sebagai pemilik semua itu.

Lalu, apa yang disebut sebagai “ruh” atau ‘aku” itu? Ruh ketika masih berada di dalam tubuh manusia, maka raga orang yang bersangkutan akan hidup. Dan ruh itulah yang sebenarnya menjadi kekuatan penggerak terhadap semua potensi dan anggota tubuh manusia. Dengan adanya ruh, maka telinga kita akan bisa berfungsi dan sekaligus bisa digunakan untuk mendengar, mata kita dapat digunakan untuk melihat, demikian pula otak kita bisa digunakan untuk berpikir, dan seterusnya. Akan tetapi manakala ruh itu sedang meninggalkan jasad kita, maka semua anggota tubuh kita tidak dapat berfungsi. Misalnya, ketika kita sedang tidur, artinya ruh kita sementara sedang keluar dari jasad kita, maka mata yang dimiliki oleh kita juga tidak bisa berfungsi untuk melihat, telinga kita juga tidak bisa digunakan untuk mendengar, otaknya kita tidak bisa digunakan untuk berpikir, dan bahkan semua anggota tubuh kita tidak akan bergerak dan juga tidak berfungsi.

Lebih jauh lagi, ketika ruh kita atau ‘aku’ kita sudah tidak ada (meninggalkan jasad kita) untuk selama-lamanya, alias kita sudah wafat, maka secara fisik kehidupan kita sudah berakhir. Bahkan, jasad kita-pun harus segera dikuburkan. Apa saja yang ada pada diri kita (badan kita) memang sudah tidak berfungsi lagi, hal itu disebabkan oleh ruh kita sudah keluar dari jasad kita. Mungkin, dalam dunia teknologi modern sekarang ini, manusia itu dapat diumpakan sebagai komputer, yaitu terdiri dari “hardware” dan “software”, ketika komputer itu tidak tersedia “softwarenya”, maka tidak akan memiliki arti apa-apa.

Ruh atau sebagaimana diumpamakan sebagai “software” itu, ia memiliki jangkauan yang lebih luas. Bahkan, keberadaannya tidak kelihatan, namun selalu menjadi penentu. Dalam diri manusia, “software” itu disebut ‘aku’ yang selain menjadi kekuatan atau energi, ia juga berperan sebagai penentu arah kehidupannya. Apa yang disebut sebagai ‘aku” itulah sebenarnya yang menjadi kekuatan manusia. Tapi, manakala kekuatan itu telah tiada selamanya, maka kehidupan kita di dunia ini telah berakhir. Pada saat berakhirnya kehidupan kita di dunia ini, maka jasad kita akan segera dikembalikan kepada asalnya, yaitu ke tanah. Sementara itu, ‘aku’ atau ruh akan kembali kepada asalnya. Dalam perspektif agama, jasad kita tidak akan keliru ketika kembali, oleh karena diurus oleh orang lain. Namun yang menjadi persoalan adalah ruhnya. Ruh atau ‘aku’ kita tidak akan ada sesorang pun yang bisa menolong kecuali dirinya sendiri. Sementara orang-orang yang dalam hidupnya terus berusaha mengenal siapa Dzat Penciptanya, maka ia akan dapat kembali kepada-Nya. Katena Tuhan disebut sebagai Dzat Yang Maha Suci, Maha Adil, Maha Benar serta sifat-sifat mulia lainnya. Dan siapa saja yang bermaksud agar bisa kembali kepada-Nya, maka sudah tentu harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sifat-sifat mulia sang Khalik-Nya. Ruh atau ‘aku’ nya harus dirawat atau dijauhkan dari sifat-sifat dan atau perilaku yang tidak seharusnya dimiliki oleh sang pencipta-Nya. Sebaliknya, harus selalu menyesuaikan diri dengan sifat-sifat yang mulia (Allah SWT). Dan itulah ‘aku’ yang berhasil dalam menjalani hidupnya ketika di alam dunia ini.

Lalu, bagaimana dengan keberadaan otak manusia dan bagaimana proses berpikir yang digerakan oleh otak manusia itu? Otak manusia memiliki sebuah keunikan. Karena, seluruh informasi yang sudah masuk ke otak kita tidak akan ada yang bisa terbuang. Jadi, wajar saja kalau kita sedemikian sulitnya untuk menghapuskan soal kenangan yang pahit maupun kenangan yang manis ketika dimasa lalu. Dengan keunikan otak kita itu, maka kita tidak bisa “unsee” hal-hal yang sudah terlanjur kita “seen”. Kita juga tidak dapat “unhear” yang sudah pernah kita “heard”. Ibarat kamera yang selalu merekam dalam setiap detik dengan kualitas HD, yakni begitu banyak yang perlu diproses oleh otak kita. Bayangkan, berapa banyak informasi yang masuk ke kepala kita atau ke otak kita setiap harinya?

Sementara otak kita terdiri dari sekitar 1 miliar neuron, bahkan tiap neuron mampu membentuk sekitar 1.000 koneksi. Sementara masing-masing neuron itu dapat saling membantu untuk menyimpan banyak memori pada satu waktu. Bahkan apabila diakumulasikan, maka kapasitas penyimpanan memori otak kita memang setara dengan sekitar 2,5 petabyte atau satu juta gigabyte. Sebagai perbandingan, kalau otak kita bekerja seperti perekam video digital di televisi, 2,5 petabyte, hal itu akan cukup menampung tiga juta jam acara televisi. Bahkan, seluruh informasi mentah yang masuk ke otak kita akan diproses secara tidak sadar menjadi berbagai informasi baru. Bahkan, obrolan kita semalam dengan teman dekat kita misalnya, atau berbagai artikel koran yang telah kita baca barusan, hal itu juga bisa berubah menjadi kumpulan narasi rumit kehidupan di hari yang berbeda.

Uniknya, semua informasi itu mengalir ke otak kita yang terus tanpa henti setiap detiknya selama kita terjaga atau selama kita masih hidup. Bahkan, sejak pertama kali kita melihat dunia hingga saat ini, dan apalagi diusia penulis yang sudag lima puluh-tahun ini, berapa banyak informasi yang harus diterima dan harus diolah oleh otak kita dan termasuk oleh penulis sendiri. Namun, sebagian dari informasi yang masuk ke otak kita itu mungkin secara tak sadar terproses dengan sendirinya dan menghasilkan pemahaman dan pembelajaran sederhana. Misalnya, bagaimana kita ketika kecil mengenali benda-benda, memahami bahasa, memahami korelasi dan identitas sosial, dan seterusnya. Akhirnya, lama kelamaan, proses tidak sadar itu mengendapkan informasi menjadi sebuah pengalaman. Kemudian, pengalaman itu bisa menjadi kerangka baru untuk memproses informasi berikutnya. Kerangka baru itu kemudian menjadi karakter, cara pandang, mindset, paradigma, ideologi dan lain sebagainya. Hal itu sebagai sebuah proses yang menakjubkan memang. Karena, tanpa perlu kita sadari, maka kita sudah secara otomatis telah mengolah jutaan gigabyte informasi secara terus menerus melalui otak kita.

Bahkan dalam level kesadaran, kita juga butuh informasi untuk melakukan segala sesuatu, yakni dari mulai sekadar memberi penilaian, membuat keputusan, memilih, hingga merespon informasi baru. Apakah acara besok kita pergi menggunakan kendaraan motor atau mobil? Kemudian di perguruan tinggi manakah kita akan kuluah nanti? Hingga persoalan yang sangat sesederhana, yakni apa yang akan kita lakukan sebelum tidur? Apa yang harus kita lakukan di pagi hari? Semua keputusan yang kita ambil itu sangat bergantung pada informasi yang dimiliki dan telah tersuplay yang ada di otak kita itu. Tapi, saking banyaknya informasi di kepala kita (di otak kira) akhirnya membuat kita sulit untuk mengolah semuanya secara sadar. Karena, endapan informasi yang membentuk pengalaman atau mindset tadi, akhirnya menjadi pemain utama. Informasi yang ada di otak kita secara otomatis akan memberikan analisis awal kepada kita untuk diolah secara lebih sederhana dalam level kesadaran. Nah, pengolahan informasi dalam level kesadaran itulah yang secara umum dikenal sebagai proses berpikir.

II. Kesadaran Diri Atau Self Awareness

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, dan oleh karena itu sedemikian pentingnya untuk memahami diri atau yang disebut dengan “self-awareness”. Sedangkan “self-awareness” merupakan kesadaran akan karakter, perasaan dan keinginan diri. Sedangkan memahami kesadaran diri, akan membuat kita bisa mempelajari diri dan mengembangkan diri. Bahkan pada dasarnya, keberhasilan kita bisa tercapai jika kita benar-benar memfokuskan diri pada apa yang kita tuju, atau kita terkonsentratif pada tujuan yang kita cita-citakan. Nah.., dalam konteks untuk mencapai tujuan yang hakiki itu, maka kita tidak jarang juga malah teralihkan oleh hal-hal lain, yakni di luar tujuan yang hakiki atau tujuan kita yang sebenarnya, sehingga membuat kita menjadi tidak fokus terhadap apa yang kita tuju dan hendak kita capai. Oleh karena itu, betapa pentingnya sebuah kesadaran diri (self-awareness). Karena, dalam setiap langkah kita-pun memerlukan pemusatan perhatian.

Menurut John Hain di Pixabay, “Kesadaran diri merupakan prasyarat untuk pertumbuhan profesional dan pribadi”. Dengan merefleksikan pemicu, kebiasaan, dan titik buta diri, akhirnya dapat membantu kita untuk menyadari penyebab gangguan dan halangan yang akan menimpa kita. Lebih dari itu, menyadari akan adanya gangguan yang akan menimpakita, maka kita juga bisa mengubah pola pikir kita yang lebih baik dan lebih mendasar, agar kita bisa mengeliminir pada gangguan yang akan menghambat pada proses tujuan kita. Selain itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran diri merupakan kunci untuk menemukan kedamaian dalam hidup, membantu diri memfokuskan energi, emosi, dan perilaku. Jika kita ingin mendalami tentang kesadaran diri (self-awareness), hal itu dapat dimulai dengan peninjauan definisi, teknik pengukuran, efek dan fungsi perhatian diri, serta anteseden kesadaran diri.

Sedangkan konsep kunci yang berhubungan dengan diri sendiri (misalnya, minimal kesadaran reflektif) dapat dibedakan dari gagasan sentral kesadaran diri. Peninjauan itu biasanya bisa dilakukan dengan mengisi kuesioner, melakukan tugas implisit, sampai akhirnya ada pengakuan diri. Lebih dari itu, terdapat dua model kesadaran diri yaitu ; “neurokognitif” dan “sosioekologis”. Kedua model itu dapat dilihat dalam peran interaksi tatap muka, penilaian yang direfleksikan, cermin, media, ucapan batin, citra, pengetahuan otobiografi, dan struktur neurologis. Sementara menurut para ahli ilmu sysraf, bahwa kesadaran diri terletak pada otak kita, sehingga membuat ucapan batin kita akhirnya memiliki peranan penting dalam pemrosesan referensi diri.

III. Perdebatan Ilmiah Antara Para Filosof, Ilmuan Syaraf, Dan Para Fisikawan Tentang Kesadaran

Kesadaran adalah kemampuan memahami dan merespons lingkungan serta diri sendiri secara penuh dan reflektif. Meski begitu, hakikat dan sumber utama dari kesadaran tetap menjadi misteri yang terus diperdebatkan oleh para filsuf, ilmuwan, dan ahli syaraf. David Chalmers dalam bukunya berjudul “The Conscious Mind : In Search of a Fundamental Theory”, ia menyebut kesadaran sebagai “the hard problem.” Istilah tersebut merujuk pada pertanyaan mendasar : bagaimana dan mengapa pengalaman subjektif muncul dari proses fisik di otak? Pertanyaan itu juga mewakili salah satu tantangan terbesar dalam konteks untuk memahami hubungan antara pikiran, otak, dan kesadaran. Karena kesadaran melibatkan aspek pengalaman subyektif yang sulit dijelaskan oleh mekanisme biologis saja, dan akhirnya perdebatan diantara para pemikir terus berkembang. Perbedaan perspektif itu, akhirnya menciptakan dua kubu besar dalam ranah filsafat dan sains, yang masing-masing berusaha untuk menawarkan penjelasan yang komprehensif.

Di satu sisi, kubu “dualitas transendental”, mereka berpendapat bahwa pengalaman subyektif itu tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh mekanisme material semata. Bagi mereka, sebuah kesadaran memang melibatkan dimensi transendental yang melampaui proses fisik di otak, serta memerlukan penjelasan yang lebih mendalam yang melibatkan aspek non-fisik.

Pandangan itu menegaskan, bahwa realitas mental memiliki eksistensinya sendiri yang berperan penting dalam interaksi sebab-akibat dengan dunia fisik. Di sisi lain, kubu “materialisme reduksionis”, mereka berpendapa bahwa kesadaran sepenuhnya merupakan hasil dari aktivitas saraf. Mereka percaya bahwa seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui hukum-hukum material tanpa memerlukan entitas transendental (kebenaran Ilahiyah). Menurut pendekatan ini, bahwa pengalaman subjektif adalah hasil dari mekanisme evolusioner dan proses-proses biologis kompleks yang berlangsung dalam otak.

Perbedaan pendapat antara kedua kubu dan kedua perspektif sebagaimana telah dikemukakan diatas, tidak hanya memperluas cakrawala proses penelitian tentang kesadaran, tetapi juga membuka diskusi yang lebih luas lagi, yakni tentang hubungan antara pengalaman batin, tubuh, dan realitas yang mendasarinya. Perdebatan itu mendorong eksplorasi interdisipliner keilmuan, dengan harapan untuk bisa menemukan titik temu antara filsafat, neurologi, dan bahkan fisika dalam konteks untuk memahami hakikat kesadaran.

A. Percakapan Dua Pandangan

Karl Popper, yang tampak sebagai pendukung dualitas transendental, ia berpendapat bahwa dunia mental memiliki eksistensi independen (kebenaran Ilahiyah) yang dapat mempengaruhi dunia fisik melalui mekanisme sebab-akibat. Popper menyatakan, peristiwa mental itu nyata dan dapat mempengaruhi dunia fisik dengan cara yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh proses material semata. Menurutnya, pendekatan materialis yang hanya berfokus pada proses otak, nyatanya telah gagal untuk memahami kompleksitas interaksi antara aspek mental dan fisik dalam pengalaman manusia. Dari perspektif itu, Popper menekankan, bahwa kesadaran membutuhkan kerangka filosofis yang melampaui reduksi ilmiah, karena realitas mental memiliki karakteristik unik seperti intensionalitas dan subyektivitas. Oleh karena itu, ia mendorong pada proses pendekatan interdisipliner, yakni yang mengintegrasikan filsafat, sains, dan pengalaman manusia untuk menggali hakikat kesadaran secara menyeluruh. Namun, pandangan itu juga tidak diterima oleh semua pihak. Karena, Daniel Dennett, seorang pendukung materialisme reduksionis, ia berargumen bahwa kesadaran dapat sepenuhnya dipahami sebagai hasil dari proses biologis kompleks tanpa memerlukan entitas non-fisik (kebenaran Ilahiyah). Menurutnya, kesadaran hanyalah hasil kerja sirkuit syaraf dalam otak dan tidak memerlukan penjelasan metafisik tambahan. Ia melihat pengalaman subjektif sebagai konstruksi evolusioner yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui ilmu pengetahuan.

Sementara filsuf Jerman, yaitu Thomas Metzinger, ia memperkuat pandangan diatas dengan menyatakan, bahwa konsep diri dan pengalaman subyektif hanyalah representasi mental yang dibuat oleh otak untuk tujuan adaptasi. Metzinger menjelaskan, bahwa manusia adalah sistem yang tidak mampu mengenali diri sendiri sebagai sistem. Apa yang kita persepsikan sebagai diri bukanlah suatu benda, melainkan sebuah proses (The Ego Tunnel, New York: Basic Books, 2009). Dengan kata lain, kesadaran adalah alat evolusi yang memungkinkan manusia berinteraksi dengan dunia, tanpa memiliki eksistensi mandiri di luar proses otak. Pandangan itu juga diperkuat oleh Patricia Churchland yang menegaskan, bahwa kesadaran adalah hasil dari proses syaraf yang kompleks. Baginya, tidak ada kebutuhan akan entitas metafisik dan kesadaran teansendental (kebenaran zilahiysh) untuk menjelaskan kesadaran. Ia menyatakan, kesadaran muncul secara alami dari aktivitas neural yang kompleks (Neurophilosophy: Toward a Unified Science of the Mind-Brain, Cambridge: MIT Press, 1986). Pendekatan ini menolak keberadaan faktor non-fisik dalam kesadaran, dan menganggap bahwa seluruh fenomena mental dapat dijelaskan melalui studi neurofisiologi.

Sementara Francis Crick, yakni seorang perintis dalam penelitian kesadaran, ia menegaskan posisi yang tidak berbeda. Ia menyatakan, segala aspek kesadaran manusia, termasuk rasa identitas pribadi dan kehendak bebas, hanyalah hasil dari perilaku kompleks jaringan syaraf. Pandangan tersebut sekaligus mempertegas bahwa pengalaman manusia sepenuhnya bergantung pada proses biologis dalam otak. Meskipun demikian, kritik yang tajam terhadap pendekatan materialisme ini tetap kuat, bahkan ada kritik yang tajam juga dari John Searle, dan ia menyoroti bahwa kesadaran adalah fenomena biologis unik yang tidak dapat direduksi menjadi deskripsi fisik semata. Ia berargumen, bahwa kesadaran memiliki ontologi orang pertama yang tidak bisa sepenuhnya dipahami melalui perspektif ilmiah orang ketiga (The Rediscovery of the Mind, Cambridge: MIT Press, 1992). Perspektif tersebut menegaskan, bahwa pengalaman subyektif adalah realitas yang tidak dapat dihilangkan oleh analisis materialis. Sementara Chalmers dengan konsep “the hard problem of consciousness”, ia memperdalam kritiknya. Ia berpendapat, tidak ada penjelasan materialis yang memadai untuk memahami bagaimana proses fisik di otak dapat menghasilkan pengalaman subyektif (The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory, New York: Oxford University Press, 1996). Bagi Chalmers, sains dapat menjelaskan fungsi-fungsi kognitif, tetapi sains tetap saja masih gagal untuk menyentuh inti dari pengalaman subyektif itu sendiri. Roger Penrose menambahkan dimensi fisika fundamental ke dalam diskusi ini. Ia menolak gagasan bahwa kesadaran dapat dijelaskan hanya melalui proses komputasi di otak. Roger Penrose berpendapat, ada aspek kesadaran yang melampaui proses algoritmik dan mungkin melibatkan mekanisme kuantum yang belum dipahami sepenuhnya. Ia mendorong pendekatan baru, yakni yang menghubungkan otak dengan prinsip-prinsip dalam fisika kuantum itu.

Sementara dialektika antara kedua pandangan tersebut diatas, akhirnya mencerminkan salah satu perdebatan ilmiah dan filosofis terbesar dalam sejarah pemikiran manusia. Di satu sisi, materialisme reduksionis menegaskan bahwa semua fenomena dapat dijelaskan oleh hukum-hukum alam dan proses fisik semata, sementara di sisi lain, pandangan transendental menunjukkan bahwa pengalaman subyektif menyimpan rahasia yang mungkin tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui metode empiris. Kedua pendekatan tersebut diatas, telah menawarkan wawasan penting dalam upaya untuk memahami kesadaran secara menyeluruh, meski seringkali bertentangan.

B. Menyadari Kesadaran

Di luar dua pandangan yang dominan, yakni sebagaimana telah dikemukakan diatas, penulis melihat bahwa kesadaran sebagai inti eksistensi manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada fenomena fisik atau dualitas spiritual-fisik semata. Karena, kesadaran adalah proses dinamis, sebuah eksistensi yang dinamis, dimana pengamatan diri dan pemahaman langsung menjadi kunci untuk menyentuh realitas sejati yang melampaui konsep-konsep yang terbatas (kebenaran ilmiah).

Kesadaran sejati muncul ketika pikiran terbebas dari ilusi konsep-konsep tetap yang membatasi persepsi kita. Dengan menyadari keterhubungan segala sesuatu secara langsung, maka kita akan mampu melampaui dualitas antara subyek dan obyek serta mencapai wawasan yang lebih mendalam tentang hakikat keberadaan. Dalam perspektif seperti itu, bahwa kesadaran bukan sekadar fenomena biologis, melainkan sebuah kapasitas yang membuka akses ke dimensi transenden (kebenaran Ilahiah), yang menghadirkan keterbukaan terhadap kebenaran mutlak di luar batas-batas materialisme dan kebenaran ilmiah.

Namun demikian, upaya untuk memahami kesadaran tidak berhenti pada refleksi filosofis. Bahkan, proses penelitian dalam neurosains telah menunjukkan, aktivitas jaringan syaraf di otak kitavberperan besar dalam menciptakan kesadaran fungsional. Meski demikian, masih ada tantangan besar dalam konteks untuk menjelaskan bagaimana pengalaman subyektif itu muncul dari proses ini, yaitu suatu persoalan yang dalam filsafat dikenal sebagai “qualia.” Kajian mengenai hubungan antara otak dan kesadaran menunjukkan bahwa persepsi dan pengalaman diri kerapkali dipengaruhi oleh interaksi kompleks antar wilayah otak, hal itu mengindikasikan tentang adanya mekanisme non-linear dalam pengolahan informasi sadar.

Sementara pandangan yang lebih radikal, seperti yang diajukan oleh fisikawan Roger Penrose, ia menyatakan bahwa kesadaran mungkin melibatkan fenomena fisika kuantum yang belum sepenuhnya dipahami. Roger Penrose berpendapat, bahwa aspek-aspek kesadaran mungkin melampaui penjelasan materialis konvensional, hal itu menunjukkan bahwa perluasan pendekatan ilmiah dapat memberikan wawasan baru yang lebih mendalam. Fenomena “qualia,” suatu aspek pengalaman yang tidak dapat diukur secara obyektif. Untuk menguatkan argumen Roger Penrose sebagaimana diatas, akhirnya Chalmers menegaskan, “qualia” tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh deskripsi proses fisik di otak, dan ia menyebutnya sebagai bagian dari “the hard problem of consciousness.” Meski neurosains telah memetakan aktivitas syaraf yang berhubungan dengan persepsi dan emosi, namun sains belum mampu menjawab bagaimana aktivitas ini menciptakan pengalaman sadar seperti rasa sakit, rasa sedih, rasa marah maupun soal warna. Thomas Nagel, ia mendukung argumen Roger Penrose dengan pandangannya tentang pengalaman subyektif yang tak tereduksi. Dalam esainya yang terkenal, “What is it like to be a bat?”, Thomas Nagel menyatakan bahwa kesadaran hanya bisa dipahami dari sudut pandang internal organisme yang mengalaminya. Ia mengungkapkan, pengalaman subyektif memiliki dimensi khusus yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui deskripsi proses otak secara obyektif.

Dengan latar belakang perbedaan pendekatan tersebut, menjadi jelas bahwa untuk memahami kesadaran memang memerlukan dialog yang melibatkan filsafat, ilmu saraf, dan ilmuan fisika. Setiap disiplin menawarkan wawasan yang unik, dan pendekatan interdisipliner juga membuka peluang untuk menggali lebih dalam lagi tentang misteri pengalaman sadar. Sementara menyadari kesadaran adalah perjalanan ke dalam diri, di mana batas antara subyek dan obyek memudar, mengungkapkan keterhubungan mendasar dengan seluruh eksistensi. Bahkan, dalam momen keheningan dan pengamatan yang jernih, kita juga diundang untuk menyadari sepenuhnya bahwa kesadaran bukan sekadar produk mekanis, melainkan jendela untuk menuju hakikat eksistensi yang lebih dalam dan tak terkatakan, atau menyrut istilah penulis menyebutnya adalah kebenarah yang bersifat “transendental-Ilahiyah” atau kebenaran yang bersifat teologis.

C. Penghormatan Atas Sains

Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengajak kita semua, yakni betapa pentingnya untuk melihat dan menghormati temuan sains, dan kita juga harus tetap melihat kebenaran yang bersifat teologis. Para ilmuwan telah menemukan bagaimana otak beroperasi dalam menciptakan dan memelihara kesadaran manusia melalui mekanisme kompleks jaringan syaraf, aktivitas listrik, serta proses kimiawi yang saling berinteraksi. Temuan itu telah menunjukkan tentang pengalaman kesadaran yang melibatkan fungsi-fungsi vital seperti perhatian, ingatan, dan persepsi, yang memainkan peran kunci dalam cara kita memahami dan merespons dunia di sekitar kita. Penemuan-penemuan itu tidak hanya menegaskan pentingnya mekanisme biologis dalam kesadaran, tetapi juga membuka jalan penelitian lebih lanjut. Karena, neurosains telah memberikan berbagai wawasan menarik, yaitu terkait bagaimana otak manusia mengatur kesadaran dalam berbagai konteksnya.

Sebagai contoh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fungsi konektivitas otak selama proses persepsi sosial memiliki peran penting dalam membangun kesadaran akan diri dan lingkungan. Penemuan itu menyoroti keterhubungan antara aspek sosial dan neurologis dalam membentuk kesadaran.
Sementara penelitian lain mengungkapkan, pemrosesan visual terjadi lebih cepat untuk lokasi daripada identitas obyek. Hal itu menunjukkan bahwa proses sadar dan bawah sadar berinteraksi secara dinamis dalam pengalaman visual. Dengan kata lain, kesadaran tidak berdiri sendiri, melainkan beroperasi melalui koordinasi proses neurologis yang kompleks. Selain itu, studi tentang aktivitas gelombang otak menemukan bahwa perubahan syaraf yang terkait dengan bahasa dan angka dapat memicu kesadaran terhadap konsep-konsep yang diproses.

Temuan itu telah memberikan wawasan lebih lanjut tentang bagaimana kesadaran berkembang melalui pengalaman simbolik dan abstrak. Secara keseluruhan temuan-temuan tersebut telah menunjukkan, bahwa kesadaran merupakan hasil dari proses biologis yang saling terhubung secara rumit. Penelitian tersebut memberikan bukti empiris yang memperkuat upaya memahami kesadaran dari perspektif ilmiah. Namun, pemahaman ini juga tetap saja masih menyisakan pertanyaan yang belum terpecahkan mengenai bagaimana aktivitas otak menciptakan pengalaman subyektif yang kaya dan kompleks. Namun, wawasan dari neurosains ini telah membuka dimensi baru dalam konteks untuk memahami keterkaitan antara aktivitas biologis dan pengalaman mental. Hal itu mengingatkan kita akan keajaiban luar biasa dari otak manusia, yang mampu menciptakan kesadaran sebagai sebuah fenomena yang menyatukan aspek fisik dan pengalaman subyektif secara harmonis. Meski demikian, temuan-temuan itu juga memperlihatkan bahwa sains masih memiliki keterbatasan tertentu dalam konteks untuk menjelaskan aspek-aspek terdalam dari pengalaman manusia. Realitas tersebut, sesungguhnya mengajak kita semua untuk tidak mengabaikan sains sebagai sarana penting dalam memahami mekanisme kesadaran. Namun, pada saat yang sama, bahwa keterbatasan sains juga mendorong kita untuk menyadari bahwa dimensi pengalaman subyektif dan makna eksistensial tetap saja membutuhkan pendekatan filosofis yang lebih holistik. Dengan kata lain, bahwa sinergitas antara sains dan filsafat menjadi penting untuk menjembatani pengetahuan empiris dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam tentang tujuan, nilai, dan identitas manusia.

D. Penutup

Kesadaran, dengan segala kompleksitasnya, tidak hanya terbatas pada proses biologis, tetapi juga mencakup bagaimana kita memahami diri dan dunia dalam konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, perpaduan yang ramah antara sains, filsafat, dan bahkan spiritualitas (kebenaran Ilahiyah) merupakan kunci dalam konteks untuk menggali hakikat kesadaran secara menyeluruh dan mendalam. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk bisa menciptakan pemahaman yang terus seimbang, yakni tentang eksistensi manusia, yang tidak hanya berdasarkan fakta ilmiah, tetapi juga melibatkan pencarian makna dan kebenaran yang lebih mendalam (kebenaran Ilahiyah).

Sementara kesadaran, sebagai inti dari pengalaman manusia, membawa kita pada pengakuan bahwa ada banyak lapisan realitas yang saling berkaitan. Yakni, sains dapat membantu kita (manusia) untuk mengungkap mekanisme kerja otak, tetapi pengalaman kesadaran itu sendiri mengandung dimensi yang lebih dalam daripada sekadar proses biologis. Bahkan, kita dihadapkan pada keterbatasan deskripsi obyektif ketika berhadapan dengan pengalaman subjektif. Maka, disinilah filsafat berperan penting untuk memberikan wawasan mengenai makna yang melampaui sekedar penjelasan material semata. Namun, filsafat juga tidak boleh berjalan dalam kekosongan, sebab ia juga perlu menyelaraskan diri dengan fakta-fakta yang bersifat empiris dan sekaligus diperoleh dari sains. Bahkan, integrasi antara sains dan filsafat, akan mengajarkan kita tentang pentingnya keutuhan pandangan dunia dalam konteks memahami eksistensi manusia. Pengalaman kesadaran, baik dalam refleksi maupun dalam tindakan sehari-hari, hal itu menunjukkan, bahwa manusia tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga kebenaran yang lebih dalam. Selain itu, realitas moral dan spiritual dalam diri manusia mengarah pada keharusan untuk menyelaraskan semua ranah kehidupan dengan kebenaran yang transenden (kebenaran Ilahiyah). Dalam keterhubungan inilah, maka kesadaran akan menjadi pintu menuju perenungan tentang tujuan akhir kehidupan manusia di alam jagat raya ini. Akhirnya, kesadaran mengundang kita untuk menghormati setiap ranah kehidupan sesuai kedudukannya masing-masing. Yakni, sains, filsafat, dan spiritualitas yang nota bene masing-masing memiliki perannya dalam konteks untuk mengungkap misteri kesadaran.

Dengan memelihara keterbukaan terhadap setiap pendekatan tersebut diatas, maka kita diajak untuk melampaui sekedar analisis mekanis menuju pengertian yang penuh tentang makna hidup dan keberadaan. Dan hal itu merupakan panggilan untuk hidup secara sadar dan terbuka bagi setiap kebenaran, yakni tentang adanya kebenaran yang bersifat relatifistik dan adanya kebenaran yang bersifat mutlak (kebenaran Ilahiyah).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top